Tugumalang.id – Penerapan Bio Solar B50 sebagai wujud transisi energi terbarukan di Indonesia membawa sejumlah tantangan teknis yang mengancam performa mesin diesel. Mulai penyumbatan sistem injeksi hingga kebocoran komponen seal mesin lawas.
Merespon potensi kerusakan tersebut, Dosen Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Ir. Yepy Komaril Sofi’i, S.T., M.T., memberi tinjauan kritis serta langkah antisipasi mutlak agar pemilik kendaraan dapat menjaga keawetan mesin di tengah perubahan regulasi bahan bakar.
Baca Juga: Hibah Riset Terbanyak, UMM Sabet Titel Kampus Unggulan LLDIKTI VII 2026
Yepy sapaan akrabnya menjelaskan tantangan teknis mendasar dari B50 adalah tingginya tingkat viskositas (kekentalan), yang menuntut kerja injektor menjadi lebih berat karena butuh penyesuaian tekanan.

Lebih jauh, ia memaparkan bahwa B50 memiliki sifat pelarut sangat kuat yang mampu mengikis kerak kotoran lama di dasar tangki, yang kemudian terbawa dan berisiko fatal menyumbat sistem injeksi pada mesin.
“Sifat pelarut pada B50 akan melunturkan endapan kotoran di tangki yang berpotensi memicu sumbatan, sehingga frekuensi penggantian filter solar mutlak harus dipercepat dari jadwal perawatan normal guna mencegah keausan komponen,” tegasnya.
Tantangan berikutnya bersumber dari karakteristik B50 yang higroskopis atau sangat rentan menyerap air. Kandungan air yang mengendap tidak hanya memicu korosi pada baja, tetapi juga menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan jamur pembentuk lumpur di saluran bahan bakar.
Baca Juga: Akademisi UMM Nilai Dua Kandidat Ini Paling Layak Jadi Sekda Kota Batu
Secara struktural, ia juga mengingatkan bahwa tingginya kadar biodiesel ini sangat berisiko bagi mesin diesel lawas karena memicu reaksi kimia yang merusak komponen berbahan karet.
“Seal dan jalur bahan bakar yang masih menggunakan karet biasa akan cepat melar saat terkena B50, sehingga sangat disarankan segera melakukan pembaruan komponen menggunakan material berbahan sintetik yang lebih tahan banting,” urainya.
Menghadapi risiko tersebut, pemilik kendaraan wajib melakukan perawatan mandiri secara disiplin, seperti mengecek filter berkala dan rutin menguras genangan air di tangki.
Di balik kewajiban penyesuaian teknis yang ketat ini, Yepy meyakini bahwa pemerataan B50 akan berdampak signifikan terhadap perbaikan kualitas udara dan kemandirian energi nasional.
“Implementasi ini sangat strategis untuk menekan ketergantungan kita pada energi fosil, namun masyarakat dan industri otomotif harus siap beradaptasi dengan pola perawatan mesin yang lebih disiplin demi menjaga performa jangka panjang,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


























