Malang, Tugumalang.id – Stadion Kanjuruhan, yang terletak di Kepanjen, Kabupaten Malang, kembali menjadi sorotan publik sepak bola nasional. Setelah vakum sejak tragedi memilukan pada 1 Oktober 2022, stadion ini bersiap kembali menggelar pertandingan Liga 1.
Kembalinya aktivitas sepak bola di Stadion Kanjuruhan ditandai dengan laga antara Arema FC vs Persik Kediri pada pekan ke-32 BRI Liga 1 2024/2025, Minggu, 11 Mei 2025. Ini menjadi pertandingan resmi pertama setelah stadion direnovasi total pasca tragedi tersebut.
Stadion yang mulai dibangun pada 1997 dan diresmikan Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri, pada 9 Juni 2004 ini kini tampil dengan wajah baru. Sejumlah fasilitas ditambahkan untuk meningkatkan standar keselamatan dan kenyamanan, membuat stadion kebanggaan warga Malang ini kembali siap menyambut ribuan Aremania.
Berikut sejumlah pembaruan penting di Stadion Kanjuruhan:
1. Renovasi Total dan Penggunaan Single Seat

Sebagai tindak lanjut dari Tragedi Kanjuruhan yang menelan 135 korban jiwa, pemerintah melalui Kementerian PUPR melakukan renovasi total. Fokus utama renovasi adalah peningkatan standar keamanan sesuai regulasi FIFA.
Baca juga: Setelah 2 Tahun Mengembara, Arema FC Kembali ke Stadion Kanjuruhan
Salah satu perubahan signifikan adalah penggunaan single seat, menggantikan tribun beton lama. Konsekuensinya, kapasitas penonton berkurang dari sekitar 35.000 menjadi 21.603 kursi. Jalur evakuasi dan pintu keluar juga diperluas dan disesuaikan dengan standar internasional, untuk menjamin keselamatan penonton.
Tak hanya itu, stadion kini dilengkapi fasilitas modern seperti ruang medis, command center, dan sistem penerangan baru, serta dipantau melalui jaringan CCTV modern.
2. Rumput Berstandar FIFA

Kualitas lapangan juga menjadi prioritas. Kini, Stadion Kanjuruhan menggunakan rumput Zoysia Matrella, yang memiliki tingkat kerapatan hingga 95 persen dan memenuhi standar FIFA.
Untuk menjaga kondisi rumput tetap prima, telah dipasang sistem penyiraman otomatis. Kehadiran rumput berkualitas ini diharapkan mampu mendukung permainan kelas atas dan menjadikan Stadion Kanjuruhan sejajar dengan stadion internasional lainnya di Indonesia.
Baca juga:
3. Museum Tragedi Kanjuruhan

Sebagai bentuk penghormatan dan pengingat sejarah kelam, sebuah Museum Tragedi Kanjuruhan dibangun di Gate 13, sisi selatan stadion. Museum ini menyimpan nama-nama korban, foto, barang-barang pribadi, serta pintu lama yang menjadi simbol tragedi.
Di luar stadion, juga dibangun monumen khusus sebagai bentuk refleksi dan pembelajaran agar peristiwa serupa tak terulang kembali.
4. Penerangan Sesuai Standar Internasional
Stadion Kanjuruhan kini dilengkapi sistem penerangan dengan kekuatan 320 kilowatt dan intensitas cahaya sebesar 1.200 lux, sesuai standar FIFA untuk pertandingan malam hari.
Dengan peningkatan ini, Stadion Kanjuruhan setara dengan stadion lain di Jawa Timur yang sudah berstandar FIFA, seperti Stadion Gelora Bung Tomo (Surabaya), Stadion Gelora Delta Sidoarjo, dan lainnya.
5. Dibuka dengan Laga Amal Arema FC vs Arema All Star
Sebagai uji coba dan pembuka, Stadion Kanjuruhan kembali menggelar pertandingan perdana bertajuk charity game antara Arema FC vs Arema All Star, Kamis, 8 Mei 2025. Pertandingan ini menjadi momen emosional, diawali dengan doa bersama untuk para korban Tragedi Kanjuruhan.
Hasil akhir menunjukkan kemenangan telak Arema FC 7-1. Selain menjadi ajang nostalgia, laga ini juga menjadi sarana evaluasi kesiapan stadion sebelum pertandingan resmi Liga 1 berlangsung.
Kesimpulan
Kembalinya Stadion Kanjuruhan sebagai arena pertandingan bukan sekadar seremoni, tetapi juga simbol transformasi dan harapan baru. Dengan infrastruktur yang lebih aman dan modern, Arema FC dan Aremania kini bisa kembali menyatu di kandang kebanggaan mereka – dengan semangat baru dan komitmen kuat terhadap keselamatan serta kemanusiaan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko





























