Malang, Tugumalang.id – Pembelajaran interaktif penuh keseruan mewarnai kegiatan Kemah Ceria PAUDIT Insan Permata Malang pada Kamis (1/10/2026). Dalam kegiatan itu, para detektif cilik belajar mandiri lewat petualangan menjelajah lingkungan hingga berkemah.
Keceriaan ratusan siswa mewarnai kegiatan yang digelar setahun sekali tersebut. Tahun ini, program unggulan itu dikemas dalam Kemah Ceria bertajuk “Ekspedisi Detektif Cilik Insan Permata” yang berlangsung selama dua hari, 1-2 Oktober 2026.
Di hari pertama, para detektif cilik dari jenjang KB (Kelompok Bermain) dan TK A diajak berpetualang menjelajah lingkungan. Anak-anak diberikan tantangan melintasi rute rintangan zig-zag sebelum memasuki goa buatan. Setelahnya, mereka menyusuri lingkungan untuk menemukan tiga hewan.

Tak berhenti di situ, para detektif cilik juga harus melintasi rintangan yang lebih menantang. Yakni menaklukkan rute bebatuan dan jembatan kayu. Selanjutnya, mereka mencari dua daun tanaman dan merangkainya dalam bingkai daur ulang.
Menjelajah lingkungan dan melatih kemandirian
Keseruan kemudian berlanjut pada rute tapak kaki dan tangan. Anak-anak harus melangkah sesuai gambar jejak kaki atau tangan di depannya. Ada pula tantangan memindahkan bola dalam wadah air hingga bekerja sama mengumpulkan tanaman dalam wadah.

Kepala PAUDIT Insan Permata Malang mengatakan, setidaknya ada 181 siswa yang mengikuti rangkaian kegiatan Kemah Ceria tersebut. Mereka berasal dari jenjang Playgroup atau KB hingga TK A dan TK B.
Seluruh rangkaian kegiatan, menurutnya, dikemas untuk menumbuhkan karakter kemandirian anak, tanggung jawab, dan kerja sama.
“Jadi ini juga untuk melatih anak berani mencoba, cinta belajar, pantang menyerah dan berakhlak mulia,” ucapnya.
Lewat berbagai aktivitas eksplorasi lingkungan, ratusan siswa diharapkan mampu mencintai alam sekaligus mensyukuri ciptaan Allah SWT.
Menariknya, anak-anak juga diajari etika makan dan minum di sela-sela kegiatan. Yakni duduk dan berdoa sebelum makan atau minum. “Tentu ini agar mereka berakhlak mulia saat mengimplementasikan di kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Selain berpetualang, anak-anak jenjang TK B juga berkemah dan menginap tanpa didampingi orang tua. Bersama 30 guru, anak-anak dilatih merawat diri, seperti mandi, ganti baju, makan, beribadah hingga menjaga barang-barang sendiri.
Memecahkan misi lewat permainan

Para detektif cilik harus memecahkan pesan yang ditemukan melalui puzzle yang didapat dari masing-masing pos secara berkelompok. Ada pos “Aku Berani”, di mana anak harus menebak benda dalam kotak misteri.
Kemudian ada pos muroja’ah surat di juz 30, pos bisik berantai, pos estafet bola pimpong, dan pos melanjutkan gambar. Dari masing-masing pos, para detektif cilik mendapat satu keping puzzle.
Di pos terakhir, anak-anak menyusun puzzle tersebut yang berisi kalimat afirmasi karakter yang diharapkan dari seorang detektif. Seperti Aku Anak Berani, Aku Anak Disiplin hingga Aku Anak Bertanggungjawab.
Setelah semua misi selesai, anak-anak diajak beraktivitas dengan api unggun. Keesokan harinya, setelah salat Subuh, minum teh dan makan biskuit, mereka juga diajak berjalan-jalan mengenal lingkungan sekitar.
Setelah itu, para ustadzah mengajak anak-anak merefleksikan semua kegiatan dari awal hingga akhir. Mulai dari hal yang membuat mereka suka atau tidak suka, pengalaman menarik, nilai-nilai yang ditemukan ketika menyelesaikan misi hingga rencana mereka setelah rangkaian Kemah Ceria selesai.

“Kami juga menerapkan pendidikan anti korupsi atau nilai-nilai integritas. Salah satunya adalah tanggung jawab terhadap barang miliknya, agar nanti ketika dewasa mereka tahu ini miliknya atau bukan. Ini selaras dengan konsep amanah, menjaga barang miliknya ataupun saat menjalankan tugas,” jelasnya.
Melalui berbagai rangkaian kegiatan Kemah Ceria, kemampuan motorik dan sensorik anak diasah. Keseruan rangkaian kegiatan itu juga dipastikan dapat mengurangi ketergantungan anak terhadap gadget.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko
















