Malang, Tugumalang.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang mencatat ada ratusan SD negeri di Kota Malang yang kekurangan siswa atau menyisakan pagu. Sementara ada salah satu sekolah swasta di Kota Malang yang mencatatkan, sudah ada sejumlah calon siswa yang orang tuanya sudah indent untuk pendaftaran tahun depan.
Kabid Pembinaan Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang, Dodik Teguh Pribadi menjelaskan, daftar sejumlah sekolah yang kekurangan siswa merupakan pemberitahuan kepada masyarakat bahwa sekolah sekolah tersebut masih menyisakan pagu setelah proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berlangsung.
Baca Juga: Mengintip Seragam Batik Khas SD Negeri Sengguruh di Malang Hasil Kreasi Siswa Sendiri
“Intinya, di PPDB jika pagunya belum terpenuhi maka sekolah bisa melakukan PPDB ofline sampai pagunya terpenuhi,” ucapnya.
Diketahui, ada 110 SD negeri dari total 195 SD negeri di Kota Malang masih menyisakan pagu atau kekurangan siswa. Dodik menilai hal ini lantaran calon siswa yang KK-nya luar kota tak bisa mendaftar di PPDB online. Warga luar kota diperkenankan mendaftar setelah PPDB online selesai.
“Artinya, siswa KK Kota Malang sudah diterima duluan. Nah sekarang tinggal berlomba aja lewat offline,” ujarnya.
Di sisi lain, dia juga mengatakan bahwa jumlah SD negeri lebih banyak dibandingkan jumlah pendaftar. Dia juga menilai program Keluarga Berencana (KB) berhasil.
“Jadi jumlah SD negeri cukup banyak dan KB berhasil. Jumlah anak kecil merosot sehingga otomatis siswanya gak ada,” ucapnya.
Soal SD Negeri Jatimulyo 4 yang hanya mendapat 1 siswa menurutnya karena sekolah ini berdekatan dengan SD Negeri Jatimulyo 1, 2 dan 3. Sedangkan jumlah penduduk yang memiliki anak yang mendaftar sekolah dasar sedikit.
Baca Juga: Ratusan Gedung SDN Rusak, Pemkab Malang Ajukan Dana Alokasi Khusus ke Pusat
Untuk itu, pihaknya membantah jika kualitas pendidikan di SD negeri yang ada di Kota Malang menurun atau kalah dengan SD swasta. Dikatakan, saat ini sudah tidak ada sekolah favorit karena sudah ada program Merdeka Belajar.
Dia juga menilai bahwa sekolah sekolah swasta yang sudah memenuhi pagu bahkan sudah ada yang calon siswa inden untuk tahun depan akibat orang tua sendiri yang mengganggap adanya sekolah favorit atau tidak favorit.
“Jadi menurut kami, masyarakat sendiri yang mengganggap ini sekolah favorit atau tidak,” kata dia.
“Intinya sekarang tidak ada sekolah favorit, semua sekolah sama. Jadi jangan pilih pilih sekolah, pilihlah yang terdekat,” imbuhnya.
Sementara itu, Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Malang (UM), Prof I Wayan Dasna memandang bahwa banyaknya SD negeri di Kota Malang yang kekurangan siswa kemungkinan memang karena sedikitnya anak usia SD di sekitar sekolah. Terlebih, saat ini ada sistem zonasi.
Jika hal ini memang benar adanya, dia menyarankan agar sejumlah sekolah yang terdapat dalam satu kelurahan untuk digabungkan, terutama pada wilayah yang minim anak usai sekolah.
Namun jika ada banyak anak usia sekolah tetapi orang tuanya lebih memilih sekolah swasta dari pada sekolah negeri terdekat maka kualitas pendidikan di SD negeri perlu dipertanyakan.
Dia menilai bahwa masyarakat saat ini juga sudah kritis dan mampu menilai mana sekolah yang dinilai terbaik untuk anaknya. Untuk itu, dia juga tak memungkiri sejumlah sekolah swasta justru menjadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya dibanding di sekolah negeri.
“Tentu orang tua ingin anaknya mendapat pendidikan yang baik, ingin yang kuat pendidikan agamanya atau sekolah SD yang lebih baik,” paparnya.
“SD itu sangat penting untuk mengembangkan anak di masa mendatang. Kalau SD-nya bagus, harapannya SMP dan SMA-nya juga bagus dan lebih mudah,” imbuhnya.
Pada kondisi ini, dia juga mendorong agar SD negeri di Kota Malang perlu meningkatkan kualitasnya. Sebab, saat ini masyarakat semakin kritis dan sadar bahwa kualitas pendidikan sangat penting bagi anak anaknya.
“Jika ada wilayah yang banyak anak usia sekolah dan memilih sekolah swasta maka pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap kualitas pendidikan di sekolah negeri. Tapi pemrintah juga harus punya data akurat terkait permasalahan yang ada,” tuturnya.
Terlepas dari persoalan minimnya siswa yang mendaftar di SD negeri, Wayan menilai penguatan kualitas pendidikan harus benar benar dipastikan untuk menciptakan generasi emas yang terdidik. Termasuk menghadirkan sekolah yang inovatif dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman untuk menatap masa depan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
editor: jatmiko































