MALANG, Tugumalang.id – Dalam rangka meningkatkan kepdulian masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan mendukung tumbuh kembang anak usia dini secara terpadu. Mahasiswa dan Tim Dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) melaksanakan kegiatan pengabdian secara terpadu.
Kegiatan dilaksanakan di Desa Sumberpasir, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Adapun tujuan dari rangkaian kegiatan pengabdian ini menyasar pada dua lingkungan penting dalam kehidupan masyarakat, yakni keluarga dan pendidikan anak usia dini.
Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Tim Unikama meliputi penguatan peran PKK dalam pengelolaan sampah organik, edukasi pemilahan sampah bagi anak usia dini, serta pengembangan motorik kasar melalui senam irama.
Baca Juga: Yudisium FEB Unikama, 119 Mahasiswa Resmi Lulus
Ketiga kegiatan ini memiliki fokus yang berbeda, tetapi saling berkaitan dalam membangun kebiasaan positif sejak dari lingkungan keluarga dan sekolah.

Untuk program penguatan peran PKK dilaksanakan di TK Muslimat NU 29 Al Falah yang diikuti oleh seluruh anggota PKK Desa Sumber Pasir. Lewat tema “Penguatan Civil Society PKK dalam Pengolahan Sampah Organik”, Unikama menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai penerima informasi, tetapi sebagai aktor utama dalam menciptakan perubahan di lingkungan sekitar.
Peran PPK sebagai Penggerak Budaya Peduli Lingkungan
Dosen Unikama, Dr. Siti Muntomimah, M.Pd menjelaskan tentang pentingnya peran PKK dalam menanamkan perilaku memilah sampah sejak anak usia dini. Menurutnya pendidikan lingkungan tidak cukup diberikan melalui teori, perlu didukung dengan praktik baik sebab anak-anak belajar melalui apa yang mereka lihat dan lakukan bersama orang-orang terdekat.
“Ketika anak melihat orang tua membuang dan memilah sampah dengan benar, kebiasaan tersebut akan lebih mudah ditiru dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari,” ujar dosen yang juga menjabat sebagai Kepala Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Unikama tersebut.
Pesan itu menunjukkan bahwa keluarga memiliki peran fundamental dalam membentuk karakter peduli lingkungan. Kebiasaan sederhana seperti membedakan sampah organik dan anorganik, kemudian menempatkannya pada wadah yang sesuai, dapat menjadi pembelajaran praktis yang dilakukan setiap hari.
Pernyataan tersebut turut dibenarkan oleh Kepala Desa Sumber Pasir, Muhdlor yang menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Menurutnya, PKK memiliki posisi strategis karena berhubungan langsung dengan keluarga dan kehidupan sosial masyarakat sehari-hari.
Baca Juga: Unikama Dorong Perajin Mebel Randusari Tembus Pasar Ekspor
Sementara itu, Engelbertus Kukuh Widijatmoko, SH., M.Pd. mengajak peserta melihat PKK dalam perspektif civil society. Ia menjelaskan bahwa kekuatan masyarakat tidak hanya dibangun melalui institusi formal, tetapi juga melalui ruang-ruang sosial seperti PKK, kelompok pengajian, arisan, komunitas, dan berbagai perkumpulan warga.
Dalam konteks pengelolaan sampah, ruang sosial tersebut dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran kolektif. Sampah organik yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat dikelola menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat, bahkan memiliki potensi nilai ekonomi.

Dengan demikian, pengelolaan sampah tidak berhenti pada persoalan kebersihan. Ia berkembang menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat yang dapat memperkuat kepedulian lingkungan sekaligus membuka peluang produktif bagi keluarga.
Memulai Edukasi Sampah dari Dunia Anak
Untuk mendukung kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini. Tim Unikama menggelar kegiatan edukasi pemilahan sampah bagi anak-anak di TK Muslimat NU Desa Sumber Pasir.
Mengusung tema “Edukasi Pemilahan Sampah pada Anak Usia Dini melalui Pendekatan Bermain Edukatif”. Kegiatan ini dikemas dengan metode yang sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Materi yang disampaikan Dr. Sarah dan Dr. Heni tidak diberikan dalam bentuk pembelajaran yang kaku. Anak-anak diajak belajar melalui bermain, bernyanyi, bergerak, berinteraksi, dan melakukan aktivitas secara langsung.
Pendekatan tersebut penting karena anak usia dini cenderung lebih mudah memahami suatu konsep ketika mereka terlibat secara aktif. Sampah pun diperkenalkan bukan sebagai persoalan yang rumit, melainkan melalui kebiasaan sederhana, mulai dari mengenali, memilah, dan menempatkan sampah sesuai jenisnya.
Kegiatan berlangsung interaktif. Anak-anak terlihat merespons pertanyaan, mengikuti aktivitas, dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
“Melalui pengalaman tersebut, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai sampah, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, kepedulian, dan kebersihan lingkungan,” terang Dr. Sarah.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pendidikan lingkungan dan pendidikan karakter dapat berjalan beriringan. Ketika kebiasaan menjaga lingkungan diperkenalkan sejak dini, anak memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadikannya sebagai bagian dari perilaku sehari-hari.
Lewat Senam Irama: Anak Belajar Melalui Gerak dan Kegembiraan
Tidak hanya berfokus pada pendidikan lingkungan, Tim Unikama juga memperhatikan aspek perkembangan fisik anak.
Melalui kegiatan Pengembangan Motorik Kasar Anak Usia Dini melalui Senam Irama, anak-anak di wilayah Desa Sumberpasir diajak belajar menggunakan gerak tubuh sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Dalam kegiatan tersebut, Dhirgan Grudhowaringin, M.Pd. menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut, dengan dukungan Engelbertus Kukuh Widijatmoko, SH., M.Pd. Senam irama dipilih karena mampu menggabungkan aktivitas fisik dengan unsur irama, konsentrasi, koordinasi, dan interaksi sosial.
Anak-anak mengikuti gerakan secara bertahap sesuai instruksi. Mereka belajar menjaga keseimbangan, mengkoordinasikan gerakan tangan dan kaki, mengikuti irama, serta menyesuaikan gerakan dengan teman-temannya.
“Aktivitas tersebut sekaligus memberikan ruang bagi anak untuk menyalurkan energi secara positif. Senam tidak sekadar ditempatkan sebagai kegiatan olahraga, tetapi menjadi media pembelajaran yang memungkinkan anak memperoleh pengalaman secara langsung melalui gerak dan permainan,” jelas Dhirgan.
Melalui Satu Rangkaian Kegiatan yang Menghasilkan Banyak Dampak
Dari tiga kegiatan yang dilaksanakan oleh Tim Unikama tersebut menunjukkan satu benang merah, yakni pendidikan yang bermakna tidak selalu berlangsung di dalam ruang kelas dan tidak selalu disampaikan melalui metode konvensional.
Penguatan PKK berbicara tentang bagaimana masyarakat dan keluarga dapat menjadi penggerak budaya peduli lingkungan.
Edukasi pemilahan sampah mengajarkan anak membangun kebiasaan bertanggung jawab sejak dini. Sementara senam irama memberikan pengalaman belajar melalui aktivitas fisik yang mendukung perkembangan motorik dan sosial anak.
Sinergi antara masyarakat, keluarga, sekolah, narasumber, dan tim pengabdian menjadi fondasi penting dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual. Anak memperoleh pengalaman dari sekolah, orang tua dapat menjadi teladan di rumah, sementara masyarakat memiliki ruang untuk memperkuat kebiasaan tersebut secara kolektif.
Rangkaian kegiatan di Desa Sumber Pasir pada akhirnya memperlihatkan bahwa perubahan sosial dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Dimulai dari memilah sampah, mengajarkan anak menjaga kebersihan, dan mengajak mereka bergerak aktif merupakan tindakan kecil yang memiliki dampak besar apabila dilakukan secara konsisten dan bersama-sama.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut, Unikama tidak hanya hadir membawa pengetahuan, tetapi juga mendorong terbangunnya praktik pendidikan dan pemberdayaan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Dari lingkungan keluarga hingga sekolah, dari pengelolaan sampah hingga aktivitas fisik anak, seluruhnya menjadi bagian dari upaya menciptakan masyarakat yang lebih sehat, peduli, aktif, dan berdaya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A





























