Tugumalang.id – PT Pegadaian Area Malang kembali menunjukkan penghormatannya kepada pahlawan lingkungan. Jelang Lebaran 2026, mereka berbagi bingkisan Idul Fitri 1447 Hijriah pada Bank Sampah Bumi Hijau di Blitar pada Jumat (13/3/2026).
Pemberian bingkisan tersebut menjadi bentuk kepedulian Pegadaian untuk memberikan motivasi kepada para pahlawan lingkungan ini untuk terus menjadi garda terdepan penanganan sampah.
Sejauh ini, Bank Sampah Bumi Hijau telah menunjukkan konsistensinya dalam konversi pilah sampah menjadi saldo tabungan emas.
Baca Juga: Ramai Cetak Emas, Pegadaian Tegaskan Jaminan Emas Fisik 1:1
Kepala Pimpinan Pegadaian Cabang Blitar Nanang Siswanto menerangkan jika kegiatan ini jadi bagian dari program pembinaan berkelanjutan yang telah terjalin sejak tahun 2018. Kerja sama ini bukan sekadar upaya pembersihan lingkungan, melainkan juga misi pemberdayaan ekonomi masyarakat.

”Ini menjadi bentuk kepedulian kami untuk selalu dan terus menyadarkan masyarakat bahwa memilah sampah tidak hanya membuat lingkungan sehat, tapi bisa jadi duit, bisa jadi investasi masa depan berupa emas,” terang Nanang, mewakili Deputi Bisnis Pegadaian Area Malang, Marselino J Manginsihi.
Nanang mengatakan kemudahan menabung emas di Pegadaian menjadi pilihan investasi yang paling menguntungkan. Hanya dengan saldo Rp10.000, warga sudah bisa memiliki gramasi emas di buku tabungan mereka lewat sampah yang mereka pilah di rumah.
Baca Juga: Agen Pegadaian dan Upaya Mencerdaskan Desa Melalui Edukasi Investasi Emas
”Kami berharap kebiasaan aktivitas masyarakat dalam memilah sampah harian ini tanpa sadar akan membuahkan aset investasi yang terus membesar seiring waktu,” harapnya.
Sementara, Ketua Bank Sampah Bumi Hijau Blitar, Hendrato menuturkan apresiasi atas kepedulian PT Pegadaian. Ia menceritakan perjalanan panjang kelompoknya yang berdiri sejak 2013. Kehadiran kolaborasi Pegadaian menjadi awal arah baru bagi mereka untuk menjaga kebersihan lingkungan mereka.
“Dulu kami belum bisa memilah sampah, yang dijual hanya yang bagus-bagus saja. Tapi sekarang masyarakat mulai paham. Sampah basah diolah menjadi pupuk, sementara sampah kering ditimbang dan dikonversi menjadi saldo emas,” jelasnya.
Ia mencontohkan, jika warga membawa sampah plastik seberat 2 kilogram yang dihargai Rp20.000, maka nominal tersebut langsung dikonversi ke nilai gramasi emas saat itu dan tercatat di buku tabungan Pegadaian mereka.
Ke depan, pihaknya masih memiliki tantangan untuk menyadarkan pola pikir masyarakat dari investasi konvensional seperti tanah ke emas. Menurutnya, realisasi penyadaran pola pikir masyarakat tersebut masih menunjukkan sinyal positif.
“Sinyal masyarakat untuk menjadikan sampah jadi emas ini luar biasa. Kerja sama tabungan emas ini terus jalan dan memberikan dampak positif bagi warga kami,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























