Mengunjungi Wisata Edukasi P-Wec yang Markas Profauna Indonesia

  • Whatsapp
Wisata Edukasi P-Wec yang juga Markas Profauna Indonesia. foto/Rizal Adhi Pratama

MALANG – Bila Anda sudah mulai bosan dengan objek-objek wisata yang itu-itu saja di Kabupaten Malang, mungkin sudah saatnya mencoba objek wisata yang agak berbeda sambil mendapatkan pencerahan terkait fungsi-fungsi tumbuhan dan hewan dalam ekosistem hutan di Petungsewu Wildlife Education Center (P-WEC).

Made Astuti selaku Direktur Eksekutif P-WEC. foto/Rizal Adhi Pratama

Kunjungi saja wisata edukasi P-Wec yang beralamat di Jalan Margasatwa 1, Desa Petungsewu, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. P-Wec berdiri sejak 2003, merupakan kerja sama PT Petungsewu Adventure bersama Profauna Indonesia.

“Tempat ini kan kita juga kerja sama dengan Profauna, jadi PT Petungsewu Adventure bersama Profauna untuk mendirikan P-Wec. Jadi wisatanya untuk edukasi dan terbatas,” terang Made Astuti, Direktur Eksekutif P-WEC saat dikunjungi Jurnalis tugumalang.id beberapa waktu lalu.

Misi utama yang digaungkan adalah untuk memberikan edukasi terkait manfaat tanaman dan hewan terhadap keberlangsungan ekosistem di hutan.

“Awalnya karena Profauna yang datang ke rumah-rumah warga untuk memberikan edukasi, lalu mereka berpikir bagaimana kalau mereka juga bisa datang ke Profauna. Makanya didirikan P-WEC itu,” bebernya.

Ruang kelas edukasi. foto/Rizal Adhi Pratama

Made menjelaskan, jika istilah untuk edukasi ini adalah pendidikan kehidupan liar. Dan memang P-WEC sendiri lebih banyak untuk edukasi.

“Tempat ini merupakan tempat pendidikan informal untuk konservasi alam. Istilahnya tempat pendidikan kehidupan liar. Jadi, memang programnya lebih banyak untuk edukasi. Selain itu juga menerima untuk outbound, LDK, reuni dan lainnya,” tuturnya.

P-WEC sendiri memiliki luas kurang lebih 5 hektare. Fasilitasnya ada penginapan mulai dari guest house, asrama, outbound, kafe dan lainnya. Oleh karena itu para pengunjung yang menginap diberikan program edukasi dan outbound.

“Biasanya itu hari pertama dan kedua pelatihan, lalu hari ketiga mereka outbound. Lebih kepada teamwork, karena mungkin di antara mereka belum saling kenal. Jadi lebih banyak ke teamwork building dan leadership juga,” ungkapnya.

Baca Juga  Kelurahan Sisir Hadirkan Wisata Sobo Brantas

Lebih lanjut, Made mengatakan saat ini kebanyakan pengunjungnya siswa-siswi SD. Tapi terkadang ada saja pengunjung dari perusahaan dan kampus.

“Pengunjung sendiri lebih banyak dari sekolah mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Kalau dulu sebelum mendapatkan Adiwiyata itu lebih banyak SMA, dan setelah mendapatkan Adiwiyata jadi lebih banyak SD,” bebernya.

ruang pertemuan indoor. foto:/Rizal Adhi Pratama

“Kalau untuk anak SD kami edukasinya lebih banyak ke pengenalan berbagai tanaman, serangga dan fungsi-fungsi serangga,” sambungnya.

Kendala yang biasa dialami Made dan kawan-kawannya sendiri adalah harus meluruskan kembali mitos-mitos yang terlanjur diserap anak-anak.

“Karena tidak semua guru itu bisa menjelaskan apa fungsi suatu tanaman, kadang bahkan ada yang bilang pohon beringin itu rumahnya setan. Jadi kami menjelaskan bahwa pohon beringin itu bukan rumahnya setan dan pasti ada fungsinya,” ujarnya.

Untuk anak-anak SD, Made juga menyiapkan beberapa metode khusus yang dimodifikasi dengan gaya bermain agar mereka mau mendapatkan edukasi.

“Kami juga mengaplikasikannya dengan permainan, jadi mereka paham saat melakukan permainan. Jadi mereka menggambar daun-daunan, lalu mereka cari yang mana yang bentuk dan ketebalannya sama,” ucapnya.

Sisi lain dari wisata edukasi. foto/Rizal Adhi Pratama

Untuk bisa masuk dan mendapatkan edukasi di P-WEC, ia mengatakan jika perusahaan, lembaga, kampus atau sekolah yang ingin datang wajib memesan terlebih dahulu.

“Misalnya ada sekolah, perusahaan atau lembaga yang ingin datang ke sini harus pesan dahulu. Karena di sini itu tempat wisata untuk edukasi, jadi kita harus menyiapkan,” tegasnya.

“Kecuali untuk family gathering 3-4 orang tidak masalah kalau mau datang langsung. Tapi kalau 20-50 orang gak bisa langsung datang,” imbuhnya.

Selain itu, karena adanya Pandemi COVID-19, pengunjung yang datang juga dibatasi dan sudah disiapkan protokol kesehatan yang ketat.

Baca Juga  Menengok Kondisi Wisata Grafiti di Jembatan Kedungkandang

“Karena saat ini pandemi pastinya dibatasi, kalau biasanya kita bisa menampung 250 – 400 orang sekali dikunjungi, sekarang kai batasi cuma sekitar 100 orang,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya penularan COVID-19, setiap tempat tidur diberi pembatas plastik. ”Memang agak ribet, tapi ya harus sesuai protokol kesehatan,” tambahnya.

Untuk jam buka di P-WEC juga dibatasi mulai dari pukul 09.00 WIB sampai 17.00 WIB untuk pengunjung yang hanya survei dan tidak menginap.

Terakhir, Made menjelaskan jika P-WEC tidak menetapkan biaya tiket masuk. Tapi bagi yang ingin mendapatkan paket edukasi dan menginap dikenakan biaya.

“Untuk tiket masuk tidak kami kenakan biaya, karena memang wisata kami terbatas untuk edukasi. Jadi kalau datang untuk survei saja boleh, tapi kalau hanya datang saja untuk main gak bisa,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *