MALANG, Tugumalang.id – Dari lereng Gunung Kawi, produk rambak pisang Gdangku bisa menembus pasar Kalimantan dan Bali. Kesuksesan ini tak lepas dari pemanfaatan berbagai platform digital sebagai alat untuk memasarkan produk.
Pemilik Gdangku, Zudan Hanifi mengatakan ia pernah mencoba melakukan pemasaran secara offline dan online. Sejauh ini, pemasaran secara online dinilai lebih efektif dan efisien. Bahkan, sebanyak 70-80 persen penjualannya berasal dari pembelian secara online.
Baca Juga: Ikut BRIncubator, UMKM di Malang Serap Ilmu tentang Marketing dan Manajemen
“Penjualan rata-rata ke kota besar, seperti Surabaya, Jakarta, Pontianak, Samarinda, dan Bali,” ujar Zudan saat ditemui di rumah produksi Gdangku yang terletak di Desa Karangrejo, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang.

Salah satu platform digital yang dimanfaatkan Zudan adalah LinkUMKM milik BRI. Platform tersebut membantu Zudan mengenalkan produknya lebih luas dan membantu menyambungkan pembeli dengan penjual.
“Selain itu saya juga memanfaatkan platform digital lainnya,” kata Zudan.
Dimulai saat pandemi COVID-19
Perjalanan Gdangku dimulai saat pandemi COVID-19 berlangsung. Awalnya rumah produksi Gdangku disiapkan di awal tahun 2020. Akan tetapi, operasionalnya harus ditunda karena adanya pandemi COVID-19.
“Karena ada COVID-19, semuanya tertunda. Akhir tahun 2020 baru beroperasi,” kata Zudan.

Gdangku terinspirasi dari bisnis yang sudah dijalani oleh paman Zudan di Desa Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Paman Zudan mengajari keponakannya tersebut untuk memproduksi rambak pisang dan membantu pemasarannya.
Baca Juga: Rumah BUMN Kota Malang by BRI, Wadah bagi UMKM untuk Kembangkan Potensi
Gdangku didirikan untuk membantu ayah Zudan yang memasuki masa pensiun dari tempatnya bekerja. Mereka mengalihfungsikan lahan untuk kandang kambing di belakang rumah menjadi tempat produksi.
Penggorengan menggunakan teknologi vakum
Proses pembuatan rambak pisang Gdangku cukup unik. Pisang yang digunakan adalah pisang awak yang matang. Pisang dikupas, kemudian diiris tipis, dan dibekukan selama dua hari.
“Kita goreng pakai mesin vakum, jadi hasilnya lebih renyah dan penyerapan minyaknya juga lebih rendah,” jelas Zudan.

Keistimewaan lainnya, keripik ini tidak menggunakan tambahan gula, karena rasa manisnya alami berasal dari pisang yang sudah matang. Meski ukurannya lebih tebal daripada keripik pisang, rambak pisang ini tidak keras dan mudah digigit.
Dari satu ton pisang, Zudan bisa menghasilkan dua kuintal rambak pisang. Bahan baku yang didatangkan dari Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang tersebut ditimbang saat masih mentah dan memiliki tandan serta kulit.
Setelah dikupas, berat pisang menjadi berkurang. Dari 12-13 kilogram pisang yang sudah dikupas dan diiris, bisa dihasilkan 4-5 kilogram rambak pisang matang.
“Itu hasil rata-rata, tergantung kualitas pisangnya,” imbuh Zudan.
Maksimalkan promosi lewat platform digital
Selama menjalankan usaha Gdangku, Zudan sudah mencoba berbagai cara untuk memasarkan produknya. Mulai dari menitipkan produk di toko-toko hingga memasarkan secara online.
Sejauh ini, ia merasa cara yang paling efektif dan efisien adalah melalui platform digital, baik e-commerce, media sosial, maupun situs penjualan lainnya.
Zudan pernah mencoba menitipkan produk di toko-toko yang ada di Malang. Akan tetapi, hasilnya kurang memuaskan. Uang hasil penjualan pun baru bisa didapat saat barang sudah habis.
“Menunggu barang habis itu bisa lama, sampai tiga bulan. Padahal barangnya hanya 10 bungkus,” kata Zudan.
Dengan memasarkan secara online, Zudan menemukan pasar yang tetap dan penjualannya cukup stabil sepanjang tahun. Meski masih melakukan penjualan offline, Zudan mengaku kebanyakan penjualan terjadi berkat pemasaran secara online.
“Kalau di sini (offline), saya dibantu teman-teman saya yang jualan snack,” imbuh Zudan.
Bergabung dengan LinkUMKM
Salah satu platform online yang dimanfaatkan Zudan adalah LinkUMKM milik BRI. Di platform ini, tersedia informasi produk, alamat, nomor Whatsapp, hingga link menuju ke e-commerce seperti Shopee, Tokopedia, dan Tiktok Shop.
“Saya sudah tahu LinkUMKM sejak lama, tapi baru sempat mendaftar beberapa bulan lalu,” tutur Zudan.
Pendaftarannya cukup mudah, hanya mengisi data-data yang diperlukan. Zudan sempat dihubungi oleh admin LinkUMKM karena ada foto yang tidak sesuai, akan tetapi permasalahan tersebut diselesaikan secara cepat.
“Awalnya saya kira nggak bisa naik, tapi ternyata bisa,” ujar Zudan.
Platform ini juga tidak terbatas hanya untuk UMKM yang juga nasabah BRI. Semua UMKM bisa bergabung secara gratis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A