MALANG, Tugumalang.id – Mahasiswa Program Studi (Prodi) Pendidikan dan Kewarganegaraan (PPKn) Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Devin Anggun Winkasari menyoroti masalah peran generasi muda dan tantangan melestarikan budaya lokal di era digital seperti saat ini.
Menurutnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, terutama bagi generasi muda. Saat ini, informasi dari berbagai belahan dunia dapat dengan mudah diakses melalui internet dan media sosial.
“Hal ini tentu memberikan banyak manfaat, seperti kemudahan dalam memperoleh pengetahuan dan memperluas wawasan. Namun, di balik kemajuan tersebut terdapat tantangan yang tidak kalah penting, yaitu semakin berkurangnya perhatian generasi muda terhadap budaya lokal,” tutur Devin.
Budaya Lokal Bagian Penting dari Identitas Bangsa
Dalam pandangangannya, Devin menyebut budaya lokal merupakan bagian penting dari identitas suatu bangsa. Di Indonesia, kekayaan budaya sangat beragam, mulai dari tradisi, kesenian, bahasa daerah, hingga berbagai kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
“Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya tersebut tidak hanya menjadi simbol identitas, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat,” tegasnya.
Namun, realitas yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa sebagian generasi muda lebih tertarik pada budaya populer dari luar negeri dibandingkan dengan budaya daerahnya sendiri. Musik, gaya berpakaian, hingga gaya hidup yang berasal dari luar sering kali lebih cepat diterima dan menjadi tren di kalangan anak muda. Sementara itu, berbagai tradisi lokal justru mulai jarang dikenal bahkan oleh generasi yang hidup di lingkungan budaya tersebut.
Baca juga: Bikin Bangga! Mahasiswa Unikama Berhasil Ukir Prestasi Duta Wisata dan Budaya Indonesia 2025
Sebagai mahasiswa Prodi PPKn Unikama, ia melihat bahwa fenomena ini tidak bisa dianggap sebagai hal yang sepele. Jika generasi muda terus menjauh dari budaya lokal, maka bukan tidak mungkin berbagai tradisi yang selama ini menjadi bagian dari identitas masyarakat akan perlahan-lahan menghilang.
Oleh karena itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Generasi muda sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi garda terdepan dalam pelestarian budaya. Di era digital seperti sekarang, media sosial dapat menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas,” ungkap Devin.
“Melalui foto, video, maupun konten kreatif lainnya, generasi muda dapat mengangkat kembali berbagai tradisi, kesenian, maupun kuliner khas daerah agar lebih dikenal oleh masyarakat,” imbuhnya.
Selain itu, pelestarian budaya juga dapat dilakukan melalui keterlibatan langsung dalam berbagai kegiatan budaya. Misalnya dengan mengikuti kegiatan seni tradisional, festival budaya, atau kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan tradisi daerah.
Dengan cara tersebut, generasi muda tidak hanya mengenal budaya secara teori, tetapi juga merasakan langsung nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Baca juga: Unikama Gelar Dialog Kebangsaan, Moderasi Beragama Jadi Tameng Kampus Tangkal Radikalisme
Peran Lembaga Pendidik dalam Upaya Pelestarian Budaya
Melihat tantangan mempertahankan eksistensi budaya lokal di tengah arus modernisasi teknologi digital. Devin menilai peran lembaga pendidikan juga sangat penting dalam upaya pelestarian budaya.
Kampus sebagai tempat berkumpulnya generasi muda dapat menjadi ruang yang strategis untuk mengenalkan dan mengembangkan budaya lokal. Melalui kegiatan organisasi mahasiswa, seminar budaya, maupun penelitian tentang kearifan lokal, mahasiswa dapat lebih memahami pentingnya menjaga warisan budaya yang dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Di sisi lain, pelestarian budaya juga perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih kreatif dan inovatif. Budaya lokal tidak harus selalu ditampilkan dalam bentuk yang kaku atau tradisional.
“Dengan sentuhan kreativitas, budaya dapat dikemas dalam bentuk yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman. Misalnya melalui pertunjukan seni yang dipadukan dengan teknologi modern, pembuatan konten digital tentang budaya, atau pengembangan produk kreatif berbasis kearifan lokal,” bebernya.
Pada akhirnya, melestarikan budaya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau tokoh budaya saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama generasi muda.
Budaya merupakan warisan berharga yang tidak ternilai, yang membentuk identitas dan karakter suatu bangsa. Tanpa adanya kepedulian dari generasi muda, budaya tersebut dapat kehilangan makna dan bahkan perlahan menghilang.
Baca juga: Unikama Siap Cetak Guru PAUD Berkualitas dan Profesional Lewat Program RPL Afirmasi
Oleh karena itu, sudah saatnya generasi muda tidak hanya menjadi penikmat budaya luar, tetapi juga menjadi penjaga dan pelestari budaya bangsa sendiri. Dengan semangat, kreativitas, dan kepedulian yang tinggi, generasi muda dapat membuktikan bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat yang penting di tengah kehidupan modern.
“Jika budaya lokal mampu dijaga dan dikembangkan dengan baik, maka warisan tersebut tidak hanya akan bertahan, tetapi juga dapat menjadi kebanggaan yang diwariskan kepada generasi yang akan datang,” pungkas Devin.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko


















