Malang, Tugumalang.id – Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) meluncurkan tagline baru, “Polisi Bersama Masyarakat”, pada Oktober 2026. Di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, slogan ini menempatkan masyarakat sebagai pusat orientasi tugas kepolisian, termasuk dalam penegakan hukum.
Slogan tersebut menggantikan “Polri Presisi” yang digunakan pada periode sebelumnya. Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir menegaskan, Polri bertekad mendekatkan aparat dengan masyarakat melalui kehadiran nyata, dialog aktif, dan solusi hukum yang berkeadilan.
Perubahan identitas ini juga disertai target peningkatan kepercayaan publik. Wakapolri Komjen Pol. Wahyu Hadiningrat menetapkan sasaran kepercayaan masyarakat mencapai 81 persen, naik dari angka yang disebutkan saat ini sebesar 71 persen.
Untuk mencapai target tersebut, pembenahan pelayanan dimulai dari lini terdepan, khususnya di tingkat Kepolisian Sektor (Polsek). Polri juga menetapkan standar pelayanan panggilan darurat melalui Call Center 110, dengan komitmen merespons maksimal 10 detik sejak panggilan diterima.
Langkah operasional tersebut diharapkan menjadi bukti bahwa perubahan yang digaungkan Polri dapat dirasakan langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Baca juga: Polisi Ungkap 10 Kasus Penipuan Motor, Pelaku Ditangkap Usai Sasar Kakek Penjual Es Krim
Harapan terhadap perubahan internal Korps Bhayangkara juga disampaikan Ketua Umum Poros Pemuda Indonesia (PPI) sekaligus pendiri Graha Kebangsaan, Muhlis Ali. Dia menilai, perubahan harus menyentuh budaya kerja aparat di lapangan, bukan sekadar pergantian logo atau seremoni kehumasan.
“Doa dan harapan kami, Polri tidak hanya hadir saat kejahatan telah terjadi. Polisi harus aktif mendengarkan aspirasi, melayani, melindungi, serta memberikan kepastian hukum yang adil,” ujar Muhlis Ali dalam keterangannya, Sabtu (10/10/2026).
Muhlis menekankan, ukuran keberhasilan slogan baru tersebut adalah terwujudnya rasa aman di tengah masyarakat. Publik, menurutnya, mengharapkan lingkungan yang membuat anak-anak merasa terlindungi saat melihat seragam polisi, korban kejahatan memperoleh pertolongan tanpa hambatan, dan masyarakat dapat menyampaikan kritik secara terbuka.
Kedekatan Polisi Harus Menjadi Budaya Kerja
Tantangan kepolisian, menurut Muhlis, terletak pada persoalan nyata yang dihadapi pekerja, pelaku usaha, dan masyarakat kecil.
Komitmen Polri dinantikan dalam memberantas premanisme, pungutan liar (pungli), serta pemerasan yang masih membayangi aktivitas ekonomi dan sosial warga.
Muhlis menegaskan, kedekatan dengan masyarakat harus menjadi budaya kerja sehari-hari, bukan sekadar kegiatan seremonial. Seluruh anggota Polri diharapkan aktif mendengarkan keluhan, aspirasi, dan kritik konstruktif dari warga.
“Paling tidak, Memastikan anak-anak merasa aman saat melihat polisi, korban kejahatan mendapat pertolongan, dan masyarakat dapat menyampaikan kritik secara terbuka, serta rasa keadilan terwujud sangat diharapkan, itu yang ditunggu publik”.
Masyarakat sebagai Pusat Pelayanan
Muhlis juga berharap tagline baru Polri benar-benar mengubah pola pikir aparat agar kedekatan dengan rakyat melekat dalam kebiasaan sehari-hari seluruh personel.
“Menjadikan kebutuhan, kepentingan, dan keselamatan publik sebagai poros utama dalam setiap tugas kepolisian, bukan sekadar simbol,” harap Muhlis Ali.
Dia juga menyoroti pentingnya komitmen kepolisian dalam melindungi masyarakat, pekerja, dan dunia usaha dari berbagai tindakan yang meresahkan.
“Masyarakat menunggu Komitmen nyata POLRI dalam memberantas premanisme, pungutan liar, serta pemerasan untuk melindungi masyarakat, pekerja, dan dunia usaha.”
Muhlis kembali menyampaikan dukungannya terhadap gagasan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto untuk memperkuat hubungan antara kepolisian dan masyarakat.
“Kami menyambut baik gagasan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto karena bisa memperkuat kedekatan institusi Polri dengan rakyat.” Lanjut Muhlis Ali yang juga Founder Graha Kebangsaan.
Dia menambahkan, tagline tersebut menekankan pentingnya kehadiran polisi yang tidak berjarak dengan warga.
“Tagline ini resmi menggantikan slogan “Polri Presisi” era sebelumnya, dengan penekanan agar polisi tidak berjarak, melainkan hadir, mendengar, serta bekerja bersama warga.” Pungkas Muhlis Ali.
Keberhasilan gagasan Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto akan bergantung pada penerapan semangat “Polisi Bersama Masyarakat” oleh setiap personel hingga tingkat paling bawah. Keselamatan dan kepentingan publik diharapkan menjadi pedoman utama dalam pelaksanaan tugas kepolisian.
Pada akhirnya, tagline tersebut diharapkan terwujud melalui tindakan nyata, mulai dari pelayanan di Polsek hingga interaksi sehari-hari polisi dengan masyarakat yang mendambakan perlindungan tanpa rasa takut.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis
editor: jatmiko

















