MALANG, Tugumalang.id – Setelah mengikuti kelas pengembangan diri melalui metode DISC di pertemuan sebelumnya. Calon inovator yang tergabung dalam Program Beasiswa INOVASIA mengikuti Kelas 3 Beasiswa INOVASIA pada Selasa (23/1/2024) beberapa waktu lalu.
Peserta Program Beasiswa INOVASIA mendapat sesi mentoring tentang pemecahan masalah atau problem solving dari Director NSEI (Nurhayati Subakat Entrepreneurship Institute) part of Paragon Corp, Agung Utama.
Dalam sesi kelas tersebut, Agung memberikan materi tentang bagaiaman cara menyelesaikan masalah dengan cara yang kreatif dan tepat sasaran kepada peserta Program Beasiswa INOVASIA di sesi kelas dan mentoring tersebut sebagai bagian dari upaya menciptakan calon inovator handal di masa depan.
Baca Juga: Salman Subakat Ajak Anak Muda Indonesia ‘Babak Belur’ dengan Program INOVASIA
Sebelum sesi kelas dimulai, CEO NSEI part of Paragon Corp, Salman Subakat memberi pengantar kepada peserta Program Beasiswa INOVASIA yang mengikuti kelas.
Salman menyinggung soal lilin dan bagaimana cara menyelesaikan masalah secara kolektif dalam melakukan sebuah inovasi.
Menurutnya masalah tidak akan bisa terselesaikan dengan baik jika seseorang seperti lilin, bisa menerangi kegelapan namun membakar dirinya sendiri. Tetapi dalam memecahkan masalah harus berkumpul secara kolektif sehingga lilin menjadi banyak dan lebih terang dengan energi positif.
“Jangan sampai kayak lilin, menerangi sekitarnya tetapi membakar diri sendiri. Tapi saya yakin energi kebaikan tidak seperti lilin, kita perlu sering ngumpul untuk gedein lilinnya. Kita tukeran lilinnya agar enggak berkurang enegi postifnya,” tuturnya.

Di sesi awal kelas, Agung Utama menyampaikan mempelajari problem solving dibutuhkan oleh seorang inovator. Pemahaman yang cukup tentang bagaimana menyelesaikan masalah secara logis dan terstruktur merupakan kerangka berpikir dasar dalam merancang sebuah inovasi untuk menyelesaikan sebuah masalah.
Baca Juga: Dari Paragon untuk Pendidikan, Jejak Salman Subakat di Dunia Pendidikan Indonesia
Sehingga dibutuhkan kerja sama dengan orang lain untuk bisa menyelesaikan masalah dan menemukan solusi secara efektif. Menurutnya pemecahan sebuah masalah dalam merancang sebuah inovasi tidak bisa dilakukan sendirian.
“Kenapa kita harus belajar permasalahan masalah, karena seringkali apabila kita tidak memahaminya akan banyak terjadi friksi atau konflik. Biasanya kita enggak bisa menyelesaikan masalah sendiri, sebagai inovator kita pasti membutuhkan orang lain untuk memecahkan masalah dengan baik,” beber Agung.
Lebih lanjut, Agung menjelaskan bagimana melakukan problem solving secara terstruktur dan sistematis kepada peserta Program Beasiswa INOVASIA yang mengikuti sesi kelas.
Ada dua metode dalam melakukan problem solving yakni dengan metode pohon isu dan hipotesis. Metode pohon isu adalah cara inovator melihat masalah dengan visualiasasi alur logika melalui cara berpikir logis.
Sementara metode hipotesis adalah prediksi yang dibuat oleh inovator dalam melihat sebuah masalah berdasarkan sumber-sumber bacaan sebelumnya.
Dengan metode tersebut, Agung meyakini seorang inovator bisa memecahkan permasalahan dengan baik dan menghasilkan solusi yang efektif dan efisien.
“Kita bisa memecahkan masalah secara terstruktur untuk mendapatkan solusi yang efektif dan efisien. Seringkali kita hanya berfokus merumuskan sebuah solusi yang justru tidak nyambung,” tutupnya.
Baca Juga Berita tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A