Minggu, Juni 28, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Tips

Ingin Mulai Berkebun di Rumah? Kenali Berbagai Metode Hidroponik yang Cocok untuk Lahan Sempit

Redaksi by Redaksi
April 22, 2026 9:17 am
in Tips
Sistem hidroponik NFT, salah satu Jenis hidroponik yang mengalirkan nutrisi melalui pipa yang dimiringkan 1-5%(Foto: Pinterest @Herman Zonis)

Sistem hidroponik NFT, salah satu Jenis hidroponik yang mengalirkan nutrisi melalui pipa yang dimiringkan 1-5%(Foto: Pinterest @Herman Zonis)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Tren Bertani di perkotaan terus mengalami pertumbuhan di Indonesia. Dengan ketersediaan lahan produktif yang kian menyusut, metode hidroponik hadir sebagai solusi bagi masyarakat dengan lahan terbatas, seperti yang tinggal di perkotaan untuk tetap produktif menghasilkan pangan sendiri dari rumah.

Melansir dari laman Trubus, salah satu media pionir pertanian di Indonesia, kunci keberhasilan hidroponik terletak pada kemampuan petani dalam mengelola parameter lingkungan seperti nutrisi, oksigen, dan pH air secara konsisten tanpa ketergantungan pada kesuburan tanah.

READ ALSO

Panduan Wisata Bromo dari Malang, Simak Tips Sebelum Berangkat

Strategi Pemasaran dan Promosi UMKM yang Bisa Dilakukan dengan Biaya Terjangkau

Jenis hidroponik pun sangat beragam. Berikut daftar macam-macam jenis hidroponik beserta penjelasannya.

1. Sistem Wick (Sumbu)

Sistem hidroponik yang pertama ini menggunakan prinsip kapilaritas. Nutrisi dari tandon bawah dialirkan ke media tanam melalui sumbu atau kain flanel.

Baca Juga: Panen Hidroponik Grand Mercure Malang Mirama, Hasil Tanam Bersama Difabel dan Dinas Sosial

Ini merupakan salah satu sistem pasif karena tidak membutuhkan listrik atau pompa. Sangat cocok untuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air, seperti kangkung atau sawi hijau. Namun, petani harus rajin mengaduk larutan nutrisi di tandon agar tidak terjadi pengendapan yang menghambat penyerapan.

2. Nutrient Film Technique (NFT)

Berbeda dengan system wick yang mennyatlurkan nutrisi melalui media seperti kain flannel, sistem NFT mengalirkan larutan nutrisi melalui talang atau pipa dengan kemiringan sekitar 1% hingga 5%.

Mengutip laporan dari Kompas.com, sistem NFT dirancang agar akar tanaman terendam dalam air, namun tidak terlalu dalam. Aliran yang terus-menerus ini memastikan sirkulasi oksigen tetap terjaga.

Sehingga dibutuhkan listrik untuk menggerakkan serta menjaga stabilitas aliran air. Jika aliran berhenti akibat mati lampu, akar akan cepat mengering karena tidak ada cadangan air di dalam pipa.

3. Sistem Rakit Apung (Deep Water Culture)

Hampir sama dengan system wick yang tidak menggunakan Listrik, system rakit apung menanam tanaman pada lubang di atas panel styrofoam yang mengapung di permukaan larutan nutrisi yang dalam.

Baca Juga: Hanya 1,5 Jam dari Kota Malang, Wisata Bukit Ini Menarik Dikunjungi Bersama Keluarga saat Libur Lebaran

Berbeda dengan NFT, sistem ini sangat aman saat listrik padam karena akar tetap terendam dalam air nutrisi. Namun, tantangan utamanya adalah ketersediaan oksigen terlarut.

Mengutip dari portal Detik Edu, penggunaan aerator atau pompa udara sangat penting dalam sistem ini untuk mencegah pembusukan akar akibat kondisi minimnya oksigen.

4. Ebb and Flow (Pasang Surut)

Selanjutnya ada system Ebb dan Flow yang bekerja dengan membanjiri wadah tanam dengan nutrisi, lalu menyedotnya kembali ke tandon dalam jangka waktu tertentu.

Mekanisme ini menggunakan pompa yang diatur oleh timer. Saat pasang, nutrisi membasahi akar, kemudian saat surut, akar mendapatkan kesempatan menghirup oksigen segar dari udara. Sistem ini sangat efektif untuk tanaman yang memiliki siklus pertumbuhan lebih lama dan membutuhkan oksigenasi akar yang intens.

5. Sistem Drip (Irigasi Tetes)

Dengan hidroponik drip atau system irigasi tetes, nutrisi tanaman diberikan dalam bentuk tetesan yang langsung mengarah ke pangkal tanaman melalui selang mikrotube.

Menurut literatur dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbanghorti), sistem ini sangat presisi dalam penggunaan air karena volume tetesan bisa diatur sesuai kebutuhan tanaman.

Cara ini biasanya digunakan untuk tanaman buah seperti tomat, cabai, atau melon yang menggunakan media tanam padat seperti cocopeat atau sekam bakar.

6. Aeroponik

Metode terakhir yakni aeroponic yang paling modern di mana tanaman digantung dengan akar yang menjuntai di ruang tertutup, lalu disemprotkan cairan nutrisi secara berkala.

Penyebaran cairan yang dihasilkan oleh nozzle bertekanan tinggi memiliki partikel yang sangat kecil sehingga mudah diserap pori-pori akar.

Sistem ini dianggap sebagai yang tercepat dalam memacu pertumbuhan tanaman karena rasio oksigen yang sangat tinggi di sekitar akar. Namun sistem ini membutuhkan biaya investasi dan keahlian teknis yang paling mahal dibandingkan sistem lainnya.

Pemilihan sistem hidroponik harus disesuaikan dengan jenis tanaman, anggaran, dan ketersediaan waktu untuk pemeliharaan.

Bagi pemula, sistem Wick dan Rakit Apung bisa menjadi langkah awal karena risikonya yang rendah, sementara NFT dan Aeroponik menjadi pilihan bagi mereka yang mengejar efisiensi dan hasil panen maksimal, tentu dengan segala kesiapannya.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/magang

Editor: Herlianto. A

Tags: hidroponikketahanan panganPertanian perkotaanTips berkebun

Related Posts

Panduan wisata bromo
Pariwisata

Panduan Wisata Bromo dari Malang, Simak Tips Sebelum Berangkat

Jumat, 26 Jun 2026
Strategi pemasaran dan promosi
Tips

Strategi Pemasaran dan Promosi UMKM yang Bisa Dilakukan dengan Biaya Terjangkau

Kamis, 25 Jun 2026
gerbang tol lawang
Tips

Mengenal Akses Setiap Gerbang Tol di Malang Raya, Sesuaikan dengan Tujuan Perjalanan

Rabu, 24 Jun 2026
kerja di era digital
Tips

Kerja Fleksibel Makin Diminati, Ini Jenis Freelance yang Banyak Dicari di Era Digital

Rabu, 24 Jun 2026
literasi keuangan
Tips

Pentingnya Literasi Keuangan bagi UMKM untuk Menjaga Keberlanjutan Usaha

Rabu, 24 Jun 2026
Situs cari kerja
Tips

5 Situs Cari Kerja Terpopuler untuk Fresh Graduate, Ada Jobstreet hingga LinkedIn

Selasa, 23 Jun 2026
Next Post
Salah satu contoh sepau Mary Jane Classic yang masih trend hingga saat ini (Foto: Pinterest @izzi)

Sering Dipakai tapi Tak Banyak yang Tahu, Ini Rahasia di Balik Nama Sepatu Mary Jane

BERITA POPULER

  • Bapenda Kota Malang

    Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.