Tugumalang.id – Tren Bertani di perkotaan terus mengalami pertumbuhan di Indonesia. Dengan ketersediaan lahan produktif yang kian menyusut, metode hidroponik hadir sebagai solusi bagi masyarakat dengan lahan terbatas, seperti yang tinggal di perkotaan untuk tetap produktif menghasilkan pangan sendiri dari rumah.
Melansir dari laman Trubus, salah satu media pionir pertanian di Indonesia, kunci keberhasilan hidroponik terletak pada kemampuan petani dalam mengelola parameter lingkungan seperti nutrisi, oksigen, dan pH air secara konsisten tanpa ketergantungan pada kesuburan tanah.
Jenis hidroponik pun sangat beragam. Berikut daftar macam-macam jenis hidroponik beserta penjelasannya.
1. Sistem Wick (Sumbu)
Sistem hidroponik yang pertama ini menggunakan prinsip kapilaritas. Nutrisi dari tandon bawah dialirkan ke media tanam melalui sumbu atau kain flanel.
Baca Juga: Panen Hidroponik Grand Mercure Malang Mirama, Hasil Tanam Bersama Difabel dan Dinas Sosial
Ini merupakan salah satu sistem pasif karena tidak membutuhkan listrik atau pompa. Sangat cocok untuk tanaman yang tidak memerlukan banyak air, seperti kangkung atau sawi hijau. Namun, petani harus rajin mengaduk larutan nutrisi di tandon agar tidak terjadi pengendapan yang menghambat penyerapan.
2. Nutrient Film Technique (NFT)
Berbeda dengan system wick yang mennyatlurkan nutrisi melalui media seperti kain flannel, sistem NFT mengalirkan larutan nutrisi melalui talang atau pipa dengan kemiringan sekitar 1% hingga 5%.
Mengutip laporan dari Kompas.com, sistem NFT dirancang agar akar tanaman terendam dalam air, namun tidak terlalu dalam. Aliran yang terus-menerus ini memastikan sirkulasi oksigen tetap terjaga.
Sehingga dibutuhkan listrik untuk menggerakkan serta menjaga stabilitas aliran air. Jika aliran berhenti akibat mati lampu, akar akan cepat mengering karena tidak ada cadangan air di dalam pipa.
3. Sistem Rakit Apung (Deep Water Culture)
Hampir sama dengan system wick yang tidak menggunakan Listrik, system rakit apung menanam tanaman pada lubang di atas panel styrofoam yang mengapung di permukaan larutan nutrisi yang dalam.
Baca Juga: Hanya 1,5 Jam dari Kota Malang, Wisata Bukit Ini Menarik Dikunjungi Bersama Keluarga saat Libur Lebaran
Berbeda dengan NFT, sistem ini sangat aman saat listrik padam karena akar tetap terendam dalam air nutrisi. Namun, tantangan utamanya adalah ketersediaan oksigen terlarut.
Mengutip dari portal Detik Edu, penggunaan aerator atau pompa udara sangat penting dalam sistem ini untuk mencegah pembusukan akar akibat kondisi minimnya oksigen.
4. Ebb and Flow (Pasang Surut)
Selanjutnya ada system Ebb dan Flow yang bekerja dengan membanjiri wadah tanam dengan nutrisi, lalu menyedotnya kembali ke tandon dalam jangka waktu tertentu.
Mekanisme ini menggunakan pompa yang diatur oleh timer. Saat pasang, nutrisi membasahi akar, kemudian saat surut, akar mendapatkan kesempatan menghirup oksigen segar dari udara. Sistem ini sangat efektif untuk tanaman yang memiliki siklus pertumbuhan lebih lama dan membutuhkan oksigenasi akar yang intens.
5. Sistem Drip (Irigasi Tetes)
Dengan hidroponik drip atau system irigasi tetes, nutrisi tanaman diberikan dalam bentuk tetesan yang langsung mengarah ke pangkal tanaman melalui selang mikrotube.
Menurut literatur dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbanghorti), sistem ini sangat presisi dalam penggunaan air karena volume tetesan bisa diatur sesuai kebutuhan tanaman.
Cara ini biasanya digunakan untuk tanaman buah seperti tomat, cabai, atau melon yang menggunakan media tanam padat seperti cocopeat atau sekam bakar.
6. Aeroponik
Metode terakhir yakni aeroponic yang paling modern di mana tanaman digantung dengan akar yang menjuntai di ruang tertutup, lalu disemprotkan cairan nutrisi secara berkala.
Penyebaran cairan yang dihasilkan oleh nozzle bertekanan tinggi memiliki partikel yang sangat kecil sehingga mudah diserap pori-pori akar.
Sistem ini dianggap sebagai yang tercepat dalam memacu pertumbuhan tanaman karena rasio oksigen yang sangat tinggi di sekitar akar. Namun sistem ini membutuhkan biaya investasi dan keahlian teknis yang paling mahal dibandingkan sistem lainnya.
Pemilihan sistem hidroponik harus disesuaikan dengan jenis tanaman, anggaran, dan ketersediaan waktu untuk pemeliharaan.
Bagi pemula, sistem Wick dan Rakit Apung bisa menjadi langkah awal karena risikonya yang rendah, sementara NFT dan Aeroponik menjadi pilihan bagi mereka yang mengejar efisiensi dan hasil panen maksimal, tentu dengan segala kesiapannya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/magang
Editor: Herlianto. A


















