Malang, Tugumalang.id – KH Imam Muslimin atau yang akrab disapa Yai Mim wafat pada Senin (13/4/2026) setelah sebelumnya tidak sadarkan diri saat hendak dimintai keterangan di Polresta Malang Kota. Kepergian tokoh agama tersebut menyisakan duka mendalam bagi para murid, mahasiswa, dan masyarakat yang pernah mengenalnya.
Wafatnya Yai Mim menjadi perhatian luas setelah sebelumnya beliau terlibat konflik dengan tetangganya bernama Nurul Sahara. Kasus tersebut sempat viral dan menjadi perhatian nasional. Bahkan, Gubernur Jawa Barat yang juga dikenal sebagai konten kreator, Kang Dedi Mulyadi (KDM), sempat mendatangi rumah Yai Mim.
Namun di balik kontroversi yang sempat mencuat, para murid mengenang Yai Mim sebagai sosok alim, sederhana, dan penuh kepedulian terhadap mahasiswa, khususnya mereka yang mengalami kesulitan tempat tinggal.

Baca juga: Tahanan Kasus Pertikaian Tetangga di Malang, Yai Mim Meninggal Dunia
Sosok Bersahaja Lulusan Al Azhar Mesir
Salah satu murid Yai Mim di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Oemar Hawariy, mengenang gurunya sebagai sosok yang sangat bersahaja meski memiliki latar belakang pendidikan tinggi dari luar negeri.
Oemar yang mulai kuliah pada tahun 2002 mengaku terkesan dengan kesederhanaan Yai Mim saat berinteraksi dengan mahasiswa.
“Beliau waktu itu habis lulus dari Al Azhar Mesir, tapi beliau biasa berinteraksi dengan kita pakai kaos dan topi, begitu bersahaja,” kata Oemar, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, Yai Mim merupakan sosok yang memiliki penguasaan ilmu agama yang luas, khususnya dalam kajian tauhid dan pemikiran Islam.
“Saya sering bertanya soal keagamaan misal soal tauhid uluhiyah dan rububiyah, beliau menjawab dengan jelas sekali dan cukup memuaskan,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, Oemar juga mengaku terkesan dengan cara Yai Mim menjelaskan perpaduan antara budaya Jawa dan Islam.
“Ketika mau masuk Ramadan, orang Jawa itu membawakan lagu untuk menyambutnya, itu saya dapat dari Yai Mim,” tambahnya.
Peduli Mahasiswa yang Kesulitan Tempat Tinggal
Kepedulian Yai Mim terhadap mahasiswa juga dirasakan langsung oleh Oemar saat hendak keluar dari Ma’had UIN Malang. Saat itu, Yai Mim menanyakan rencana tempat tinggal Oemar setelah tidak lagi berada di Ma’had.
Baca juga: Usai Jalani Pemeriksaan Polisi, Yai Mim Ungkap Rencana Pindah Rumah
Yai Mim kemudian menyarankan Oemar untuk menjadi marbot di Masjid Al Amin, kawasan Dieng, Kota Malang yang saat itu membutuhkan petugas kebersihan masjid.
Saran tersebut diberikan agar kehidupan Oemar tetap terjamin sekaligus menjaga ibadahnya.
“Meski saya tidak jadi menjadi petugas di masjid itu, tapi yang saya kenang adalah perhatian beliau yang luar biasa. Padahal saya bukan siapa-siapa beliau, cuma mahasiswa beliau saja,” ungkapnya.
Menampung Mahasiswa Gratis hingga Lahirnya Pesantren
Cerita serupa disampaikan mahasiswa lainnya, Fathul Panata Praja. Ia mengungkapkan bahwa pada tahun 2009 dirinya bersama seorang mahasiswa lain, Fahmi, pernah ditampung secara gratis di rumah Yai Mim.
“Tidak semua dosen punya inisiatif seperti beliau, dan kami ditampung gratis. Bisa saja beliau memungut tarif kos,” kata Fathul.
Sekitar satu hingga dua tahun kemudian, Yai Mim mendirikan Pondok Pesantren Anshofa (Al-Adzkiya Nurus Shofa). Meski tidak menjadi santri tetap, Fathul dan rekannya masih sering mengikuti pengajian yang diasuh Yai Mim.
“Kayaknya menampung kami berdua di rumah beliau menjadi salah satu embrio berdirinya pesantren beliau. Sampai sekarang pesantrennya masih aktif setahu saya, semoga jadi amal jariyah beliau,” pungkasnya.
Kepergian Yai Mim meninggalkan kenangan mendalam bagi para muridnya. Sosoknya tidak hanya dikenal sebagai ulama dengan ilmu agama yang luas, tetapi juga sebagai guru yang peduli dan ringan tangan membantu mahasiswa yang membutuhkan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
reporter: Irham Thoriq
redaktur: jatmiko





























