Malang, Tugumalang.id – Harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Malang naik hingga Rp140 ribu per kilogram. Menipisnya populasi sapi lokal dan dampak musim kemarau menjadi pemicunya.
Selama satu bulan terakhir, harga daging sapi di Kabupaten Malang berkisar Rp125 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram. Harga tertinggi umumnya ditemukan di wilayah yang berbatasan dengan Kota Malang, seperti Karangploso dan Pakis.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Malang Nur Zulaikha mengatakan, kenaikan harga daging sapi tidak terlepas dari meningkatnya harga sapi hidup di tingkat peternak.
Saat ini, harga sapi potong mencapai Rp55 ribu hingga Rp57 ribu per kilogram berat hidup. Sebelumnya, harga sapi hidup masih berada di kisaran Rp47 ribu hingga Rp48 ribu per kilogram.
“Kenaikan ini dipengaruhi oleh ketersediaan stok yang mulai berkurang,” ujar Nur, Selasa (1/9/2026).
Baca juga: Harga Daging Sapi Naik, Kementan Sebut Dipengaruhi Tren Global
Menurutnya, berkurangnya populasi sapi di Kabupaten Malang dipicu tingginya penjualan ternak ke luar daerah, terutama setelah Hari Raya Iduladha. Tak hanya sapi jantan, sapi betina produktif juga ikut terjual.
“Jumlah sapi betina di Kabupaten Malang lumayan menurun, akhirnya harga naik,” kata Nur.
Padahal, keberadaan sapi betina memiliki peran penting dalam menjaga regenerasi dan populasi ternak lokal. Berkurangnya jumlah indukan tersebut kemudian berdampak terhadap ketersediaan sapi potong di Kabupaten Malang.
Pada periode April-Juni 2026, populasi sapi potong di Kabupaten Malang berjumlah 167.149 ekor. Produksi daging sapi pada periode tersebut tercatat sebesar 1.506.702 kilogram.
“Jumlah produksi tersebut adalah gabungan antara produksi daging sapi potong dan sapi perah yang afkir,” jelas Nur.
Baca juga: Harga Daging Sapi di Malang Naik hingga Rp 160 Ribu per Kilogram
Selain persoalan populasi, musim kemarau turut memperburuk kondisi peternakan sapi di Kabupaten Malang. Wilayah kantong ternak di Malang Selatan seperti Kalipare, Donomulyo, Gedangan, dan Sumbermanjing dilaporkan mengalami keterbatasan air dan pakan hijau.
Kondisi itu semakin berat karena persediaan jerami belum melimpah akibat belum memasuki masa panen. Peternak pun harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak.
Dalam situasi tertentu, peternak bahkan terpaksa mengurangi populasi sapi untuk menekan biaya operasional. Fenomena yang dikenal sebagai “sapi mangan pedet” juga terjadi, ketika peternak menjual anak sapi demi memenuhi kebutuhan pemeliharaan ternak yang tersisa.
“Jadi ada dua faktor. Banyak betina keluar dari Malang dan musim kemarau yang membuat peternak menjual sapinya,” kata Nur.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko































