JOMBANG — Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang) membekali sekitar 200 santri dan pendamping Pondok Pesantren As-Salma Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, dengan pemahaman kesehatan mental dan konseling dasar.
Pembekalan itu berlangsung melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Psikologi Mengabdi: Penguatan Pendamping Santri untuk Mendukung Pesantren Ramah Anak”, Jumat (25/10/2026). As-Salma Bahrul Ulum menjadi pilot model pengembangan program tersebut.
Kegiatan melibatkan unsur pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Dekan III Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Dr. Andik Roni Irawan, M.Si., hadir mewakili pimpinan fakultas.
“Kegiatan ini merupakan langkah awal untuk membangun kerja sama yang lebih kuat antara Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan Pondok Pesantren As-Salma. Kami berharap ilmu psikologi dapat hadir dan memberikan manfaat nyata dalam kehidupan pesantren, khususnya dalam mendukung kesehatan mental dan perkembangan santri,” ujar Dr. Andik Roni Irawan, M.Si.
Baca juga: Tingkatkan Kualitas, Fakultas Psikologi UIN Malang Gelar Audit Mutu Internal
Pengasuh Pondok Pesantren As-Salma Bahrul Ulum Tambakberas, Prof. Dr. K.H. Abd. Kholid Mas’ud, M.Ag., bersama istrinya, Nyai Hj. Emi Tahmidah, turut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut.
Prof. Dr. K.H. Abd. Kholid Mas’ud, M.Ag. berharap kegiatan itu mendorong santri semakin peduli terhadap kesehatan mental. Pemahaman dan penanganan persoalan psikologis secara tepat dinilai penting agar santri dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat, berkarakter, serta mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Materi pertama berupa psikoedukasi kesehatan mental “Aku Sehat, Aku Kuat” yang disampaikan Dr. Yulia Solichatun, M.Si., dengan moderator Hilda Halida, M.Psi. Materi disampaikan melalui ceramah, diskusi, dan studi kasus.
Peserta diajak memahami bahwa kesehatan mental tidak berarti seseorang harus selalu merasa bahagia. Santri tetap dapat mengalami kesedihan, kecemasan, kerinduan terhadap keluarga, kekecewaan, maupun kelelahan.
Baca juga: 4 Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang Raih Juara di PORSI JAWARA II 2026
Pembahasan juga mencakup stres dan kecemasan, pengelolaan emosi, kelelahan, tidur, manajemen waktu, pertemanan, adaptasi, serta kemampuan mencari bantuan. Peserta juga diajak memahami pentingnya tidur, istirahat, dan menentukan prioritas untuk menjaga keseimbangan kesehatan mental.
Pelatihan kemudian berlanjut pada konseling dasar yang menghadirkan Dr. Mualifah, MA sebagai narasumber dan Agus Iqbal Hawabi, M.Psi. sebagai moderator.
Dalam pelatihan tersebut, pendamping diperkenalkan pada alur sederhana konseling dasar melalui tahapan Hadir, Dengar, Pahami, Pilih, dan Tindak Lanjut. Pendamping diarahkan untuk memberikan perhatian, membuka ruang bagi santri untuk bercerita, memahami kejadian dan perasaan, membantu melihat pilihan, serta menyepakati langkah tindak lanjut dan pemantauan.
Peserta juga berlatih keterampilan attending, mendengarkan aktif, pertanyaan terbuka, refleksi, dan validasi perasaan. Pendamping diperkenalkan pada cara mengubah respons yang cenderung menutup percakapan menjadi respons yang membuka ruang bagi santri untuk bercerita.
Materi berikutnya adalah Psychological First Aid (PFA) yang disampaikan Fuji Astutik, M.Psi. dengan moderator Abd Hamid Cholili, M.Psi. Materi tersebut mengenalkan keterampilan pertolongan pertama psikologis bagi individu yang mengalami tekanan atau situasi sulit.
Peserta diperkenalkan dengan Model 6M Pendampingan Awal, yakni Melihat, Mendekati, Mendengar, Membantu, Memantau, dan Menghubungkan. Model tersebut mengarahkan pendamping untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku santri dan tidak hanya berfokus pada pelanggaran.
Pendamping juga diarahkan untuk mendekati santri secara proaktif tanpa memaksa, mendengarkan sebelum memberikan nasihat, membantu menemukan satu langkah kecil yang realistis, melakukan tindak lanjut, serta menghubungkan santri dengan pihak yang tepat ketika persoalan berada di luar kapasitas pendamping.
Materi kemudian dipraktikkan melalui role play. Peserta memainkan peran sebagai santri, pendamping, dan observer dengan sejumlah kasus, antara lain bullying dan rasa aman, konflik teman sekamar, kelelahan dan manajemen waktu, serta tekanan teman sebaya terkait penggunaan telepon genggam.
Observer memberikan umpan balik berdasarkan sejumlah indikator, seperti perhatian penuh, pertanyaan terbuka, refleksi dan validasi, tidak terburu-buru memberikan nasihat, menjaga kerahasiaan, serta mengetahui kapan perlu melakukan rujukan.
Program penguatan pendamping santri tersebut juga akan dikembangkan di Pondok Pesantren Darun Najah, Karangploso, Malang. Kegiatan di As-Salma menjadi bagian dari rangkaian pengembangan model pendampingan psikologis di lingkungan pesantren.
Salah satu luaran yang ditargetkan adalah pengembangan laboratorium konseling di lingkungan pesantren. Fasilitas tersebut ditujukan sebagai ruang layanan dan pendampingan bagi santri sekaligus memperkuat mekanisme penanganan persoalan psikologis.
Kolaborasi Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan Pondok Pesantren As-Salma Bahrul Ulum juga diarahkan menjadi kerja sama berkelanjutan. Pendampingan tidak hanya menyasar peningkatan pengetahuan, tetapi juga pengembangan sistem dukungan psikologis yang dapat diterapkan dalam kehidupan pesantren.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Fakultas Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
editor: jatmiko































