Jumat, Oktober 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Peristiwa

Devi Athok: Perjuanganku Usut Tuntas Runtuh, Polisi Berdatangan, Tak Satupun Pihak Mendampingi

Redaksi by Redaksi
Oktober 20, 2022 2:16 am
in Peristiwa
Ayah korban urungkan autopsi lantaran merasa polisi melakukan intimidasi

Devi Athok, ayah korban yang mengurungkan niat permintaan autopsi jenazah korban tragedi Kanjuruhan. foto/M Sholeh

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG,tugumalang.id  – Narasi Polri soal kematian korban tragedi Kanjuruhan bukan karena gas air mata menyayat hati keluarga korban. Hal itulah yang membulatkan tekad Devi Athok mengajukan autopsi pada jenazah kedua anaknya. Langkah ini sebagai bentuk gerakan nyata ‘Usut Tuntas tragedi Kanjuruhan’.

Devi kehilangan kedua anaknya, yakni Naila D Angraini (14) dan Natasya D Ramadani (16) beserta mantan istrinya, yakni Debi Asta (35) dalam tragedi Kanjuruhan. Mereka meninggal di gate 13.

READ ALSO

Wali Kota Batu Napak Tilas Leluhur ke Makam Mbah Batu

Konflik Tetangga di Kota Batu Gara-Gara Bakar Sampah Berakhir Damai

Pria 43 tahun yang tinggal di Kecamatan Bululawang, Malang itu telah kehilangan semangat hidupnya. Bagi Devi, sang putri adalah segalanya. Hatinya teriris-iris mendapati kondisi kematian putrinya. Dia tak percaya putrinya berpulang secepat itu dalam peristiwa kelam di Stadion Kanjuruhan.

Devi Athok. foto/ M Sholeh

Ketika mendengar narasi yang dibangun Polri soal kematian anaknya bukan karena gas air mata, Devi terpanggil melakukan gerakan nyata ‘Usut Tuntas’. Mengajukan permintaan autopsi untuk kedua putrinya pada 10 Oktober 2022.

“Anak saya Natasya meninggal dengan kondisi mulai dada sampai kepala membiru kehitaman, hidung keluar darah. Naila, mulai leher hingga kepala menghitam kebiruan, tak ada luka luka tapi hidungnya ke luar busa,” kata Devi ditemui di kediamannya pada Rabu (19/10/2022).

“Bahkan saya 7 hari gatal gatal karena mencium, memeluk dan menyedot hidung anak saya. Jadi saya mengajukan autopsi untuk mencari tahu penyebab kematian anak saya. Rumah sakit cuma mendata saja,” imbuhnya.

Niat autopsi itu dia sampaikan kepada kuasa hukum yang mendampinginya. Sepengetahuannya, niat itu kemudian disampaikan juga ke Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF). Devi juga meminta perlindungan dan pendampingan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK)

Namun pada 11 Oktober 2022, dia mengaku mulai didatangi polisi di kediamannya. Bahkan dia harus pulang lebih cepat dan meninggalkan aktivitas pekerjaan menemui mereka. Beberapa hari selanjutnya, Devi terus didatangi aparat kepolisian. Bahkan hingga ada yang mengaku dari Mabes Polri.

“Mereka tanya tanya soal autopsi. Yang datang tak hanya satu, dua, tapi berombongan sampai berjejer di depan rumah. Ya keluarga saya ketakutan,” bebernya.

Saking banyaknya, beberapa aparat dia tolak ketika hendak meminta berkomunikasi dengannya. Pintu rumah dia tutup dan segera meninggalkan mereka yang masih ada di luar rumah.

Kala itu, tak satupun pihak mendampinginya. Mental kuasa hukum yang mendampinginya saat itupun ciut mendapat kabar atas apa yang dialami Devi. Pihak LPSK tak kunjung datang hingga hari ini. Pihak pihak lain yang dia mintai perlindungan juga tak bergerak nyata.

Puncaknya, pada 17 Oktober 2022, ketika tim Polda Jatim mendatangi rumahnya, perjuangan Devi dalam gerakan nyata ‘Usut Tuntas’ pun akhirnya runtuh. Dia menandatangani surat pembatalan autopsi kedua putrinya.

“Pembatalan autopsi itu saya sampaikan langsung kepada pihak Polda ketika mereka ke sini,” ucapnya.

Devi Athok, menunjukkan chat terakhir anaknya. foto/M Sholeh

Menurut Devi, keluarganya tak tenang atas kedatangan para polisi. Dengan alasan itulah Devi kemudian memutuskan mengurungkan niat autopsi.

“Saya mundur tembok, maju neraka, saya berani menerjang neraka itu. Kalau saya berani, tapi saya mikir keluarga. Masak sudah kehilangan 2 anak, keluarga saya sekarang tidak tenang. Jadi ya sudahlah,” tuturnya.

Devi kehilangan semangat hidup. Puluhan juta bantuan donasi yang dia terima sama sekali tak membuatnya tersenyum. Kini Devi hanya bisa mengenang chating WA terakhir dirinya dengan sang putri di ponsel.

“Buat apa santunan itu. Tak kembalikan Rp 500 juta, kembalikan anak saya. Tak ada artinya bantuan itu. Saya mencari uang untuk anak anak saya, tapi mereka sudah tak ada,” ungkapnya.

Sebenarnya Devi juga ingin menggelorakan semangat gerakan nyata ‘Usut Tuntas’ dengan autopsi itu. Jika para keluarga korban lain tergerak mengajukan autopsi, bukan tidak mungkin Devi akan kembali mengajukan autopsi lagi.

“Saya sebenarnya berharap 131 korban lain itu juga mengajukan autopsi. Kalau mereka bergerak, saya siap mengajukan lagi,” tandasnya.

Reporter: M Sholeh
editor: jatmiko

Tags: Headlinetragedi kanjuruhanUsut Tuntas

Related Posts

Wali Kota Batu Nurochman beserta jajaran saat ziarah makam Mbah Batu jelang HUT Kota Batu ke-25. Foto: Dok.
Peristiwa

Wali Kota Batu Napak Tilas Leluhur ke Makam Mbah Batu

Rabu, 14 Okt 2026
Konflik Tetangga di Kota Batu Gara-Gara Bakar Sampah Berakhir Damai
Peristiwa

Konflik Tetangga di Kota Batu Gara-Gara Bakar Sampah Berakhir Damai

Rabu, 14 Okt 2026
Krisis BBM Kota Malang, Ini Jadwal Distribusi Pertamina
Peristiwa

Krisis BBM Kota Malang, Ini Jadwal Distribusi Pertamina

Selasa, 13 Okt 2026
Evakuasi jasad nenek sebatang kara meninggal di Pujon, Malang. Foto: Dok.
Peristiwa

Nenek Sebatang Kara di Pujon Malang Ditemukan Meninggal

Kamis, 8 Okt 2026
Kebakaran Hebat di Toko Ogan Kota Malang, 1 Korban Terjebak Berhasil Diselamatkan
Peristiwa

Kebakaran Hebat di Toko Ogan Kota Malang, 1 Korban Terjebak Berhasil Diselamatkan

Kamis, 1 Okt 2026
Sekda Kota Batu Alfi Nurhidayat bersama jajaran saat sidak ke TPS Pesanggrahan. Foto: Azmy
Peristiwa

Sekda Kota Batu Sidak Dugaan Pembakaran Sampah secara Liar di TPS Pesanggrahan

Rabu, 30 Sep 2026
Next Post
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang terkait rujukan tragedi kanjuruhan

Prosedur Rujukan Dinkes Kota Malang Bagi Pasien Tragedi Kanjuruhan

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.