Tugumalang.id – Bulan September adalah bulan ceria dan bulan bahagia, khususnya bagi mahasiswa, orang tua dan para keluarganya, baik di Indonesia maupun di banyak banyak negara dunia, karena bulan ini adalah bulan pertama tahun ajaran baru di berbagai universitas.
Bagi mahasiswa baru, tentu ini merupakan peristiwa yang sangat penting, dan merupakan catatan sejarah yang menuliskan era baru memasuki perubahan kehidupan, dari dunia sekolah ke dunia kuliah.
Juga era baru dalam menjalani tanggung jawab kehidupan pribadi, yaitu masuk ke era kehidupan yang lebih mandiri, lebih dewasa dan lebih bertanggung jawab, apalagi berbeda lokasi kuliah dengan lokasi tempat tinggal orang tua, dan terlebih lagi kalau lokasi kuliah berbeda Negara dengan orang tua.
Baca Juga: Tasyakuran 50 Tahun Pernikahan Berlangsung Gayeng, Surya dan Sjenny Bisa jadi Role Model Anak Muda di Indonesia
Juga tentu tidak kalah pentingnya bagi mahasiswa lama yang memasuki tahun perkuliahan baru. Karena akan menghadapi tantangan dan rintangan berikut yang tentunya lebih berat, seperti kata bijak mengatakan bahwa, kalau ingin mencapai puncak, kita harus berani mendaki dan kita tidak akan pernah menemukan mentari pagi, kalau kita tidak pernah melalui gelap gulitanya malam, di mana setiap pendakian tentunya memerlukan tambahan energy serta tambahan upaya, begitu juga berjalan di gelap gulitanya malam tentu memerlukan kesiapan yang tinggi..
Kami sebagai Opa & Oma lansia 76 tahun pun ikut merasakannya. Bermula di 30 tahun lalu kami mulai merasakan hal ini sebagai orang tua dari tiga putra-putri, berlanjut dua tahun kemudian dan berlanjut lagi tiga tahun kemudiannya, dimana ketiganya beruntung mendapat peluang kuliah di tiga universitas negeri berbeda di Negara Malaysia.
Dari sini sejarah pergerakan dalam sekala ruang kehidupan keluarga bermula. Sulung putri melanjutkan studi pasca sarjananya ke Swiss, bekerja di Swiss, pindah kerja ke Amerika Serikat, sebelum kembali ke tanah air.
Anak kedua putra, setelah tamat sarjana dan master, beruntung diterima kerja di salah satu perusahaan Multinasional Malaysia dan sempat mendapat penugasan ke berbagai Negara dunia, memimpin perwakilan di Negara Flipina untuk kurun waktu 6 tahun, saat ini bertugas di Negara Singapura. Bungsu putra, setelah tamat sarjana, bekerja di Amerika Serikat dan kemuadian berpindah ke beberapa tempat, saat ini bertugas di Kota Kinabalu Sabah Malaysia.
Era globalisasi telah menempatkan ketiga ananda berada pada nuansa perputaran dan persaingan global, yang telah menuntun langkah mereka untuk dapat menembus langit menggapai dunia, dalam sekala ruang alam terbentang, sebagai insan glogal di percaturan lintas Negara, lintas Benua.
Baca Juga: Surya Burhanuddin ‘Provokasi’ ASN Kabupaten Malang agar Bermindset Global dan Kuliah di Luar Negeri
Pergerakan ini terus berputar seiring perjalanan waktu, dan cucu-pun tumbuh dari waktu ke waktu yang ternyata berjalan begitu cepat. Dari tiga ananda yang berkehidupan mengikuti profesinya masing-masing, saat membesarkan putra-putrinya, mereka berada di tiga negera berbeda, yaitu Indonesia, Filipina dan Malaysia, sehingga cucu-cucupun terdampak dengan munculnya perkembangan pemikiran globah yang tumbuh.
Bulan September 2026, Opa & Oma juga mencatatkan sejarah baru. Tanggal 8 September berangkat dari Kota Malang, tempat kediaman sejak 6 tahun lalu, untuk terbang ke Kuala Lumpur via Surabaya. Selama seminggu tinggal bersama cucu kedua, putri usia 19 tahun yang kebetulan sedang cuti sebelum memasuki kuliah tahun kedua di Warwick Uniiversity Inggris.
Setelah seminggu bersama cucu kedua, tanggal 14 September , Opa & Oma terbang dari Kuala Lumpur ke Alor Setar di Kedah Darul Aman Malaysia, utk menemani cucu sulung, putri usia 20 tahun, yang akan memulai kuliah semester 5 di Universiti Utara Malaysia (UUM).
Sementara melalui video call, tanggal 16 September dini hari, Opa & Oma melepas keberangkatan cucu ketiga, putra usia 18 tahun, terbang dari Jakarta ke Fukuoka, untuk kuliah ke APU Ritsumeikan University, di Beppu, Kyushu Jepang.
Setelah seminggu bersama cucu sulung di UUM, Opa & Oma terbang dari Alor Setar, Kedah Darul Aman, ke Kota Kinabalu Sabah via Kuala Lumpur, untuk menemui cucu bungsu, putra 16 tahun yang sedang sekolah menengah atas di sana. Dan setelah seminggu di Sabah, Opa & Oma terbang dari Kota Kinabalu ke Surabaya via Kuala Lumpur, untuk kembali ke Kota Malang.
Bagi Opa & Oma, September 2026 ini terasa begitu ceria dan membahagiakan, karena sejarah baru keluarga tercipta secara perlahan dan mencatatkan cerita baru, tentang generasi ketiga yang sudah menceburkan diri untuk berada di percaturan global, melalui dunia pendidikan bernuansa global, yang berlokasi di Negara lain, dimana:
-Cucu pertama terbang dari Jakarta untuk kuliah semester 5 di Universiti Utara Malaysia (UUM)
-Cucu kedua terbang dari Kuala Lumpur ke London untuk kuliah semester 3 di Warwick University
-Cucu ketiga terbang dari Jakarta ke Fukuoka untuk kuliah semester 1 di APU Ritsumeikan University
-Cucu keempat menimba ilmu tingkatan sekolah menengah atas di International School di Sabah.
Setelah ketiga anak sendiri menikmati pendidikan tinggi bernuansa global di luar Negara, menyusul lebih dari 700-an anak didik, putra-putri generasi muda anak bangsa dari berbagai daerah di Indonesia, alhamdulillah menyusul lagi generasi cucu yang menikmati kesempatan pendidikan tinggi di luar Negara.
Kata bijak mengajarkan bahwa, masa depan hanyalah milik orang-orang yang berani bermimpi akan masa depannya, juga suka atau tidak suka dan mau atau tidak mau, era globalisasi telah menempatkan kita untuk berada pada nuansa persaingan global, dan setitik jadikan laut, sekepal jadikan gunung, alam terkembang jadikan guru.
Adanya pemikiran inilah, yang telah menuntun langkah Opa & Oma, sejak lebih dari 30 tahun lalu, untuk berani bermimpi menembus langit, menggapai dunia, bagi generasi mendatang sebagai generasi penerus, dalam sekala ruang kehidupan seluas alam terbentang, dengan senantiasa berguru kepada alam terkembang.
Karena Tuhan menciptakan dunia seluas alam terbentang yang tidak berpagar, dan memungkinkan bagi siapapun dapat berkehidupan dipelosok dunia manapun, dalam sehat, bahagia juga sejahtera. Sementara Tuhan juga tidak pernah membatasi berapapun rizki yang diinginkan, kecuali upaya sendiri yang membatasinya.
Semoga kita semua dikaruniai sehat selalu dan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT.
Wassalam,
Surya & Sjenny

















