Catatan kecil Halal Bihalal UIN Maliki Malang

  • Whatsapp
Fuji Astutik,M.Psi, Dosen Fakultas Psikologi UIN Maliki Malang. dok

Oleh: Fuji Astutik,M.Psi*

Halal bihalal mengadung banyak makna, selain sebuah tradisi halal bihalal juga menjadi ajang menjalin tali silaturahim dalam meleburkan diri dalam kebaikan. Ada beberapa catatan kecil dari halal-bihalal ini.

Bacaan Lainnya

Mengutip dari penyampaian fatwa pemateri pada acara halal bihalal virtual UIN Maliki Malang pada Rabu (19/5),  ada beberapa hal yang menjadikan diri seseorang menjadi fitrah dan sehat mental setelah halal bihalal. Yaitu dimulai dari menata niat, karena niat yang baik dan tulus akan menentukan kualitas amal kita. Sebaliknya banyak kewajiban diikuti dengan niat yang tulus dan benar.

Dalam salah satu teori psikologi kognitif disebutkan bahwa apa yang dipikirkan oleh seseorang akan menentukan apa yang kita dilakukan. ketika kita salah dalam berfikir akan mempengaruhi perilaku seseorang.

Pikiran yang salah akan memunculkan perilaku yang salah begitu juga sebaliknya jika pola pikir sudah benar maka perilaku juga akan benar. Seseorang menjadi tidak sehat secara mental dikarenakan adanya kesalahan dalam berfikir mengenai keadaan kejadian dan tujuan-tujuan hidup yang ditetapkan.

Maka untuk mencapai tujuan yang positif, kehidupan yang positif maka cara berfikir juga harus positif. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga pola piker yang positif.

Pertama adalah melihat segala sesuatu dengan objektif yaitu tidak menambahi ataupun mengurangi penilaian atas kejadian yang terjadi.

Kedua Tidak melakukan generalisasi atas sebuah peristiwa, misalnya ada satu kejadian yang tidak nyaman bukan berarti seluruh kehidupan kita juga tidak baik.

Ketiga  tidak terlalu terfokus dengan kejadian di masa lalu, menjadikan masa lalu sebagai satu pelajaran hidup bukan trauma semata.

Baca Juga  Unira Malang Siapkan Empat Jalur Beasiswa Internal untuk Calon Mahasiswa Baru

Keempat, tidak terlalu diliputi dengan kecemasan akan masa depan. Khawatir dan mempersiapkan masa depan memang tidak salah. Namun, diliputi ketakutan yang berlebihan juga akan membuat kita merasakan kecemasan dalam hidup.

kelima, menilai diri secara objektif, menilai orang lain secara objektif dan menilai lingkungan secara objektif akan jauh lebih baik dan membuat lebih bahagia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *