Malang, Tugumalang.id – Tahun ini saya tidak jadi ke Haul Solo. Namun, saya mencoba tidak sepenuhnya absen. Habis subuh tadi, sambil ngopi, saya mengikuti live maulid Haul Solo.
Puluhan ribu orang hadir. Sebagaimana tahun lalu, saat saya hadir di Haul Solo untuk kedua kalinya, puluhan ribu orang memadati lokasi. Bahkan, untuk bisa berada di Mushala Raudhah, tempat utama pembacaan maulid, harus sudah berada di mushala tersebut sekitar pukul 12 malam.
Padahal, acara maulid baru dimulai habis subuh. Alhamdulillah, tahun lalu saya bisa berada di mushala dan menyaksikan ulama kaliber dunia secara langsung: Habib Umar bin Hafidz dari Yaman. Santri-santri beliau banyak yang menjadi ulama berpengaruh di Indonesia. Salah satunya almarhum Habib Munzir, pendiri Majelis Rasulullah yang sangat berpengaruh di Jakarta.
Baca juga: Isra-Mi’raj dan Paradigma Keilmuan Islam
Tadi pagi, setelah mengikuti live, saya dan beberapa teman hadir di Maulid Akbar di Pondok Pesantren Darussa’adah Al Islamy di Gubuk Klakah, Poncokusumo, asuhan Abuya KH Nurhasanuddin, ulama yang cukup kondang di Malang Raya.
Pesantren ini menarik karena berada di ketinggian sehingga hawanya sejuk. Santrinya juga banyak, lebih dari seribu santri. Ada lima kampus atau lima area yang semuanya berada di Gubuk Klakah, sebuah daerah yang tidak jauh dari Gunung Bromo.
Saya hadir, salah satunya, pada acara tadi yang juga memperingati wafatnya pengarang Simtud Duror, Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsyi. Kiai Nurhasanuddin sudah mendapatkan izin dari keluarga Habib Ali untuk melaksanakan haul.
“Sehingga, yang berhalangan tidak hadir ke Haul Solo, bisa hadir ke majelis ini,” kata KH Nurhasanuddin dalam sambutannya.
KH Nurhasanuddin termasuk orang yang berhasil dalam berdakwah. Dia mulai berdakwah pada 1991 di daerah tersebut.
“Jangan bayangkan dulu seperti saat ini, naik Reborn dan ada lima kampus. Dulu untuk makan saja susah. Sering diajak tetangga makan,” katanya dalam sambutan tadi siang.
Pernah, suatu ketika, dia ingin menyerah berdakwah di pedalaman tersebut.
“Saya mau dakwah ke kota saja, Ustaz,” katanya, menirukan apa yang disampaikan kepada Habib Alwi bin Salim Alaydrus, gurunya yang meminta KH Nurhasanuddin berdakwah ke Gubuk Klakah.
“Wah jangan, barusan kamu saya unggul-unggulkan kok malah mau menyerah, jangan kamu tetap berdakwah di Gubuk Klakah, dari ketinggian nanti cahayamu menyinari hingga ke bawah,” jawab sang guru.
Beliau mengurungkan rencananya itu. Dengan asam garam yang dilalui, beliau tetap berdakwah. Benar saja, setelah 35 tahun, pesantrennya sangat maju dengan ribuan santri.
Sebagaimana pesan sang guru pada 35 tahun silam, dari ketinggian Gubuk Klakah, KH Nurhasanuddin memberi pancaran dakwahnya hingga ke bawah atau ke Kota Malang.
“Ini mungkin yang dimaksud guru saya, saya punya banyak rutinan di Kota Malang, namun tetap mengembangkan pesantren ini di ketinggian yang dingin ini,” imbuhnya.
Dakwah yang Menyebar hingga ke Luar Daerah
Selain itu, banyak alumninya yang mendirikan pesantren dan majelis. Saat ini ada 19 cabang Pondok Pesantren Darussa’adah. Ada yang di Malaysia dan tadi juga ikut ceramah.
“Beliau ini baru mendapatkan sumbangan dari aghniya di Malaysia untuk mengembangkan pesantrennya, 1 juta ringgit atau sekitar 4 miliar, alhamdulillah, alhamdulillah,” kata KH Nurhasanuddin.
Meski terbilang sukses, beliau cukup rendah hati.
“Semua itu berkat khidmah kepada guru, kalau saya tidak punya apa-apa,” kata beliau suatu ketika.
Guru beliau selain Habib Alwi bin Salim Alaydrus, juga Al-Ustadz ’Abdullah ’Awadz Abdun, pendiri Pesantren Darut Tauhid yang berada di samping UIN Malang, dan Abuya As Sayyid Muhammad bin Maliki Al Hasani.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Irham Thoriq (Mahasiswa Magister Psikologi UIN Malang dan Founder Tugu Media Group).
redaktur: jatmiko


















