Oleh: Aries Musnandar
SETIAP memasuki tahun ajaran baru atau musim kelulusan, pemandangan yang paling jamak kita lihat di media sosial adalah unggahan foto mengenakan toga sambil memegang map ijazah.
Senyum merekah, ucapan selamat bertebaran. Seolah-olah dengan selembar kertas bernama ijazah itu, masa depan cerah sudah otomatis berada di genggaman.
Namun, mari kita bicarakan sebuah rahasia terbuka yang terjadi di ruang-ruang HRD perusahaan atau di meja-meja seleksi kerja. Ijazah hari ini tidak lagi sakti seperti dulu.
Ketika dunia kerja mulai mengeluhkan kualitas lulusan yang gagap praktik dan ketika publik disuguhi tontonan maraknya skandal jual beli gelar atau obral ijazah instan demi gengsi politik. Publik sadar ada yang sedang runtuh di fondasi pendidikan negeri ini.
Esensi masalahnya kini bukan lagi seberapa tinggi atau sah ijazah yang dimiliki seseorang, melainkan sebuah nilai yang jauh lebih mahal, yakni kepercayaan publik atau public trust.
Berhala Kertas dan Runtuhnya Kepercayaan
Pendidikan kita terlalu lama menjebak diri dalam penyakit kredensialisme sebuah cara pandang yang mendewakan simbol-simbol formal akademis di atas kompetensi nyata.
Akibatnya, terjadi inflasi ijazah, semua orang berlomba-lomba mengoleksi gelar dari sarjana, magister, doktor hingga profesor. Celakanya, jalur pintas pun kerap dihalalkan demi selembar kertas tersebut.
Ketika ijazah bisa dibeli atau diperoleh lewat proses instan tanpa perasaan keringat intelektual, institusi pendidikan sebetulnya sedang melakukan bunuh diri budaya. Mereka sedang mengikis kepercayaan masyarakat.
Bagi publik dan dunia industri, ijazah sejatinya adalah sebuah surat garansi. Ketika kampus meluluskan seorang siswa, kampus sedang menjamin kepada masyarakat, orang kompeten, jujur, dan siap berkontribusi.
Namun, ketika jaminan itu palsu, industri akan menutup pintu dan masyarakat akan memandang sinis institusi pendidikan sebagai pabrik kertas semata.
Jalan Keluar Praktis Jangka Pendek: Membuka Kotak Pandora Kompetensi
Untuk mengembalikan kepercayaan publik yang mulai terkikis, institusi pendidikan dan pengguna tenaga kerja tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama. Diperlukan beberapa tindakan taktis yang segera dilakukan:
Audit Otentik Lewat Portofolio Digital
Dunia industri harus mulai menggeser metode seleksi mereka. Jangan lagi melihat IPK atau asal kampus sebagai saringan utama. Tuntut calon pekerja menunjukkan portofolio kerja nyata yang bisa diakses publik, misalnya hasil proyek, desain, kode pemrograman, atau kajian terapan yang pernah dibuat. Biarkan karya yang berbicara, bukan deretan angka di transkrip nilai.
Transparansi Proses Kelulusan
Kampus dan sekolah harus berani mempublikasikan karya akhir atau tugas proyek mahasiswa secara terbuka ke ruang publik.
Jika sebuah karya ilmiah atau proyek vokasi bermutu rendah atau hasil plagiasi, publik akan langsung tahu. Transparansi ini akan memaksa mahasiswa dan dosen menjaga integritas proses belajarnya.
Uji Kompetensi Independen
Lembaga pendidikan harus menggandeng asosiasi profesi atau pihak ketiga yang kredibel untuk menguji lulusannya sebelum dilepas ke masyarakat.
Ijazah dari kampus adalah satu hal, tetapi sertifikat kompetensi dari industri adalah konfirmasi nyata bahwa lulusan tersebut memang bisa dipercaya.
Konsep Jangka Panjang: Menggeser Paradigma dari Gelar ke Integritas
Secara makro dan jangka panjang, bangsa ini harus disembuhkan dari kecanduan formalitas akademis. Kita perlu merombak cara kita menghargai manusia di ruang publik melalui dua langkah strategis:
Pertama, mereformasi sistem meritokrasi di birokrasi dan korporasi. Pemerintah harus mempelopori sistem rekrutmen dan kenaikan jabatan yang berbasis pada output kinerja dan rekam jejak integritas, bukan berdasarkan kepemilikan gelar akademik tertinggi. Ketika gelar tidak lagi menjadi satu-satunya tangga karier politik atau jabatan struktural, maka insentif untuk berburu ijazah instan dengan sendirinya akan lenyap.
Kedua, reorientasi kurikulum berbasis karakter dan andragogi (pendidikan orang dewasa). Pendidikan harus dikembalikan pada khitahnya untuk membangun manusia yang utuh. Di era kecerdasan buatan (AI) saat ini, pengetahuan teknis sangat cepat usang. Yang membuat seseorang bertahan dan dipercaya di dunia kerja jangka panjang adalah soft skills yang kokoh: kejujuran (integritas), kemampuan beradaptasi, empati, dan etika kerja.
Kembali ke Khitah
Pada akhirnya, ijazah hanyalah penanda masa lalu—sebuah bukti bahwa seseorang pernah duduk di bangku sekolah atau kuliah. Namun, kepercayaan publik adalah penentu masa depan. Kepercayaan tidak bisa dicetak di atas kertas tebal berhologram, tidak bisa dibeli dengan uang, dan tidak bisa dipaksakan melalui SK pejabat.
Mari kita hentikan kegilaan mengejar berhala kertas ini. Sudah saatnya para pendidik, orang tua, dan pengambil kebijakan bahu-mambahu mengembalikan marwah pendidikan kita. Sebab, sebuah bangsa tidak akan maju hanya karena rakyatnya kaya akan ijazah, melainkan karena bangsanya kaya akan manusia-manusia berkompetensi tinggi yang bisa dipercaya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah dosen Fakultas Ilmu Keislaman (FIK) dan Magister PAI Universitas Raden Rahmat (Unira) Malang.
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.
































