Jakarta, Tugumalang.id – Ada hal berbeda yang menjadi rangkaian acara tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 pernikahan Surya Burhanuddin dan Sjenny Djamain, minggu (3/5/2026) di Grand Kemang, Hotel, Jakarta.
Hal berbeda itu adalah peluncuran buku eksklusif setebal sekitar 350 halaman. Buku ini dicetak eksklusif berwarna dengan kertas art paper. Selain itu, ada pembungkus buku yang membuat penerimanya merasa bahwa buku ini adalah buku eksklusif.
“Saya pernah dapat buku dari raja di Malaysia, eksklusif banget bukunya dan saya ingin buat seperti itu,” kata Surya.

Baca juga: Penuh Kesan dan Menginspirasi, Tasyakuran Pernikahan 50 Tahun Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain
Buku berjudul ‘50 tahun perjalanan kasih’ ini setidaknya memuat tiga tema utama. Pertama perjalanan kehidupan Surya dan Sjenny yang menikah pada 1 April 1976.
Kedua, 32 tahun Surya belajar dan berkarya di PT Pupuk Sriwidjaja, dan 30 tahun Surya menuntun sekitar 700 pelajar untuk bisa kuliah di Malaysia dan menjadi insan global.
Buku ini ditulis sendiri oleh Surya Burhanuddin.”Sekitar empat bulan saya menulis buku ini hingga akhirnya baik cetak,” katanya.
Dalam proses menulis buku, hingga mengurus penerbitan serta percetakannya, Surya belajar satu hal: jika kita bersungguh-sungguh dan berani melangkah, maka akan bertemu pada kesuksesan.”Saya kan orang teknik, ternyata saat semuanya di mulai, ternyata saya bisa menulis dan mengurus penerbitannya,” katanya.
“Kalau kita melangkah, kita akan sukses tapi bisa juga gagal, tapi kalau gak melangkah, pasti gagal,” imbuhnya.
Prosesi launching buku ditandai dengan pemberian buku kepada tokoh yang mempengaruhi kehidupan Surya yakni Dr Ir Nanang Soesetyo Soetadji MM, atasan Surya saat berkarya di PT Pupuk Sriwidjaja, pengusaha Firdaus AB, dan perwakilan dari kampus Surya kuliah dulu.
Surya merangkum intisari dalam buku tersebut dengan menulis seperti ini:
Senja di Beranda Kehidupan
Ketika waktu beranjak menuju senja, Surya dan Sjenny duduk berdua di beranda rumah mereka yang tenang di satu sudut di Kota Malang. Angin sore berhembus lembut, membawa aroma kenangan dari masa muda, masa perjuangan, dan masa penuh cinta.
Kini, di usia senja, keduanya tak lagi berkejaran dengan waktu. Mereka hanya ingin menikmati setiap detik yang tersisa, sambil merenungkan perjalanan panjang yang telah membawa mereka sampi di titik ini. Senja selalu datang dengan langkah perlahan, menghadirkan warna lembut di langit dan bayangan panjang di bumi. Begitu pula kehidupan Surya dan Sjenny yang kini berada di tepian perjalanan, di beranda senja kehidupan mereka.
Baca juga: Sharing Session Tugu Media Group, Surya Burhanuddin Tekankan Kekuatan Mimpi
Surya teringat masa-masa ketika dirinya berlari menembus rimba kehidupan, demi masa depan anak-anaknya dan anak-anak orang lain. Kini, setelah semua perjuangan itu terlalui, ia duduk tenang menandang hasil dari benih yang pernah ia tanam. Bukan hanya keberhasilan mereka semua menembus langit menggapai dunia, tetapi juga mereka yang dulu hanya punya mimpi kecil, bahkan ada yang tak punya mimpi, kini tumbuh menjadi cahaya di negeri-negeri jauh.
Sjenny menatap surya dengan mata yang lembut. Ia tahu, di balik setiap keberanian Surya, ada pergulatan batin yang panjang. Ada luka yang tak terlihat, ada letih yang tak pernah diucapkan. Namun cinta dan keyakinan selalu menjadi pelita yang membuat langkah mereka tak pernah padam.
Langit semakin jingga. Senja kian memudar. Namun hati mereka justru semakin terang, karena di balik redupnya cahaya hari, ada rasa syukur yang tak pernah pudar. Mereka menatap ke depan, bukan untuk mengejar apa yang belum tercapai, melainkan untuk menikmati ketenangan apa yang telah mereka perjuangkan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Irham Thoriq
redaktur: jatmiko


















