Oleh: Irham Thoriq*
Tugumalang.id – Bisnis justru tidak menarik ketika hanya berbicara bisnis. Hanya berbicara keuntungan. Lha, kok bisa?
Kesimpulan dangkal itu saya dapat dari lawatan ke Jakarta pada medio Februari lalu. Sekitar lima hari. Dalam rangka perjalanan bisnis. Bahasa kerennya seperti itu. Bahasa jalanannya dalam rangka mencari uang. Mencari omzet.
Waktu itu, menjelang Ramadan. Ramadan berlalu, terbitlah lebaran. Lebaran, ada Tunjangan Hari Raya (THR) yang harus ditunaikan. Sebagai pengusaha fresh graduate, tentu momen THR harus dipikirkan jauh-jauh hari. Jika tidak, bisa menguras dana cadangan perusahaan yang dalam.
Di Jakarta, ada sekitar tujuh pihak yang terkait dengan bisnis kami. Tiga di antaranya adalah Paragon Corp (Wardah, Kahf, Emina, Make Over dll), Astra Internasional, dan Gojek Indonesia. Entah kebetulan atau tidak, tiga perusahaan itu adalah perusahaan asli Indonesia, yang menjadi market leader di industri masing-masing.
Kita mulai dari Paragon Corp, yang terkenal dengan produk-produk kecantikannya. Perusahaan keluarga ini didirikan pasangan suami istri yakni Nurhayati Subakat dan Subakat Hadi.
Lahir sejak 38 tahun lalu dari sebuah gang sempit di Kampung Baru Ulujami, Jakarta, Paragon Corp yang membawahi Wardah, Kahf, Emina, Make Over, Tavi, Biodef, Labore, Instaperfect, dan Crystallure itu bertransformasi dari perusahaan yang mulanya karyawannya hanya bisa dihitung oleh jari.
Kini, Paragon Corp membawahi sekitar sepuluh ribu karyawan. Sejak 2002 silam, Paragon rata-rata berkembang kurang lebih 20 persen setiap tahunnya.
Di Paragon Corp kami bertemu dengan tim Marketing Komunikasi (Markom) dan tim media buying perusahaan tersebut. Bersama mereka kita membahas sejumlah program yang bisa di kolaborasikan.
Sehari setelah dengan mereka, saya dan tim yakni General Manager (GM) tugumalang.id, Rubianto, bertemu dengan dua CEO Paragon Corp yakni, Harman Subakat dan Salman Subakat.
Pertama saya bertemu dengan Harman Subakat. Baru pertama kali ini saya bertemu dengan Harman. Sebagaimana adiknya yakni Salman, Harman adalah pengusaha nasional yang rendah hati. Kepada Harman, saya wawancara soal beyond business, sebuah tema yang dipilih Paragon Corp untuk ulang tahun ke-38.

Menurut Harman beyond business artinya adalah bisnis harus bermanfaat. Semakin besar bisnis, harus semakin besar manfaatnya. Dari tahun ke tahun, nilai-nilai kemanfaatan selalu digaungkan. Saat Paragon Corp ulang tahun ke-35 misalnya, temanya adalah penggerak kebaikan. Juga ada gerakan-gerakan lain seperti Stronger for The Greater Good.
Beyond Business juga merupakan komitmen yang kata Harman selalu digaung-gaungkan kepada Paragonian, julukan karyawan Paragon Corp. Jadi, bukan kita tumbuh untuk bermanfaat, tapi karena kita ingin memberi manfaat, makanya kita terus tumbuh. Dengan beyond business tersebut, bisnis menjadi mangasyikkan karena ada nilai-nilai luhur selain hanya keuntungan semata.
Dengan gaya bicara yang hampir sama, di tempat berbeda Salman menjelaskan kalau beyond business selalu menjadi panduan di Paragon Corp. Dia mencontohkan soal target dan angka-angka, yang ditonjolkan adalah nilai-nilai dan kebermanfaatannya.
Dengan demikian, tema beyond business tujuannya untuk memperkuat value Paragon Corp, termasuk untuk mengingat-ingat dalam perjalanan 38 tahun. Apa niat utama perusahaan tersebut didirikan.
Dengan semangat beyond business inilah, baru-baru ini didirikan Nurhayati Subakat Entrepreneur Institute (NSEI) untuk menerjemahkan nilai-nilai didirikannya perusahaan tersebut.

Selain ke Paragon Corp, kita menemui tim komunikasi Astra Internasional. Kita ditemui Mbak Putri dan Mbak Regina. Sebagaimana Paragon Corp, Astra Internasional yang merupakan aset bangsa juga menerapkan prinsip-prinsip beyond business.
Perusahaan yang masuk dalam daftar tiga besar perusahaan terbesar di Indonesia (versi majalah Fortune Indonesia 2022) ini, mempunyai nilai Catur Dharma yakni menjadi perusahaan yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Kedua, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Ketiga, menghargai individu dan membina kerja sama. Darma keempat, senantiasa mencapai yang terbaik. Selain membangun dengan nilai-nilai, Astra Internasional juga terkenal dengan CSR (Corporate Social Responsibility) yang sangat berdampak.
Di Jakarta, aset bangsa yang kita temui adalah perwakilan Gojek Indonesia. Di sebuah kafe di Tangerang, kita bertemu dengan Yondi Hartanto. Head of Regional Corporate Affairs Gojek for East Java, Bali, and Nusa Tenggara. Dari Mas Yondi, kita belajar soal bagaimana Gojek Indonesia menerapkan sistem kerja yang begitu fleksibel tapi tetap produktif.
Dalam sebuah wawancara dengan Gita Wirjawan, CEO GOTO, Andre Soelistyo menyebutkan, bahwa sebesar apa pun perusahaan, serta secanggih apapun inovasi, perusahaan tidak boleh kehilangan moral kompasnya. Lagi-lagi, ini pelajaran beyond business dari Jakarta.
Banyak ilmu yang kita dapat dalam perjalanan ke Jakarta. Setelah berganti bulan, ternyata lawatan kita ke Jakarta juga menghasilkan secara material. Omzet dari Jakarta itu, bisa buat tambah-tambahan untuk THR karyawan.
Bisa disebut, ini adalah Berkahf Jakarta. Ya, berkahf, saya tidak salah tulis. Plesetan dari berkah. Ini sebagaimana tagline salah satu produk Paragon Corp yakni Kahf, yang salah satu tagline-nya ‘berkahf’.
Selain parfum dan sabun wajah pria yang menemani perjalanan kami selama di Jakarta, berkahf bisa menjadi spirit bahwa di setiap gerak langkah, ada berkah. Dengan demikian, bisnis tidak hanya soal cuan dan omzet, tapi juga soal keberkahan. Bagaimana menurut Anda?.
*Penulis adalah CEO Tugu Media Group (tugumalang.id dan tugujatim.id).
Editor: Herlianto. A