Tugumalang.id – Universitas Brawijaya (UB Malang) turut andil dalam membantu kebutuhan air bersih para korban bencana Sumatera. Mereka mengirim bantuan alat penjernih air portabel ke wilayah terdampak bencana.
Program ini merupakan kolaborasi lintas fakultas, yang diinisiasi oleh Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK), Muhammad Fakhri, S.Pi., M.P., Ph.D., dan dikembangkan secara teknis oleh dosen Fakultas Teknik (FT), Dr. Eng. Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM.
Total ada sebanyak 10 unit alat penjernih air dan 10 unit genset diberangkatkan terlebih dahulu menuju Palembayan, Kabupaten Agam, salah satu wilayah yang membutuhkan dukungan akses air bersih. UB juga merencanakan distribusi alat ke berbagai lokasi lain berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan di lapangan.
Baca Juga: UB Malang Latih Juleha Jelang Idul Adha 2025: Pastikan Hewan Kurban Sehat dan Penyembelihan Halal
Riyanto Hariwibowo menerangkan jika inovasi alat penjernih air ini berangkat dari kebutuhan nyata saat terjadi bencana, ketika akses terhadap air bersih sering kali terputus. Ide pembuatan alat tersebut jelas dia muncul dari kegiatan pengabdian UB yang fokus membantu korban bencana di Sumatera Barat.
“Dalam situasi bencana, akses air bersih sering terputus, sehingga dibutuhkan alat yang praktis, mudah dipindahkan, dan mampu menghasilkan air layak pakai dengan cepat,” terangnya.
Alat penjernih air yang dikembangkan tim FT ini menggunakan sistem filtrasi dan sterilisasi bertingkat. Unit tersebut dilengkapi Multi Sand Filter FRP 1035, empat unit housing filter 10 inci berisi sedimen dan karbon aktif, serta sterilisator UV kapasitas 12 GPM. Sistem ini juga ditunjang oleh pompa air, panel listrik, pressure gauge, serta rangka galvanis dengan pipa PVC.
Baca Juga: UB Malang Latih Juleha Jelang Idul Adha 2025: Pastikan Hewan Kurban Sehat dan Penyembelihan Halal
“Alat ini kami lengkapi dengan unit filtrasi dan sterilisasi bertingkat, mulai dari Multi Sand Filter untuk menyaring kekeruhan, housing filter berisi sedimen dan karbon aktif, hingga sterilisator UV untuk memastikan air bebas bakteri. Semua komponennya memang kami rancang agar mudah dipindahkan dan digunakan langsung di lapangan,” jelas Riyanto.
Proses perancangan alat dilakukan dengan menitikberatkan pada kebutuhan darurat di lokasi bencana. Mulai dari desain awal, pemilihan komponen, proses fabrikasi, hingga pengujian fungsi, seluruh tahapan disusun agar alat siap digunakan begitu tiba di lokasi terdampak.
”Dalam proses pengembangannya kami mulai dari kebutuhan lapangan, yaitu menyediakan alat yang dapat menghasilkan air mendekati kualitas air minum namun tetap compact. Setelah perancangan, kami melakukan pemilihan komponen, fabrikasi, instalasi pipa dan kabel, serta pengujian fungsi agar alat benar-benar siap digunakan dalam kondisi darurat,” katanya.
Pengiriman alat penjernih air ini menegaskan kontribusi UB dalam mengoptimalkan peran perguruan tinggi bagi kemanusiaan, mendukung penanganan bencana dan pelayanan air bersih di daerah terdampak.
Kolaborasi lintas fakultas ini menunjukkan bahwa riset dan inovasi kampus dapat diimplementasikan secara langsung untuk membantu masyarakat, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat dan pemulihan bencana.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























