Tugumalang.id – Berbicara tentang ikon wisata di Malang Raya, sulit untuk tidak menyebut Alun-Alun Kota Batu. Tempat ini bukan sekadar ruang terbuka hijau, melainkan saksi bisu transformasi Kota Batu dari kecamatan administratif di bawah Kabupaten Malang hingga menjadi kota wisata mandiri yang bersinar.
Perkembangan Alun-alun Kota Batu dari masa ke masa hingga menjadi jantung pariwisata utama kota berjuluk Swiss Kecil ini menjadi kisah menarik tersendiri. Berikut kepingan sejarah kecil Alun-alun Kota Batu dari masa ke masa yang dihimpun tugumalang.id:
1. Era Awal: Lapangan Desa hingga Pasar Kaget

Jauh sebelum riuh oleh lampu warna-warni hingga bianglala, Alun-Alun Batu hanyalah sebuah lapangan rumput biasa skala desa.
Baca Juga: Spot Sarapan Pagi Terbaik di Sekitar Alun-Alun Kota Batu
Pada masa kolonial Belanda abad ke-17 hingga awal kemerdekaan, fungsinya hanya terbatas untuk kegiatan upacara, olahraga hingga pasar kaget.

Selain itu, Belanda membangun kawasan ini sebagai pusat perkantoran, pusat perniagaan dan tempat istirahat. Pada 1942, Belanda juga masih sempat merenovasi lapangan ini menjadi Alun-alun dengan air mancur di tengahnya. Saat itu dinamakan Taman Tari Banyu.
2. Era 1970 : Dibangun Monumen Apel

Pada era 1970, kawasan ini digubah menjadi pusat dan etalase wajah kota dengan menonjolkan monumen apel sebagai hasil bumi khas Kota Batu.
Baca Juga: Tata Ruang Alun-Alun Kota Batu Disorot, Ruang Publik Kian Tergeser Parkiran
Namun tak bertahan lama pada 1980, kawasan ini juga sempat beralih fungsi menjadi pasar. Saat itu, Kota Batu masih menjadi kecamatan administratif di bawah nauangan Pemerintah Kabupaten Malang.
3. Era 2001: Momen Kelahiran Kota Wisata

Alun-alun Kota Batu menjadi saksi sejarah Kota Batu yang resmi menjadi kota otonom yakni pada 17 Oktober 2001. Saat itu, Wali Kota Batu pertama yakni Imam Kabul menyadari bahwa alun-alun harus menjadi “ruang tamu” atau etalase wajah kota.
Sejak saat itu, penataan pedagang kaki lima (PKL) dan penghijauan mulai dilakukan secara bertahap. Selain itu, pemerintah juga menghadirkan ikon buah apel hingga sapi perah sebagai simbol hasil bumi mereka. Tidak heran jika saat itu, Kota Batu punya sebutan kota apel.
3. Era 2011: Transformasi Alun-alun Modern
Wajah Alun-Alun Batu yang dikenal sekarang bermula dari renovasi besar-besaran pada Tahun 2011. Pemkot Batu yang saat itu dipimpin Eddy Rumpoko melakukan langkah berani dengan menambahkan aksen modern dan menghapus kesan tradisional yang kaku.
Beberapa perubahan ikonik yang diperkenalkan saat itu juga meliputi pengadaan wahana Ferris Wheel atau Bianglala. Saat itu, Kota Batu terkenal memiliki alun-alun pertama di Indonesia yang memiliki wahana permainan permanen di tengah kota.

Tak hanya bianglala, Pemkot Batu juga merenovasi air mancur di tengah Alun-alun hingga menghadirkan patung apel besar yang ikonik. Patung buah lain dan sapi perah juga dibuat dengan ukuran jumbo.
Selain itu, kawasan ini juga ditambah dengan kehadiran para PKL yang menyajikan suasana kulineran. Tidak heran kemudian Alun-alun menjadi destinasi wisata hemat yang ramai dikunjungi,
Saat ini, Alun-Alun Kota Batu kian berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang luar biasa karena menjadi magnet utama wisatawan untuk beristirahat dan jalan-jalan berburu kuliner jajanan di Pasar Laron.
Deretan kuliner legendaris seperti Pos Ketan Legenda 1967 menjadikan kawasan ini surga bagi pecinta makanan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A


























