Dugaan penyadapan ilegal tersebut disebut berlangsung sejak 2025 hingga Oktober 2026. Aksi itu diduga memanfaatkan akses ke server khusus Lawful Interception Management System (LIMS) tanpa melalui verifikasi resmi untuk kepentingan penegakan hukum.
Kasus ini membuka perhatian publik terhadap rentannya privasi dan keamanan data, bahkan bagi pejabat setingkat kepala negara. Perkembangan teknologi intelijen digital juga membuat penyadapan semakin sulit dideteksi.
Baca juga: Presiden Prabowo Minta Mitigasi Bencana Diperkuat, Anggaran Harus Ditambah
Berbagai perangkat dan perangkat lunak penyadap modern kini memiliki kemampuan menembus sistem keamanan ponsel hingga infrastruktur komunikasi. Bahkan, beberapa di antaranya dapat mengakses perangkat tanpa memerlukan persetujuan pemiliknya.
Deretan Alat Sadap Canggih di Dunia
Berikut enam alat dan teknologi penyadapan canggih yang dikenal dalam dunia intelijen digital.
1. Pegasus (NSO Group-Israel)
Pegasus merupakan spyware yang dikenal memiliki kemampuan eksploitasi zero-click.
Teknologi ini mampu menyusup ke perangkat iOS maupun Android tanpa tindakan dari korban. Pengguna tidak perlu mengeklik tautan atau membuka pesan tertentu agar perangkatnya terinfeksi.
Setelah berhasil masuk, operator dapat membaca pesan terenkripsi seperti WhatsApp atau Signal, menyadap panggilan, mengakses GPS secara real time, hingga mengaktifkan mikrofon dan kamera secara diam-diam.
2. Predator (Intellexa/Cytrox-Eropa)
Predator merupakan perangkat lunak pengintai komersial yang memanfaatkan tautan berbahaya atau manipulasi jaringan iklan untuk menyusup ke perangkat target.
Setelah berhasil menginfeksi perangkat, Predator memberikan akses kepada operator untuk mengambil riwayat perbankan, rekaman panggilan VoIP, serta mengekstraksi dokumen dan galeri foto.
3. IMSI Catcher/Stingray (Teknologi Menara BTS Palsu)
IMSI Catcher atau Stingray merupakan perangkat keras yang menyamar sebagai menara pemancar BTS seluler.
Ponsel di sekitar lokasi dapat terkoneksi secara otomatis ke perangkat tersebut. Teknologi ini mampu menyadap pesan teks dan panggilan yang belum terenkripsi, sekaligus memetakan lokasi pemilik ponsel secara presisi.
4. ECHELON (Aliansi Five Eyes)
ECHELON merupakan jaringan pemantau komunikasi global yang dikaitkan dengan aliansi intelijen Five Eyes. Aliansi tersebut terdiri atas Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.
Sistem ini bekerja dengan memanfaatkan jaringan pemantauan berbasis satelit dan pencegat kabel serat optik bawah laut.
Kemampuannya mencakup pemindaian lalu lintas data antarnegara secara massal menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis kata kunci dalam komunikasi diplomatik hingga transaksi keuangan.
5. Portable Interception Kits (Koper Downgrade Sinyal)
Portable Interception Kits merupakan perangkat penyadap portabel yang dapat memaksa ponsel di sekitar area target berpindah atau mengalami downgrade dari jaringan 4G/5G ke jaringan 2G.
Karena sistem enkripsi 2G relatif lemah, operator perangkat ini dapat menyadap percakapan telepon sekaligus mengidentifikasi perangkat yang berada di sekitar lokasi, termasuk saat berlangsungnya sebuah pertemuan.
6. Backbone Intercept (Pencegat Jalur Utama Internet)
Backbone Intercept merupakan teknologi penyadapan yang memanfaatkan perangkat keras yang dipasang langsung pada jalur kabel transmisi utama internet.
Perangkat ini dapat bertindak sebagai Man in the Middle (MitM) untuk menyalin dan membaca paket data yang melintasi jaringan internet global tanpa mengurangi kecepatan transmisi.
Ancaman Penyadapan di Era Digital
Kasus dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo menjadi pengingat bahwa keamanan komunikasi dan privasi data menghadapi tantangan besar seiring perkembangan teknologi intelijen digital.
Kemampuan berbagai perangkat penyadap modern menunjukkan bahwa ancaman terhadap privasi tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga pejabat tinggi negara.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko






































