Tugumalang.id – Aliansi Petani Padi dan Palawija Organik Boyolali (APPOLI) mengembangkan pertanian organik sekaligus memberdayakan masyarakat di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Upaya tersebut dilakukan melalui pendampingan budidaya, pengelolaan hasil panen, hingga pemasaran produk pertanian organik.
Komunitas yang berdiri sejak 2015 ini berupaya mengubah pandangan sebagian petani konvensional yang menganggap pertanian organik kurang praktis dan tidak memberikan hasil secara instan.
Ketua APPOLI Boyolali, Siswadi Endro Subroto, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut dilakukan dengan mendampingi petani agar mulai beralih ke pertanian organik dan meninggalkan penggunaan bahan kimia.
Hingga Oktober 2026, tercatat sebanyak 1.214 petani menjadi anggota APPOLI dengan luas lahan sekitar 329 hektare.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 458 petani telah menjadi anggota penuh dengan luas lahan 170 hektare. Sementara itu, anggota lainnya masih dalam tahap menuju pertanian organik.
“Yang sudah anggota penuh, sudah kita layani dengan baik mulai budidaya terus panen dan hasil panen kita beli, juga kita bantu pasarkan. Sedangkan untuk yang sisanya baru menuju organik dan masih tahap konversi organik dan itu baru di tingkat pelatihan,” jelas pria yang akrab disapa Endro, Senin (2/11/2026).
“Harapannya kemudian meninggalkan kimia, jadi seperti pra menuju organik,” tambahnya.
Sementara itu, bagi petani yang belum bergabung dengan kelompok tani atau belum beralih ke pertanian organik, APPOLI tetap memberikan bantuan. Namun, hasil panen mereka belum bisa dibeli karena belum memenuhi kriteria organik. Hasil panen tersebut akan disalurkan kepada pihak lain yang menjadi mitra.
Berdayakan Petani Lokal Lewat Pertanian Organik

Endro mengakui, sebagai kelompok tani di daerah, APPOLI merasa terbantu dengan dukungan Aliansi Petani Indonesia (API). Dukungan tersebut tidak hanya membantu pemberdayaan petani lokal, tetapi juga membantu kelompok tani memiliki badan hukum.
Baca juga: Kisah Wahyudi, Pegiat Pertanian Organik Asal Ngawi yang Rela Berkendara Motor hingga Sumatera
Dalam pemberdayaan anggota, APPOLI mengutamakan kebutuhan pangan petani terlebih dahulu. Sebelum hasil panen dikelola, petani diminta mengamankan stok pangan untuk kebutuhan sendiri. Sisanya baru dijual.
Untuk mekanisme iuran anggota, pembayaran dilakukan saat panen. Ketika hasil panen dijual kepada APPOLI, petani dikenai potongan Rp 20 ribu sebagai iuran. Dengan demikian, iuran tidak dibayarkan setiap bulan.
“Kami membeli hasil panen setelah mereka (petani) mengamankan stok untuk makan dulu. Jadi sisa untuk makan, dijual dan itu kami beli. Sehingga hasil panen nanti berputar bukan disimpan di gudang tetapi ada di petani, karena kami putar ke kelompok petani lain,” terangnya.
Dalam pengelolaan pertanian organik, APPOLI memiliki dua divisi, yakni bidang budidaya serta pengolahan dan pemasaran. Kelompok ini juga menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi, di antaranya Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS), dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Selain perguruan tinggi, APPOLI bekerja sama dengan pemerintah, pihak swasta khususnya perusahaan pupuk, serta kelompok tani lainnya. Kerja sama tersebut berkaitan dengan pemanfaatan teknologi pertanian modern yang ramah lingkungan.
“Kami ada dua divisi, dua kamar yang satu bidangnya budidaya, yang satu di pengolahan dan pemasaran. Di budidaya, sepanjang tahun tugasnya melakukan pelatihan kepada pembuat bibit, pembuat pupuk, obat, menanam, memanfaatkan sumber air yang terbatas,” urai Endro.

“Kami juga menggandeng perguruan tinggi, misalnya dibantu. Kami juga bekerja sama dengan pemerintah, kelompok tani yang juga ada alat-alat pertanian, kemudian perusahaan pupuk. Baru-baru ini kami juga penjajakan kerja sama dengan salah satu perusahaan dari Jakarta untuk penggunaan air yang ramah lingkungan,” imbuhnya.
Dari sisi pemasaran, produk pertanian organik APPOLI Boyolali cukup diminati masyarakat. Terutama kalangan yang sudah memahami manfaat produk organik serta memiliki kepedulian terhadap kesehatan dan lingkungan.
“Pemasarannya, karena kami organik lebih banyak kelas menengah ke atas, karena mereka peduli kesehatan. Secara budget (harga) lebih siap dan biasanya kesehatan isu lingkungan menjadi perhatian mereka,” jelasnya.
Libatkan Pemuda dan Perempuan
Pengelolaan pertanian organik APPOLI Boyolali juga melibatkan pemuda dan perempuan. Langkah ini dilakukan untuk mendorong produktivitas hasil pertanian sekaligus membuka peluang pekerjaan baru bagi masyarakat sekitar.
Endro mengatakan, pemuda dan perempuan memiliki peran penting dalam memasarkan produk pertanian organik APPOLI. Pemberdayaan tersebut tidak hanya membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pertanian.
Ia mengaku terbantu dengan pendampingan API dalam upaya memberdayakan pemuda dan perempuan di Boyolali.
“Kami merintis bersama API membentuk petani muda. Mereka membuat konten-konten kreatif, seperti tentang penyuluhan. Ini menarik karena mereka mengajak masyarakat ke dunia pertanian, karena sekarang yang dijual bukan hanya produknya tetapi juga proses-prosesnya itu. Membuat menarik karena dikemas dalam bentuk video, tulisan, maupun gambar aktivitas pertanian yang dilakukan,” beber Endro.
Melalui berbagai program pemberdayaan tersebut, Endro berharap semakin banyak petani yang memiliki kesadaran untuk beralih ke pertanian organik.
Selain itu, keterlibatan pemuda dan perempuan dalam kegiatan APPOLI diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Boyolali dan sekitarnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko






































