Tugumalang.id – Perempuan harus membangun kesadaran diri seutuhnya saat memilih hidup. Tanpa ikut tren sosial, melangkah dengan hati dan berani menanggung resiko. Itulah pesan yang tersirat dalam buku “Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas” karya Rinda Puspasari.
Karya sastra pengembangan diri setebal 427 halaman itu diperkenalkan ke publik dalam acara peluncuran sekaligus bedah buku di Cafe Mami Combi, Kota Malang pada Sabtu (23/10/2026). Sontak saja, penulis buku itu langsung dibanjiri pertanyaan publik yang menasaran.
Buku itu merupakan buku keempat Rinda Puspitasari sebagai penulis produktif asal Malang. Buku sebelumnya yakni Bertemu Mutiara, Indonesia (2024), Di Bawah Langit yang Bukan Milikku (2025), Koi: Dari Kolam Kaisar ke Nusantara – Jejak Waktu dan Rahasia Gigi yang Berbisik (2025), dan Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas (2026).
Baca Juga: Bedah Buku Reset Indonesia Buka Diskusi Gagasan Indonesia Baru di Malang
Berbeda dari karya karya sebelumnya, kali ini Rinda mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan keluarga. Mulai dari bagaimana mempersiapkan perempuan menghadapi kedewasaan, mengenali dirinya sendiri, mengambil keputusan di tengah berbagai keinginan, perasaan dan tekanan lingkungan.

Melalui buku tersebut, Rinda mengajak pembaca melihat bahwa bekal pendidikan, nilai agama, moral dan nasihat keluarga tetap penting. Tetapi perlu dilengkapi kemampuan memahami diri dan mempertimbangkan konsekuensi dari setiap pilihan.
Gagasan itu berangkat dari sebuah cerita sederhana. Seorang teman pernah bercerita kepada Rinda tentang anak perempuannya yang sejak kecil dikenal pandai, penurut, dan jarang membantah orang tua.
Namun ketika mulai beranjak dewasa dan mengenal lawan jenis, perubahan sikap gadis tersebut membuat orang tuanya kesulitan memahami apa yang sedang dialaminya.
Baca Juga: Bedah Buku Filsafat untuk Pemalas: Tidak Ada Persoalan dalam Filsafat
Pengalaman itu memunculkan pertanyaan yang kemudian menjadi salah satu pijakan penulisan buku ini. Apakah anak yang selama ini tumbuh dengan baik dan terbiasa mematuhi aturan sudah tentu siap menghadapi kompleksitas kehidupan ketika mulai menentukan pilihannya sendiri.
“Dari situ saya mulai berpikir bahwa mungkin selama ini kita sudah memberikan banyak bekal kepada anak perempuan soal pendidikan, nilai agama, moral, nasihat, aturan tentang yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tetapi ketika ia mulai memiliki kehendaknya sendiri, persoalannya ternyata jauh lebih rumit,” kata Rinda.
Menurutnya, memasuki kedewasaan bukan hanya tentang bertambahnya kebebasan. Pada fase ini, seseorang juga berhadapan dengan keinginan untuk dicintai dan diterima, ketertarikan terhadap orang lain, kedekatan emosional, rasa penasaran hingga berbagai dorongan yang dapat memengaruhi keputusan.
Di tengah situasi tersebut, mengetahui mana yang benar dan salah tidak selalu cukup. Seseorang bisa memahami sebuah aturan, tetapi kadang tetap kesulitan menjalankannya. Terutama saat perasaan, keinginan, ketakutan, kebutuhan akan penerimaan dan konsekuensi nyata hadir pada saat yang bersamaan.
“Mengetahui bahwa sesuatu tidak baik belum tentu membuat seseorang tidak menginginkannya. Karena itu, selain nilai yang datang dari luar, seorang perempuan juga perlu membangun kemampuan dari dalam untuk mengenali dirinya, memahami batas, melihat risiko dan bertanggung jawab terhadap pilihannya,” ucapanya.
Dalam buku Rinda, judul Untuk Perempuan 17 Tahun ke Atas tak dimaksudkan untuk menetapkan usia tertentu sebagai batas mutlak kedewasaan. Bagi Rinda, angka 17 merupakan simbol masa ketika seseorang mulai memperoleh ruang lebih luas untuk menentukan pilihan. Sementara kemampuan mengenali diri belum tentu berkembang seiring dengan bertambahnya usia.
“Pada suatu titik dunia mulai berkata, ‘Kamu sudah cukup besar untuk memilih.’ Pertanyaan saya justru: apakah kita sudah cukup mengenali diri untuk tahu mengapa kita memilih sesuatu?” ujarnya.
Pertanyaan tersebut menjadi inti pembahasan buku ini. Rinda tidak menawarkan satu pola hidup yang dianggap paling benar bagi semua perempuan. Pernikahan, karier, keluarga, kemandirian, maupun pilihan hidup lainnya tidak ditempatkan sebagai tujuan yang wajib diikuti setiap orang.
Yang ingin didorongnya adalah kesadaran sebelum mengambil keputusan. Apakah seseorang memilih karena benar benar menginginkannya, karena nilai yang diyakini, karena tekanan lingkungan, atau karena takut kehilangan dan tidak diterima.
“Buat saya persoalannya bukan hanya pilihan apa yang akhirnya diambil, tetapi dari mana pilihan itu lahir. Dua perempuan bisa membuat keputusan yang sama, tetapi berangkat dari kesadaran yang sama sekali berbeda,” jelasnya.
Meski menyasar perempuan, buku Rinda juga ditujukan kepada orang tua dan kalangan laki laki. Rinda menilai bahwa mempersiapkan anak menghadapi kedewasaan tidak cukup dilakukan dengan memperbanyak aturan.
Orang tua juga perlu membantu anak membangun kemampuan untuk berpikir, mengenali perasaan, memahami batas, mempertimbangkan risiko dan bertanggung jawab atas keputusannya.
“Anak yang penurut belum tentu anak yang sudah siap memilih. Pada akhirnya kita tidak mungkin menjaga anak perempuan selamanya hanya dengan pagar. Suatu hari ia harus mempunyai kompasnya sendiri,” kata dia.
Bagi Rinda, kompas tersebut adalah kesadaran diri yang membantu seseorang menentukan arah hidup ketika orangtua tidak lagi berada di sampingnya.
Laki laki juga memiliki peran penting dalam percakapan ini. Hubungan yang sehat menurutnya, menuntut kedua pihak untuk memahami batas, menghormati keputusan pasangan, serta menyadari bahwa ketertarikan dan kasih sayang tidak memberikan hak untuk mengatur tubuh atau kehidupan orang lain.
“Sebuah hubungan yang sehat tidak dibangun hanya oleh perempuan yang pandai menjaga dirinya. Ia dibangun oleh dua manusia yang sama sama mampu menjaga dirinya sendiri dan menghormati manusia yang ada di hadapannya,” ujarnya.
Rinda tidak menjanjikan bahwa kesadaran diri akan membuat seseorang selalu terhindar dari kesalahan. Namun, dengan lebih memahami alasan di balik pilihannya, seseorang diharapkan dapat menjalani kehidupan secara lebih bertanggung jawab.
“Saya tidak berharap pembaca selesai membaca buku ini lalu berkata sekarang saya tahu bagaimana saya harus hidup. Saya justru berharap ia mulai lebih sering bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa saya memilih ini,” ungkapnya.
“Jadi saya harap setelah baca buku ini, perempuan lebih sadar dalam memilih apapun dalam hidupnya, kembali ke diri sendiri maunya apa, mau jadi perempuan seperti apa. Lalu apakah dengan keputusan yang diambil itu bisa menanggung resiko dan bertanggungjawan atas pilihan hidup itu,” tandasnya.
Sebagai informasi, Rinda Puspasari, S.Pi., M.P. adalah penulis dengan latar belakang pendidikan perikanan dan budidaya perairan. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana dan Magister di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya dan pernah mengajar di fakultas yang sama.
Pengalaman akademik dan penelitiannya membawanya ke Jepang melalui program di Hiroshima University dan studi pascasarjana dan kegiatan penelitian di University of Miyazaki pada 2014-2020. Kegiatan risetnya turut menghasilkan publikasi dalam jurnal ilmiah internasional Crop Science dan Plant and Soil.
Dalam kepenulisannya, Rinda banyak berangkat dari pengalaman, perjalanan, pengamatan, riset, serta pertanyaan-pertanyaan tentang manusia dan kehidupan. Karya karyanya bergerak melintasi tema perjalanan, memoar, ilmu pengetahuan, sejarah, budaya, alam, dan kehidupan perempuan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A






































