Malang, Tugumalang.id – Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Andreas Eddy Susetyo, menargetkan penanaman mangrove seluas 10,5 hektare setiap tahun di Pantai Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna. Target ini menyusul kesiapan kawasan tersebut menjadi pionir bursa karbon berbasis komunitas di Indonesia.
Aksi penanaman mangrove itu turut dihadiri Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto, Tri Rismaharini, Eriko Sotarduga, jajaran DPC PDIP Malang Raya, kader, simpatisan, dan masyarakat umum pada Sabtu (18/10/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian community development yang diinisiasi Andreas pekan ini.
Didampingi Saptoyo dan Lia Putrinda, tokoh penggerak konservasi mangrove CMC Tiga Warna, Andreas memulai komitmen penanaman berkelanjutan di kawasan tersebut. Perdagangan karbon diharapkan tidak hanya memberikan dampak lingkungan, tetapi juga manfaat ekonomi bagi masyarakat yang terlibat.
Bagi Andreas, yang mengawal kegiatan konservasi di kawasan itu sejak 2019, penanaman mangrove menjadi langkah baru bagi warga pesisir untuk terlibat dalam agenda lingkungan berskala global. Anggota Komisi XI DPR RI itu menjelaskan, pendampingan akan dilanjutkan dengan berbagai tahapan, termasuk sertifikasi internasional.
‘‘Jika ini berhasil, maka akan menjadi percontohan bagi masyarakat pesisir di daerah lain. Target besar kita adalah menjadikan kawasan ini terdaftar di bursa karbon pertama berbasis komunitas. Ini jadi starting point kita yang tentu tidak mudah dan perlu proses panjang,’’ ungkap pengusaha cum politisi PDI Perjuangan tersebut.
Baca juga: BAKN RI dan OJK Dorong Pantai CMC Tiga Warna Jadi Pionir Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas
Andreas juga menyiapkan cetak biru perdagangan karbon berkelanjutan yang berdampak pada perekonomian lokal. Salah satu langkah yang direncanakan adalah menerapkan teknologi silvofishery, yakni budi daya ikan berbasis organik di ekosistem mangrove, yang dipadukan dengan ekowisata.
‘‘Sebuah kebijakan harus bisa dirasakan oleh mereka yang benar-benar menanam dan merawat. Jadi perdagangan karbon dan nilai ekonomi lingkungan tak hanya dinikmati korporasi besar, tapi langsung oleh komunitas lokal yang menjaga pantai ini,’’ ungkap dia.
Menurut Andreas, model penanaman mangrove di CMC Tiga Warna tidak akan berhenti di pesisir Malang. Gerakan ini diproyeksikan meluas ke berbagai kawasan pesisir Indonesia, mulai dari Surabaya dan Gresik hingga Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua.
Baca juga: Dari Gersang Menjadi Hijau, Transformasi CMC Tiga Warna Lewat Konservasi dan Ekowisata
Gerakan tersebut juga akan disinergikan dengan Tunas Hijau yang melibatkan generasi muda, pelajar, hingga keluarga. Kolaborasi ini diharapkan menjadi pemantik kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.
‘‘Kerusakan lingkungan sudah kita rasakan dampaknya, dan bumi ini akan kita wariskan kepada anak cucu. Menjaga dan merawat pertiwi harus menjadi komitmen bersama seluruh elemen bangsa demi menyelamatkan masa depan Indonesia,’’ harapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko

































