Tugumalang.id – Kawasan ekowisata Pantai Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Malang, Jawa Timur berpotensi berkontribusi dalam pengembangan ekonomi hijau nasional. Potensi besar yang dimiliki adalah perdagangan karbon (blue carbon) yang memiliki nilai ekonomi secara nasional.
Potensi tersebut mendapat perhatian dari Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) RI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Pantai CMC Tiga Warna ini dinilai punya kapasitas besar menjadi pionir dalam perdagangan karbon voluntary (sukarela) berbasis komunitas di Indonesia.
Bahkan, Ketua BAKN RI, Andreas Eddy Susetyo mengungkapkan bahwa potensi besar blue carbon dari ekosistem mangrove di CMC Tiga Warna telah menarik perhatian investor global.
Baca Juga: OJK Dorong Literasi Finansial Mahasiswa Lewat Edukasi Keuangan di Malang

Dalam side event World Water Forum (WWF) beberapa waktu lalu, sejumlah korporasi multinasional sudah siap untuk membeli kredit karbon berbasis komunitas dari Indonesia.
“Banyak perusahaan besar di Amerika yang sebetulnya sudah menanti. Perusahaan-perusahaan ini sangat menginginkan agar aksi pelestarian bumi juga membawa dampak ekonomi nyata dan menyejahterakan masyarakat lokal,” ujar Anggota Komisi XI DPR RI tersebut.
Untuk menangkap peluang tersebut, BAKN DPR RI bersama OJK dan BEI tengah merancang langkah strategis guna mengintegrasikan komunitas lokal ke dalam ekosistem perdagangan karbon nasional. Langkah awal ini diwujudkan melalui peluncuran gerakan berkonsep 3C, yaitu Conservation, Conversation, dan Community.
Baca Juga: Tunjukkan Tren Peningkatan Sampai Juli 2024, OJK Malang Pastikan Sektor Jasa Keuangan Terjaga Stabil
“Ide dasarnya menjadikan CMC Tiga Warna sebagai pionir merangkul komunitas mangrove se-Indonesia. Kami memanfaatkan jaringan kantor perwakilan OJK dan Bursa Efek Indonesia di daerah-daerah untuk melakukan percepatan pembentukan komunitas ini,” tegasnya.
Andreas menambahkan bahwa pengelolaan bursa karbon berbasis komunitas ini menjadi peluang kerja baru yang menjanjikan bagi generasi muda. “Ini adalah jawaban dan alternatif nyata bagi anak-anak muda yang sedang mencari lapangan kerja. Selain melestarikan bumi, kita juga bisa mendapatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan dari sana,” ungkapnya.
Sejak bursa karbon resmi diluncurkan pada September 2023, kata Andreas, variasi suplai unit karbon di Indonesia diakui masih terbatas dan didominasi oleh pelaku usaha tingkat korporasi.
”Adanya kredit karbon berbasis blue carbon dari kawasan mangrove ini dinilai sebagai langkah terobosan untuk memperkaya variasi instrumen perdagangan karbon nasional,” kata dia.
Sementara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menjelaskan bahwa OJK siap melakukan intervensi khusus untuk melengkapi seluruh rantai pasok ekosistem karbon berbasis komunitas.
“Kawasan konservasi mangrove seperti CMC Tiga Warna ini menghasilkan blue carbon berkualitas tinggi dan diminati pasar domestik dan korporasi internasional. Namun, untuk sampai pada tahap perdagangan di bursa karbon, kita perlu membangun ekosistemnya dari hulu ke hilir secara terintegrasi,” papar Hasan.
Hasan menerangkan pihaknya siap melakukan proses pendampingan bersama kementerian dan lembaga terkait untuk mengawal kepastian legalitas, sertifikasi dan verifikasi MMR hingga integrasi ke sistem pencatatan unit karbon terverifikasi ke dalam SRN-PPI (Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim).
Hasan mengungkapkan berdasar kajian akademis terakhir pada tahun 2021, potensi penyerapan emisi karbon di kawasan CMC Tiga Warna tercatat sangat signifikan.
Untuk penyerapan emisi di atas tanah (above-ground), kapasitasnya mencapai sekitar 3.600 ton ekuivalen. Sementara penyerapan di bawah tanah (below-ground) mencapai kurang lebih 5.800 ton ekuivalen.
“Secara keseluruhan, penelitian awal menunjukkan potensi serapan hampir mencapai 10.000 ton ekuivalen hanya dari satu titik kawasan CMC ini saja,” jelas Hasan.
Mengingat penelitian tersebut dilakukan lima tahun lalu dan kawasan mangrove terus dijaga serta diperluas melalui pola pengelolaan ekowisata dan eduwisata, angka penyerapan aktual pada verifikasi terbaru diproyeksikan akan jauh lebih tinggi.
Jika model konservasi terpadu CMC Tiga Warna ini diberdayakan bersama komunitas-komunitas mangrove lain di Indonesia, akumulasi volume karbon yang dihasilkan tak hanya akan memenuhi syarat batas minimum kelayakan ekonomi, tapi juga mampu memberikan kontribusi angka pendapatan nasional yang substansial dari transaksi bursa karbon global.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


















