Malang, Tugumalang.id – Fenny Noviarma, pemilik nama panggung Fe, memulai perjalanan musiknya lewat single perdana berjudul “Selamat Datang”. Lagu tersebut menyiratkan pesan refleksi tentang fase hidup yang tak selalu mudah.
Tak semua perjalanan hidup harus berakhir dengan jawaban. Ada fase ketika manusia hanya perlu bertahan, menerima keadaan, lalu perlahan belajar berdamai dengan sesuatu yang belum selesai. Pesan itu disampaikan Fe melalui lagu “Selamat Datang”.
Mengusung genre pop dengan pendekatan emosional dan reflektif, lagu “Selamat Datang” dirancang untuk membawa pendengar menemukan pengalaman personal masing-masing.
Lagu tersebut terinspirasi dari catatan diary pribadi Fe yang kemudian diterjemahkan menjadi lirik oleh Johannes Febrianto Elyas. Catatan itu bercerita tentang fase kehidupan ketika seseorang dipaksa tumbuh dalam kondisi yang tidak selalu ideal, kehilangan arah, hingga menghadapi perjuangan yang kerap tak terlihat.
“Lewat lagu ini, saya ingin menunjukkan bahwa kehidupan tidak harus sepenuhnya selesai untuk bisa diterima. Justru dalam ketidakselesaian, seseorang dapat belajar melepaskan beban dan berdamai dengan dirinya sendiri,” kata Fe.
“Selamat Datang” Jadi Ruang Refleksi
Lagu ini dibuat terbuka dan dapat dimaknai sebagai cerita seseorang yang tengah menghadapi quarter-life crisis, perjalanan rumah tangga, perjuangan seorang ibu baru, maupun hubungan yang menjadi tempat pulang ketika hidup terasa kacau.
Pengalaman tersebut tak harus selalu disembunyikan. Gempuran badai, luka, kehilangan, dan ketidakpastian justru dapat menjadi bagian dari proses menemukan warna baru dalam kehidupan. Refleksi itu tergambar dalam lirik lagu ini.
“Dunia tak pernah berjalan seperti yang ku kira. Tumbuh meraba semua yang tak pernah ku lihat. Atau mungkin tak sempat melambat.”
Lirik kemudian bergerak menuju bagian yang lebih lapang melalui kalimat, “Selamat datang di sisa masa yang belum reda”. Aransemen musik seolah mengantarkan pendengar untuk mulai menerima keadaan dan merasakan kelegaan.
Pertemuan antara suasana gelap dan harapan menjadi benang merah karya tersebut. Fe menggambarkannya seperti langit yang dijahit oleh petir. Cahaya tidak selalu lahir dari sesuatu yang lembut, tetapi terkadang justru muncul setelah benturan dan kegelapan.
Baca juga: Single Perdana Abid Seiya Penyanyi Cilik asal Kota Batu, Gaungkan Lagu Anak yang Kian Redup
Perjalanan Fe menuju musik juga tidak datang secara tiba-tiba. Lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Ciputra itu pernah berkecimpung sebagai graphic designer dan stage photographer sebelum akhirnya menapaki industri musik.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi dalam membangun identitas visual dan pendekatan artistiknya.
Dalam hal musik, ia terinspirasi sejumlah musisi seperti Yungblud, Sir Chloe, dan Nadin Amizah. Selera musiknya pun cukup luas, mulai dari punk rock, ballad, classical, hingga lagu-lagu era 90-an. Keragaman tersebut menjadi bagian dari proses Fe menemukan warna musik yang paling merepresentasikan dirinya.
“Keputusan saya untuk mulai menciptakan karya musik juga mendapat dukungan penuh dari suami, yang menjadi salah satu sumber inspirasi terbesar dalam perjalanan bermusik saya,” tuturnya.
Melalui karakter vokal yang ringan, nuansa musik hangat, dan aransemen yang berkembang, ia mencoba menghadirkan pengalaman mendengar yang intim, tetapi tetap memiliki ruang makna luas.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko
















