Malang, Tugumalang.id – Talkshow bertajuk Pasar Hijau berlangsung interaktif di gedung Malang Creative Center (MCC), Jumat (2/10/2026). Berbagai isu ketahanan pangan dibahas untuk mendorong terciptanya ekosistem ketahanan pangan berkelanjutan di Kota Malang.
Talkshow yang menghadirkan sejumlah narasumber dari pemerintahan, akademisi, dan praktisi itu membahas arah kebijakan pangan dan gizi berbasis potensi sumber daya lokal. Selain itu, dibahas pula ekosistem green entrepreneurship di Kota Malang. Sejumlah UMKM juga tampak dalam kegiatan tersebut.
Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI Hamid Sangadji mengatakan, tantangan ketahanan pangan di wilayah perkotaan seperti Kota Malang tidak dapat dipungkiri adalah keterbatasan lahan.
“Akses penyediaan pangan di wilayah perkotaan, tentunya perlu berkolaborasi dengan pemerintah daerah di sekitarnya, baik dalam lingkup kabupaten maupun dalam skala provinsi. Sehingga ketersediaan pangan terjamin,” ujarnya.

Di Kota Malang, dia memandang peta strategi pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sudah terlihat. Bahkan, terdapat pelibatan berbagai elemen masyarakat, baik akademisi, praktisi, hingga masyarakat umum.
“Jadi berbicara ekosistem itu tidak hanya berbicara pada satu aspek. Tetapi juga bagaimana regulasinya harus ada dulu. Terus ketersediaannya, konsumsinya, sampai kepada evaluasi dan monitoringnya,” kata dia.
Baca juga: Dispangtan Kota Malang Dorong Ketahanan Pangan Lewat Pelatihan Budikdamber
Sementara itu, Koordinator Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) Abdullah Said memandang Kota Malang merupakan salah satu daerah dengan keterbatasan lahan pertanian. Di sisi lain, konsumsinya cukup besar seiring dengan pertumbuhan kota.
Dikatakan, 43 persen konsumsi pangan di Kota Malang didominasi anak muda, dalam hal ini mahasiswa. Kecenderungannya, mereka mengonsumsi pangan instan.
Dalam kondisi itu, produk petani minim diserap konsumen langsung lantaran lebih memilih pangan instan. Selain itu, kecenderungan mengonsumsi pangan instan juga berpotensi meningkatkan produksi sampah pangan.
“Dispangtan Kota Malang mencatat, ada 300 ton sampah makanan per hari. Tentu ini problem besar bagi Kota Malang, mau diapain apa limbah pangan ini,” ujarnya.
Untuk itu, dia mendorong pemerintah memetakan kebijakan agar ekosistem pengelolaan pangan dari petani hingga limbah industri pangan dapat ditata secara berkelanjutan.
“Jadi perlu ada kebijakan, buat forum multistakeholder dan mendorong pengusahan atau industri pangan membangun produk yang baik. Sehingga selain produknya sehat, limbahnya tak mencemari lingkungan,” ucapnya.
Sementara itu, Kabid Ketahanan Pangan Dispangtan Kota Malang Elfiatur Roikhah mengatakan indikator ketahanan pangan yakni ketersediaan, kemudahan akses, dan kemanfaatan. Dia mengakui Kota Malang memiliki keterbatasan lahan pertanian pangan.
“Strategi kami di Kota Malang adalah peningkatan kelompok urban farming. Kami bekerjasama dengan Universitas Brawijaya dalam mengembangkan komoditas ubi dan lainnya. Itu dibudidayakan di kelompok kelompok urban farming sebanyak 115 kelompok menggunakan sistem karung. Jadi ini untuk mengatasi keterbatasan lahan,” urainya.
Baca juga: Kota Batu Pimpin Program SIKAP, 32 Sekolah Terapkan Ketahanan Pangan di Malang Raya
Saat ini ada 12 komoditas pangan yang tengah dikembangkan di Kota Malang melalui skema urban farming. Jika diakumulasikan, produksi urban farming di Kota Malang telah mencapai 150 ton. Namun, seluruhnya masih banyak digunakan untuk kebutuhan pribadi rumah tangga masing-masing masyarakat.
“Kalau urban farming di Kota Malang ini memang tujuan utamanya adalah untuk ketahanan pangan keluarga, untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga dulu,” ujarnya.
Di sisi lain, Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Adi Srtiawan mengatakan pengembangan urban farming memang merupakan strategi ideal untuk kawasan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan dengan berbagai problematiknya.
Dikatakan, urban farming juga dapat dikembangkan produktivitasnya. Misalnya dengan mencukupi nutrisi, air, cahaya, dan ruang tumbuh tanaman.
“Permasalahan yang hari ini muncul bahkan di seluruh Indonesia adalah problem air. Ini yang mengakibatkan indeks panennya menurun, sehingga ketahanan pangan kita rendah. Keberadaan bendungan, irigasi air bisa disiapkan untuk produksi pertanian, itu meningkatkan indeks panen,” ucapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko
















