Tugumalang.id – Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar kegiatan bedah buku dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 pada Kamis (24/9/2026). Menariknya, bedah buku itu mengungkap rahasia cinta ilahi dan spiritualitas pendidikan karakter.
Dalam agenda bedah buku itu, Unikama menggandeng penerbit Gramedia. Penguatan literasi tersebut juga menghadirkan dua akademisi sekaligus penulis nasional, yaitu Ach. Dhofir Zuhry dan Dr. Sita Acetylena, M.Pd., untuk mengupas karya fenomenal Secret of Divine Love karya A Helwa.
Melalui pencerahan mendalam mengenai esensi agama yang berlandaskan kasih sayang hingga pentingnya memanusiakan manusia, Unikama menegaskan komitmennya sebagai kampus berwawasan multikultural yang berfokus membentuk generasi muda berintelektual tinggi, berkarakter luhur, dan berjiwa humanis.
Baca Juga: Senada Festival #2 Unikama Jadi Panggung Ekspresi Seni Mahasiswa
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unikama, Dr. Choirul Huda, M.Si., menyampaikan apresiasi kajian literasi dihadapan ribuan mahasiswa baru itu.
Terlebih, pemilihan buku spiritual di tengah masa pengenalan kampus dinilai mampu memberikan dorongan mental dan fondasi karakter yang kokoh bagi mahasiswa baru.
“Ach Dhofir Zuhry menulis juga buku Filsafat untuk Pemalas, itu bagus banget. Hari ini kita mencoba membedah suatu buku yang Insyaallah sangat baik sekali. Di khazanah Islam, kita mengenal ada Rabiah Al-Adawiyah bagaimana beliau mencari cinta, mencari Keilahian dan segalanya. Mari merenungkan dan kembali mendengarkan wejangan wejangan tetesan yang hari ini kita butuhkan,” ucapnya.
Perwakilan Tim Gramedia dari Penerbit Elex Media Komputindo, Hediansyah menyatakan komitmennya untuk terus menjalin kerja sama strategis bersama Unikama. Ia menegaskan dukungan penuh terhadap pengembangan ekosistem membaca dan menulis di lingkungan kampus.
Baca Juga: Perkuat Mutu Pendidikan, Unikama Jalani Asesmen Akreditasi Perguruan Tinggi
“Dalam buku Secret of Divine Love, kita mempelajari agama itu bukan cuma atas dasar harus, wajib, kalau tidak dikerjakan dosa, kalau dikerjakan dapat pahala, tidak cuma itu. Di situ kita membahas bagaimana agama ini didasari dan dikerjakan atas dasar cinta,” tuturnya.
Proses pembelajaran di perguruan tinggi menuntut transformasi paradigma dari pemikiran dogmatis menuju pemahaman mendalam yang berbasis compassion dan empati kemanusiaan.
Diskusi bedah buku ini membuka ruang kontemplasi bagi para mahasiswa baru untuk memahami bahwa ilmu pengetahuan dan nilai nilai spiritual harus berjalan selaras.
Lewat pendekatan tasawuf yang menyejukkan dan gagasan pendidikan karakter yang transformatif, mahasiswa diajak untuk merefleksikan kembali hakikat diri, memperkuat kesehatan mental melalui kesadaran self love dan menjadikan kasih sayang sebagai landasan utama dalam berinteraksi di lingkungan bermasyarakat.
Penulis buku Filsafat Timur (Bukan) untuk Pemalas, Ach. Dhofir Zuhry atau yang akrab dipanggil Gus Dhofir, memaparkan makna hakiki beragama dari sudut pandang tasawuf. Penerjemah karya A Helwa ini menyoroti fenomena sosial di mana ajaran agama sering kali dipahami secara kaku sehingga mengabaikan sisi kemanusiaan.
“Jadi betapa banyak di antara kita yang tanda kutip mabuk agama, dia lupa bahwa tujuan beragama itu adalah menjadi manusia. Jadi tujuan agama kata penulis buku ini adalah di teks aslinya how to humanize human being, memanusiakan manusia. Ta’nisul insan kata tasawuf sebenarnya, memanusiakan manusia. Baru yang kedua nanti ta’nisul illah, memanusiakan nilai-nilai Tuhan,” jelasnya.
Penulis buku Pendidikan Karakter Ki Hadjar Dewantara, Dr. Sita Acetylena, M.Pd., melengkapi diskusi dengan mengulas kekuatan cinta serta peran perempuan dari sudut pandang pendidikan karakter.
Akademisi ini menekankan pentingnya penerimaan tanpa syarat yang dicontohkan oleh sosok ibu sebagai refleksi cinta tertinggi di dunia.
“Siapakah pusat cinta di bumi, di dunia ini? Yaitu adalah seorang ibu. Tidak ada manusia siapapun di dunia ini yang ikhlas menerima segala kekurangan, kelebihan orang lain yaitu anaknya. Bagi calon ibu dan menjadi anak merasakan kasih sayang ibu, laki laki perempuan sama,” urainya.
“Helwa membuktikan bahwa seorang perempuan memiliki sebuah kekuatan yang luar biasa dan dibutuhkan untuk dunia ini, yaitu kekuatan spiritual berupa cinta. Betapa hebat pun laki laki mengelola dunia ini, tanpa kekuatan cinta dari seorang perempuan dan dari seorang ibu yang penuh keikhlasan, tidak akan berhasil,” sambungnya.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk menghidupkan kembali empati serta melakukan kesadaran self love sebelum menebarkan kebaikan kepada masyarakat luas.
“Orang yang tidak punya cinta, dia bukan manusia. Sebelum kita mencintai orang lain, apalagi mencintai Tuhan, cintailah diri kita sendiri dulu. Mencintai diri bukan egois, tapi diri kita harus kita hargai, harus kita tumbuhkan, kita upgrade, kita bahagiakan, kita harus bahagia,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A






























