Malang, Tugumalang.id – Bagi seorang Surya Burhanuddin, pernikahan bukanlah sebuah akhir dari dua insan yang saling mencintai. Namun sebuah proses mengambil alih tanggung jawab dari pundak orang tua beralih ke suami.
Bagi Surya tanggung jawab sebagai seorang suami dan imam adalah fondasi penting dalam membangun rumah tangga. Alasan inilah yang membuatnya butuh waktu cukup lama untuk mempersunting Sjenny, ia ingin memiliki pekerjaan yang lebih mapan dulu.
Begitulah Surya memahami tentang perjalanan takdir. Selama tujuh tahun bersama Sjenny, ia memupuk cinta, menata keberanian, dan menunggu saat yang tepat untuk pantas berdiri di hadapan keluarga sang pujaan hatinya itu.
Surya ingin dipandang bukan sebagai lelaki yang tengah mengejar mimpi, melainkan sebagai lelaki yang siap menanggung amanah.
“Tujuh tahun lamanya memupuk cinta, menata keberanian, dan menunggu saat ketika dirinya pantas berdiri di depan keluarga besar Sjenny, bukan lagi sebagai lelaki yang tengah mengejar mimpi, melainkan sebagai lelaki yang siap menanggung amanah,” kenang Surya.
Kemudian kisah berlanjut di awal tahun 1975, ketika Surya bekerja sebagai karyawan Pupuk PT Sriwidjaja (baca: Sriwijaya). Di sana ia menerima tugas besar, tak main-main harus membuka Kantor Perwakilan Proyek Sarana Distribusi (PSD) di Padang untuk wilayah Sumatera Barat dan Riau.
Baca juga: Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 1: Perjalanan Takdir dan Pohon Cinta
Kota yang sangat berkesan bagi Surya, dulu hanya dikenalnya sebagai tanah kelahiran namun saat itu menyambutnya kembali sebagai tempat ujian kedewasaan.
Dalam menjalankan tugasnya, Surya bukan hanya mengatur operasional, mengatur dokumen, dan membentuk tim kerja, tapi juga memimpin, belajar menghadapi kepercayaan begitu besar di pundaknya.
Memasuki tahun 1976, Surya mendapat kepercayaan baru yakni membuka Kantor Perwakilan PSD untuk wilayah Sumatera Utara dan Aceh dengan berkantor di Medan. Tentu tugas ini menjadi tanggung jawab yang lebih luas baginya, sekaligus juga menjadi tanda bahwa langkahnya semakin mantap.
Di bagian inilah, Surya merasa sudah saatnya untuk melangkah ke jenjang yang lebih pasti.
Keyakinan Melangkah ke Jenjang yang Serius
Keluarga Surya kemudian berdiskusi. Dengan restu paman yang dihormati, Bapak Djailin Tamin yang pernah mejabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Mesir. Proses lamaran pun segera berlangsung dengan penuh tata krama dan rasa hormat.
Di sisi lain, keluarga besar Sjenny Djamain yang dipimpin Bapak Manai Sophian, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Soviet, menyambut dengan sukacita yang tak terbendung. Dua keluarga besar itu bertemu bukan sekadar dalam urusan adat, melainkan dalam rasa bangga yang sama, bahwa dua insan muda yang telah menempuh perjalanan panjang, kini siap membangun rumah tangga.
Lamaran berlangsung hangat, sederhana namun penuh makna. Tidak ada pesta berlebihan, tidak ada gemerlap yang menutupi niat. Yang ada hanya doa yang bergema di hati setiap orang, semoga keduanya dijaga oleh Tuhan dalam perjalanan panjang yang akan datang.
Menjelang hari sakral itu, rumah keluarga Sjenny di kawasan Kemang Jakarta Selatan, diselimuti suasana haru yang lembut. Malam itu digelar acara malam mappacci, tradisi luhur dari tanah Makassar yang sarat doa dan makna.
Baca juga: Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny Bagian 2: Langkah Sederhana nan Konsisten dan Pupuk Sriwidjaja
Di hadapan keluarga dan kerabat, daun pacar melambangkan kesucian hati dan restu kehidupan baru. Diiringi lantunan doa, tangan-tangan penuh kasih menorehkan harapan agar perjalanan dua insan ini kelak dipenuhi ketentraman, rezeki yang lapang, dan cinta yang tak lekang oleh waktu.
Hingga tiba di tanggal 30 April 1967 yang menjadi hari paling dinanti Surya dan Sjenny. Suasana berganti menjadi khidmat dan sakral.
Sjenny mengenakan busana adat Makassar yang anggun dengan corak yang menandakan kebangsawanan jiwa dan kelembutan budi. Sementara Surya berdiri tegap di sisinya, membawa rasa tenang dari darah Minangkabau yang mengalir di nadinya.
Langit Jakarta tampak cerah, seolah turut mengiringi langkah dua anak manusia yang akan bersatu dalam ikatan suci bernama pernikahan.
Di hadapan penghulu, keluarga, dan saksi, Surya Burhanuddin mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap. Kalimat itu sederhana tapi menggema di dada, sebuah janji untuk memimpin, melindungi, dan mencintai dengan segenap hati.
Di sisi lain, Sjenny menunduk haru. Dalam dirinya berputar kembali kenangan tujuh tahun perjuangan, masa-masa kuliah di ATN hingga doa yang diam-diam dia panjatkan.
Semua terbayar dalam satu detik kebahagiaan itu. Kini saksi telah mengucap sah itu berarti kini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih dalam ikatan suci pernikahan. Tidak ada yang bisa memutuskan tali itu, kecuali kematian.
Dua hari kemudian, 2 Mei 1976 resepsi digelar di Gedung Wisma Iskandarsyah, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Gedung itu ramai oleh keluarga, sahabat, dan rekan kerja. Di antara tamu yang hadir, tampak Bapak Ir Nanang Susetyo Soetadji, Kepala Proyek Sarana Distribusi PT Pusri, orang yang dulu mewawancarai Surya saat seleksi kerja. Beliau berdiri memberi sambutan, suaranya tenang dan berwibawa.
Bukti Cinta Sejati yang Tumbuh
Tahun – tahun itu menjadi bukti bahwa cinta sejati memang tumbuh bukan karena janji yang diucapkan, tapi karena kesetiaan dalam menunggu. Tujuh tahun mereka saling mendukung hingga akhirnya resmi naik pelaminan, membina biduk rumah tangga yang kelak akan berlayar hingga 50 tahun kemudian.
Setelah membina biduk rumah tangga di tahun 1976, waktu terasa berlalu begitu cepat. Kini, di tahun 2026, lima puluh tahun setelah dua jiwa disatukan dalam ikatan penuh kasih, Surya dan Sjenny kerap menoleh ke belakang dengan senyum penuh syukur.
Betapa tidak, perjalanan tujuh tahun dalam penantian yang dahulu terasa panjang dan penuh harap, kini hanya tampak seperti sekejap mata.
Memang benar, menunggu dalam cemas membuat waktu terasa terlalu lama, tetapi menikmati dalam lima puluh tahun bahagia membuat waktu terasa begitu cepat berlalu, cinta mereka layaknya pohon rindang yang tumbuh dari biji kecil di halaman kampus Cikini.
Akar-akar kesetiaan telah menembus tanah waktu, cabang-cabangnya menaungi anak-anak dan cucu yang bertunas dan bertumbuh di bawahnya.
Setiap kali Surya dan Sjenny mengenang hari pertama di tahun 1969 itu, mereka tahu cinta ini bukan kebetulan. Ia adalah takdir yang tumbuh perlahan, berakar dari kebiasaan, disirami kerja keras, dan berbuah manis di bawah cahaya kesetiaan.
“Cinta sejati memang tumbuh bukan karena janji yang diucapkan, tapi karena kesetiaan dalam menunggu. Tujuh tahun Surya dan Sjenny saling mendukung hingga akhirnya resmi naik pelaminan, membina biduk rumah tangga yang kelak akan berlayar hingga 50 tahun kemudian,” kenang Surya.
Tentang Buku 50 Tahun Perjalanan Kasih Surya & Sjenny (1976-2026)
Buku ini memberi makna dari peristiwa menuju renungan kehidupan ini. Tidak hanya melulu berbicara tentang kisah pribadi, seseorang, tapi lebih dari itu juga memberikan makna inspirasi dan motivasi yang luas tentang:
1. Daya juang dalam bekerja selama 32 tahun untuk meningkatkan nilai diri sendiri dan nilai tempat bekerja, dalam skala ruang wilayah Nusantara dan 5 benua dunia.
2. Bagaimana mendidik generasi muda sebagai aset dengan melakukan investasi global untuk menjadikan aset yang bernilai global.
3. Implementasi rasa syukur dengan memberi makna bagi kehidupan orang lain, melalui kedermawanan menuntun lebih dari 700 generasi muda Indonesia, menimba ilmu global lintas negara menembus langit menggapai dunia.
Buku ini secara tersurat memiliki 356 halaman, namun secara tersirat memiliki ribuan halaman makna. Jika pembaca ingin memiliki buku inspiratif ini dapat menghubungi +6017-290-9680 (Subur).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko































