Malang, Tugumalang.id – Desa wisata tidak cukup hanya menjual pemandangan. Kesiapan masyarakat menjadi bagian penting agar wisatawan mendapatkan pengalaman positif dan pulang membawa kenangan yang ingin diceritakan kembali.
Gagasan tersebut menjadi perhatian tim dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam program pengabdian masyarakat di Desa Gubugklakah, Poncokusumo, Kabupaten Malang. Program bertajuk “Model Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Well-Being dalam Mendukung Desa Wisata Berkelanjutan” itu tidak berhenti pada seminar satu hari, tetapi dilanjutkan dengan pendampingan masyarakat.
Tim diketuai Dr. Ahmad Ghozi, M.A., bersama apt. Hj. Alifia Putri Febriyanti, S.Farm., M.Farm.Klin., dosen Prodi Farmasi Fakultas Kedokteran, dan Nora Ria Retnasih, M.E., dosen Fakultas Ekonomi.
Baca juga: Geopark dan Rest Area Berkapasitas 15 Bus Akan Dibangun di Gubugklakah
Sekretaris Desa Gubugklakah Puji Laksana, S.E., M.M., menyambut baik program tersebut. Menurutnya, pendampingan itu menjadi momentum untuk menghidupkan kembali Gubugklakah sebagai desa wisata.
“Ini program yang sangat baik untuk mengembalikan Gubugklakah sebagai desa wisata seperti yang pernah diraih puluhan tahun lalu,” ujarnya.
Wisatawan Harus Pulang Membawa Kenangan
Ghozi mengatakan, salah satu persoalan dalam pengembangan desa wisata bukan hanya bagaimana mendatangkan wisatawan, tetapi juga memberikan pengalaman yang membuat mereka ingin kembali. Ia mengaitkannya dengan Sapta Pesona, khususnya unsur ketujuh, yakni kenangan.
Wisatawan, kata dia, idealnya tidak sekadar berkunjung, tetapi memperoleh pengalaman positif yang membekas setelah meninggalkan destinasi.
“Wisatawan harus mendapatkan pengalaman yang berkesan dan positif sehingga menjadi kenangan. Karena itu, masyarakat yang menerima wisatawan harus dipersiapkan,” kata Ghozi.
Atas dasar itu, penguatan masyarakat menjadi salah satu fokus pendampingan. Materi “Penguatan Mental dan Fisik Masyarakat dalam Mendukung Desa Wisata Berbasis Well-Being” disampaikan Dr. Fina Hidayati, M.A., dosen Fakultas Psikologi, bersama apt. Hj. Alifia Putri Febriyanti, S.Farm., M.Farm.Klin.
Kesiapan mental diperlukan agar masyarakat mampu berinteraksi dengan wisatawan secara terbuka, ramah, dan positif. Sementara kesiapan fisik menjadi bagian dari kemampuan masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada tamu yang datang.
Baca juga: Menuju Gunung Bromo? Singgahi Dulu Deretan Wisata Menarik di Sepanjang Jalur
Masyarakat Disiapkan Menjadi Tuan Rumah
Peserta yang terdiri atas kader penggerak desa dan anggota PKK terlihat antusias. Diskusi berkembang pada persoalan bagaimana masyarakat menghadapi perubahan ketika aktivitas wisata semakin berkembang.
Bagi tim pengabdian, pembangunan desa wisata pada akhirnya bukan hanya soal destinasi, promosi, dan jumlah kunjungan. Ada manusia yang menjadi tuan rumah di dalamnya.
Karena itu, pendampingan akan terus dilakukan untuk membangun kapasitas masyarakat Gubugklakah. Harapannya, wisatawan datang karena tertarik pada potensi desa, tinggal karena mendapatkan pengalaman, dan pulang dengan kenangan baik tentang Gubugklakah.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: UIN Malang
editor: jatmiko































