Oleh: Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog*
Memaknai hidup memang tidak pernah menjanjikan kebahagiaan yang terus-menerus atau ketenangan yang datang tanpa jeda.
Ada hari-hari yang cerah, tetapi ada juga hari-hari yang mendung, bahkan hujan deras tanpa aba-aba. Begitulah kehidupan berjalan silih berganti, tak pernah benar-benar bisa ditebak.
Begitu pun dengan kondisi psikologis individu. Terkadang manusia merasa kuat, mampu menghadapi apa saja. Namun, ada kalanya kekuatan itu menyusut, tinggal sedikit, atau bahkan terasa habis sama sekali.
Jika melihat situasi hari ini, rasanya semakin tidak membantu. Ketidakpastian ada di mana-mana, baik tentang pekerjaan, keuangan, maupun pendidikan.
Dunia nyata maupun dunia maya seolah tak pernah kehabisan kabar yang membebani. Setiap hari kita disuguhkan berita duka, kekerasan, korupsi, kebijakan yang terasa jauh dari kebutuhan kita. Belum lagi masalah pribadi, keluarga, atau persoalan orang lain yang ikut menimpa kita tanpa diminta.
Menghadapi Beban dan Tidak Menyerah
Kehidupan manusia memang begitu dinamis, sejak mereka lahir, bertumbuh, dan memasuki usia tua. Setiap orang memiliki bebannya masing-masing, seperti siswa yang bergulat dengan tuntutan akademik sekaligus godaan di sekelilingnya.
Mahasiswa yang dihantui ketidakpastian masa depan, tekanan tugas, dinamika pertemanan yang tak selalu mulus, ditambah beban ekspektasi dari orang tua maupun dari diri sendiri untuk selalu menjadi yang terbaik.
Baca juga: Marah dan Cara Mengelolanya dengan Bijak
Para fresh graduate yang berjuang di tengah ketatnya persaingan kerja. Orang-orang paruh baya yang harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan. Dan para lansia yang menyimpan kekhawatiran tentang masa depan anak cucu, sembari diam-diam bergulat dengan sepi.
Rasanya semua orang sedang menanggung sesuatu. Semua orang sedang tertekan dari berbagai arah, sampai kadang muncul satu bisikan kecil: rasanya ingin menyerah saja.
Tapi menyerah bukan satu-satunya pilihan, selama masih ada ruang untuk bertahan. Barangkali beberapa hal ini bisa menjadi tempat berpijak, sedikit demi sedikit:
- Kematian adalah bagian dari hidup: Ia akan datang pada waktunya. Tak perlu dipercepat, apalagi diusahakan.
- Penolakan bukan tanda kita sendirian: Saat merasa ditolak oleh seseorang atau oleh sebuah lamaran kerja, ingatlah, orang lain pun mengalami hal yang sama. Kita hanya sedang berjalan di jalan yang sama dengan banyak orang lain.
- Kegagalan adalah bagian dari bertumbuh: Ia bukan akhir, melainkan salah satu tahap yang memang harus dilalui untuk menjadi lebih utuh.
- Kehilangan adalah keniscayaan: Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar tinggal selamanya. Menyadari ini bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk membuat kita lebih menghargai apa yang masih ada.
- Kesalahan adalah ruang belajar: Setiap kekeliruan menyimpan pelajaran jika kita mau berhenti sejenak untuk melihatnya.
- Penilaian orang lain adalah urusan mereka: Orang akan terus menilai sesuai kacamata dan persepsi mereka sendiri, bukan sesuai keadaan kita yang sesungguhnya. Itu bukan tanggung jawab kita untuk dipikul.
- Rasa malu akan memudar: Kejadian yang hari ini terasa begitu memalukan, suatu saat akan dilupakan orang. Tak perlu terus disesali.
Akui Rasa Sakit dan Menemukan Jalan untuk Bertahan
Setelah membaca dan merenungkan penjabaran di atas, jika dalam diri masih terdapat keinginan untuk menyerah, mungkin ada baiknya bertanya kepada diri sendiri sekali lagi: apakah rasa sakit ini benar-benar membuat kita menyerah? Atau justru jangan-jangan yang sebenarnya diinginkan bukanlah menyerah, melainkan perasaan ingin berhenti dari rasa sakit.
Jika rasa itu muncul, seseorang tidak perlu begitu keras melawannya. Akui saja rasa sakit itu. Tidak apa-apa.
Sebab, mengakui rasa sakit bukan tanda bahwa manusia lemah, tetapi justru menjadi penunjuk untuk menemukan jalan agar benar-benar bertahan.
*Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko
Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.































