Rabu, September 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Bertahan, Bukan Menyerah!

Bagus Rachmad Saputra by Bagus Rachmad Saputra
September 16, 2026 3:43 pm
in Ruang Cendekia
Bertahan, Bukan Menyerah!
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog*

READ ALSO

Surat Imajiner Buat Gus Kikin

Sinergi Kurikulum: Mengakhiri Warisan Dualisme Pendidikan Kolonial

Memaknai hidup memang tidak pernah menjanjikan kebahagiaan yang terus-menerus atau ketenangan yang datang tanpa jeda.

Ada hari-hari yang cerah, tetapi ada juga hari-hari yang mendung, bahkan hujan deras tanpa aba-aba. Begitulah kehidupan berjalan silih berganti, tak pernah benar-benar bisa ditebak.

Begitu pun dengan kondisi psikologis individu. Terkadang manusia merasa kuat, mampu menghadapi apa saja. Namun, ada kalanya kekuatan itu menyusut, tinggal sedikit, atau bahkan terasa habis sama sekali.

Jika melihat situasi hari ini, rasanya semakin tidak membantu. Ketidakpastian ada di mana-mana, baik tentang pekerjaan, keuangan, maupun pendidikan.

Dunia nyata maupun dunia maya seolah tak pernah kehabisan kabar yang membebani. Setiap hari kita disuguhkan berita duka, kekerasan, korupsi, kebijakan yang terasa jauh dari kebutuhan kita. Belum lagi masalah pribadi, keluarga, atau persoalan orang lain yang ikut menimpa kita tanpa diminta.

Menghadapi Beban dan Tidak Menyerah

Kehidupan manusia memang begitu dinamis, sejak mereka lahir, bertumbuh, dan memasuki usia tua. Setiap orang memiliki bebannya masing-masing, seperti siswa yang bergulat dengan tuntutan akademik sekaligus godaan di sekelilingnya.

Mahasiswa yang dihantui ketidakpastian masa depan, tekanan tugas, dinamika pertemanan yang tak selalu mulus, ditambah beban ekspektasi dari orang tua maupun dari diri sendiri untuk selalu menjadi yang terbaik.

Baca juga: Marah dan Cara Mengelolanya dengan Bijak

Para fresh graduate yang berjuang di tengah ketatnya persaingan kerja. Orang-orang paruh baya yang harus menerima kenyataan pahit kehilangan pekerjaan. Dan para lansia yang menyimpan kekhawatiran tentang masa depan anak cucu, sembari diam-diam bergulat dengan sepi.

Rasanya semua orang sedang menanggung sesuatu. Semua orang sedang tertekan dari berbagai arah, sampai kadang muncul satu bisikan kecil: rasanya ingin menyerah saja.

Tapi menyerah bukan satu-satunya pilihan, selama masih ada ruang untuk bertahan. Barangkali beberapa hal ini bisa menjadi tempat berpijak, sedikit demi sedikit:

  1. Kematian adalah bagian dari hidup: Ia akan datang pada waktunya. Tak perlu dipercepat, apalagi diusahakan.
  2. Penolakan bukan tanda kita sendirian: Saat merasa ditolak oleh seseorang atau oleh sebuah lamaran kerja, ingatlah, orang lain pun mengalami hal yang sama. Kita hanya sedang berjalan di jalan yang sama dengan banyak orang lain.
  3. Kegagalan adalah bagian dari bertumbuh: Ia bukan akhir, melainkan salah satu tahap yang memang harus dilalui untuk menjadi lebih utuh.
  4. Kehilangan adalah keniscayaan: Pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar tinggal selamanya. Menyadari ini bukan untuk membuat kita takut, tetapi untuk membuat kita lebih menghargai apa yang masih ada.
  5. Kesalahan adalah ruang belajar: Setiap kekeliruan menyimpan pelajaran jika kita mau berhenti sejenak untuk melihatnya.
  6. Penilaian orang lain adalah urusan mereka: Orang akan terus menilai sesuai kacamata dan persepsi mereka sendiri, bukan sesuai keadaan kita yang sesungguhnya. Itu bukan tanggung jawab kita untuk dipikul.
  7. Rasa malu akan memudar: Kejadian yang hari ini terasa begitu memalukan, suatu saat akan dilupakan orang. Tak perlu terus disesali.

Akui Rasa Sakit dan Menemukan Jalan untuk Bertahan

Setelah membaca dan merenungkan penjabaran di atas, jika dalam diri masih terdapat keinginan untuk menyerah, mungkin ada baiknya bertanya kepada diri sendiri sekali lagi: apakah rasa sakit ini benar-benar membuat kita menyerah? Atau justru jangan-jangan yang sebenarnya diinginkan bukanlah menyerah, melainkan perasaan ingin berhenti dari rasa sakit.

Jika rasa itu muncul, seseorang tidak perlu begitu keras melawannya. Akui saja rasa sakit itu. Tidak apa-apa.

Sebab, mengakui rasa sakit bukan tanda bahwa manusia lemah, tetapi justru menjadi penunjuk untuk menemukan jalan agar benar-benar bertahan.

*Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang).

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

redaktur: jatmiko

Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.

Tags: Fakultas Psikologi UIN MalangPermasalahan HiduppsikologiUIN MalangUniversitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Related Posts

Surat Imajiner Buat Gus Kikin
Ruang Cendekia

Surat Imajiner Buat Gus Kikin

Selasa, 15 Sep 2026
Sinergi Kurikulum: Mengakhiri Warisan Dualisme Pendidikan Kolonial
Ruang Cendekia

Sinergi Kurikulum: Mengakhiri Warisan Dualisme Pendidikan Kolonial

Senin, 14 Sep 2026
Membaca Pesantren dari Akar Jawa: Mengurai Dikotomi Kelembagaan Tradisional
Ruang Cendekia

Membaca Pesantren dari Akar Jawa: Mengurai Dikotomi Kelembagaan Tradisional

Minggu, 13 Sep 2026
Marah dan Cara Mengelolanya dengan Bijak
Ruang Cendekia

Marah dan Cara Mengelolanya dengan Bijak

Sabtu, 12 Sep 2026
Nusantara Serumpun dan Poros Intelektual Islam yang Terlupakan
Ruang Cendekia

Nusantara Serumpun dan Poros Intelektual Islam yang Terlupakan

Jumat, 11 Sep 2026
Munir dan Jawaban “Gustiallah” di Lesehan Melawai
Ruang Cendekia

Munir dan Jawaban “Gustiallah” di Lesehan Melawai

Senin, 7 Sep 2026
Next Post
Beasiswa Program 1.000 Sarjana Kota Batu Targetkan 600 Mahasiswa pada 2027

Beasiswa Program 1.000 Sarjana Kota Batu Targetkan 600 Mahasiswa pada 2027

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Bunuh Diri, Mahasiswa Kedokteran UB Lompat dari Lantai 6

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.