Oleh: Fuji Astutik, M.Psi, Psikolog
MALANG, Tugumalang.id – Bolekah saya marah? Pertanyaan sederhana ini ternyata sering muncul dari berbagai kalangan usia, latar pendidikan, bahkan jenis kelamin.
Entah mengapa pertanyaan ini begitu ramai belakangan ini, dengan pemicu yang beragam. Marah karena masa lalu, marah karena keadaan, marah karena pengkhianatan, marah karena terlalu sering melihat kepura-puraan, kamuflase, dan ketidakadilan, sampai pada rasa marah terhadap keadaan dunia saat ini, “in this economy”.
Banyaknya stimulus atas kemarahan ini, nampaknya memicu kebutuhan akan validasi. Maka muncul kesimpulan sementara, bahwa untuk sekadar mengekspresikan emosi pun, manusia di era ini butuh persetujuan dan penguatan dari orang lain.
Pertanyaannya kemudian, apakah ini benar-benar pertanyaan yang butuh jawaban, atau justru sudah menjadi ekspresi dari kemarahan itu sendiri?.
Mengapa Orang Takut Marah?
Marah adalah ekspresi emosi dan sah-sah saja untuk diekspresikan. Lantas mengapa banyak orang justru takut untuk marah?. Jawabannya ada pada konsep moral tentang baik dan buruk yang terlanjur melekat pada kemarahan.
Marah kerap diidentikan dengan keburukan, sehingga demi diterima secara sosial, seseorang bahkan takut untuk marah, padahal setiap orang punya hak untuk merasakannya.
Ketakutan ini bukan tanpa alasan. Stigma buruk tentang marah bahwa ia identik dengan merusak, kekerasan, dan berbagai tindakan negatif lainnya, sudah terlanjur melekat. Padahal faktanya, marah tidak sama dengan menyakiti, marah tidak sama dengan kekerasan, dan marah tidak sama dengan merusak.
Bisakah Marah Tanpa Merusak?
Bisakah kita marah tanpa menyakiti, tanpa kekerasan, tanpa merusak? tentu saja bisa. Ada banyak cara mengekspresikan marah yang lebih sehat dan elegan, misalnya dengan cara SPB(T)U yaitu:
1. Sadari bahwa diri sedang marah;
2. Pahami apa yang memicu kemarahan itu dan mengapa hal tersebut memicu rasa marah;
3. Beri jarak dari sumber pemicu dan bergeser ke tempat yang lebih nyaman;
4. Tarik napas dalam dan panjang, ulangi beberapa kali;
5. Ucapkan istighfar atau afirmasi positif, sampai rasa marah perlahan mereda.
Cara ini jauh lebih ciamik dan elegan dibandingkan sekadar melampiaskan marah lewat kata-kata kotor atau makian.
Perubahan citra tentang marah tidak akan terjadi dalam semalam. Ia butuh proses kolektif, dibangun dari kebiasaan kecil setiap orang yang memilih mengekspresikan marahnya dengan cara yang tepat.
Jika semakin banyak orang melakukannya mungkin suatu hari nanti tidak akan ada lagi orang yang bertanya, bolehkah saya marah?. Karena marah sudah pulih citranya lewat perilaku orang-orang yang marah secara positif.
Jadi, Bolehkah Kita Marah?
Jawabannya boleh, yang tidak boleh adalah marah-marah. Apalagi sampai memancing dan memicu orang lain untuk ikut marah.
Mungkin validasi terbaik atas rasa marah bukan datang dari persetujuan orang lain, melainkan dari diri sendiri yang memahami cara marah yang sehat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang)
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com
editor: jatmiko






































