Malang, Tugumalang.id – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Strategis Universitas Brawijaya mengembangkan model penguatan kapasitas aparatur desa berbasis kecerdasan artifisial (AI) di Desa Wonorejo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Program itu kini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dilanjutkan melalui LMS self-paced dan aplikasi web sederhana.
Program tersebut merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Strategis Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Brawijaya (DRPM UB) Tahun 2026. Pelaksanaannya berdasarkan Kontrak Nomor 00833.26/DST/UN10.A0501/B/PM.01.01/2026 dengan fokus Pemberdayaan Aparatur Pemerintah Desa melalui Pelatihan Artificial Intelligence (AI).
Tim dipimpin M. Rizki Pratama, S.IAN., MPA. dari Fakultas Ilmu Administrasi UB. Anggota tim terdiri atas Endry Putra, S.I.Kom., M.I.Kom. dan Bayu Amengku Praja, S.Mn., M.Si.
Pelaksanaan lapangan juga melibatkan mahasiswa MMD. Mereka membantu pendampingan praktik, dokumentasi, pengumpulan umpan balik, serta pengelolaan bantuan belajar bagi peserta.
Kebutuhan penggunaan AI dipetakan dari pekerjaan aparatur sehari-hari. Penyusunan surat, laporan pertanggungjawaban, notulen, SOP, publikasi, hingga pengolahan data masih dapat menyita waktu.
Namun, penggunaan AI tanpa panduan juga memiliki risiko. Di antaranya keluaran yang keliru, penyebaran informasi yang belum terverifikasi, serta kemungkinan data pribadi warga masuk ke layanan AI publik.
Survei awal eksploratif terhadap 10 responden di Wonorejo dan Dawuhan menunjukkan seluruh responden menggunakan telepon pintar dan teknologi digital setiap hari. Tujuh responden juga dapat menggunakan laptop atau komputer.
Seluruh responden pernah mendengar AI dan mencoba setidaknya satu layanan AI. Meski demikian, kebutuhan praktis dan kekhawatiran mereka masih beragam.
Baca juga: Transformasi Pendidikan, Tim PKM-PM Eco-Guardians UB Dorong Karakter Holistik Anak Marginal
Kebutuhan yang muncul meliputi penyusunan LPJ dan surat, pembaruan data kependudukan, pembuatan RAB, pengelolaan media sosial, promosi usaha, pelayanan warga, serta pengolahan data. Kekhawatiran peserta mencakup penipuan daring, keamanan data pribadi, kesalahan penggunaan, hoaks, dan kemungkinan pekerjaan digantikan mesin.
Karena jumlah responden terbatas dan sebarannya tidak proporsional, data tersebut digunakan sebagai pemetaan awal. Data itu bukan gambaran statistik seluruh aparatur desa.
Pelatihan kemudian dirancang dengan prinsip active learning. Peserta tidak hanya mempelajari Gemini, NotebookLM, prompt engineering, etika AI, dan perlindungan data pribadi. Mereka juga mengerjakan contoh yang berkaitan dengan administrasi dan pelayanan desa.
Salah satu fondasi pembelajaran menggunakan kerangka S-P-I-F, yakni Subjek, Perintah, Informasi, dan Format. Kerangka itu membantu peserta menyusun instruksi yang lebih terstruktur kepada mesin AI.
Peserta juga diarahkan menyamarkan data, menggunakan data dummy saat latihan, dan memeriksa kembali setiap draf sebelum digunakan.
Prinsip human-in-the-loop diterapkan sepanjang kegiatan. AI digunakan sebagai asisten untuk mempercepat penyusunan draf dan eksplorasi gagasan. Manusia tetap memegang kewenangan untuk memverifikasi informasi dan mengambil keputusan.
Program menghasilkan tiga jalur pembelajaran. Pertama, Modul Gamifikasi dengan Gemini untuk membantu guru, siswa, dan mahasiswa merancang permainan edukatif.
Kedua, Modul Peningkatan Produktivitas Aparatur Desa dengan Gemini yang berfokus pada pekerjaan administratif dan komunikasi publik. Ketiga, Modul AI untuk Desa yang memadukan pembelajaran Gemini dan NotebookLM.
Materi Modul AI untuk Desa kemudian dikembangkan menjadi LMS self-paced yang dapat diakses melalui aidesa.kepublikan.web.id. Aparatur dapat mempelajari kembali materi secara bertahap, menyesuaikannya dengan waktu kerja, dan menggunakannya sebagai rujukan ketika menghadapi tugas baru.
LMS juga menjadi bagian dari strategi keberlanjutan program. Pengetahuan tidak sepenuhnya bergantung pada kehadiran fasilitator. Modul dapat dimanfaatkan kembali dan diadaptasi oleh aparatur maupun pelaksana pengabdian di desa lain.
Untuk menghubungkan pelatihan dengan pekerjaan sehari-hari, tim menyiapkan empat prototipe aplikasi web sederhana. Prototipe itu terdiri atas Generator Surat Keterangan Desa, Generator Alur SOP Desa, Generator Poster APBDes, dan Generator Postingan Media Sosial Desa.
Keempat prototipe tersebut tidak dimaksudkan menggantikan pemeriksaan aparatur atau prosedur resmi desa. Fungsinya sebagai contoh penerapan kompetensi yang dipelajari dalam pelatihan menjadi alat bantu yang mudah dicoba, diperbaiki, dan disesuaikan.
Jalur gamifikasi juga menghasilkan contoh Game Belajar Tata Surya, Game Belajar Finansial, dan Game Cita-Cita.
Melalui kelompok MMD, Wonorejo menjadi lokasi utama penguatan produktivitas aparatur. Dawuhan menjadi ruang adaptasi gamifikasi. Perluasan itu ditempatkan sebagai replikasi hasil, sedangkan Desa Wonorejo tetap menjadi mitra utama sesuai kontrak hibah.
Pengembangan dari pelatihan menuju LMS dan aplikasi web menjadi bagian dari upaya membangun model yang dapat direplikasi. Dalam program tersebut, aparatur mendapatkan materi yang dapat diulang, contoh penggunaan yang relevan, dukungan ketika menemui masalah, serta aturan yang melindungi data warga.
AI tetap ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti aparatur desa. Teknologi digunakan untuk membantu pekerjaan administratif lebih terstruktur, sementara aparatur tetap memegang kewenangan dalam verifikasi informasi dan pengambilan keputusan serta pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis PKM Strategis Universitas Brawijaya
editor: jatmiko































