Malang, Tugumalang.id – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga punya dampak bahaya bagi paru-paru. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama ketika paparan berlangsung berulang dan kualitas udara berada pada tingkat tidak sehat. Dosen Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dr. Zata Dini, Sp.P, memberikan edukasi mengenai dampak paparan asap karhutla sekaligus cara mengurangi risikonya.
Ia menjelaskan, asap karhutla merupakan campuran berbagai partikel dan gas yang terbentuk dari material yang terbakar. Salah satu komponen yang paling berisiko bagi paru-paru adalah particulate matter berukuran 2,5 mikrometer atau PM 2.5. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel tersebut dapat masuk hingga saluran napas kecil dan alveolus.
“Asap karhutla bukan hanya debu biasa. Di dalamnya terdapat partikel dan gas yang dapat mengiritasi saluran pernapasan, memicu peradangan, serta mengganggu fungsi paru,” jelasnya, Senin (31/8/2026).
Baca juga: Nikotin dalam Tembakau, Zat Adiktif yang Membuat Tubuh Sulit Lepas
Wanita yang juga dokter di Rumah Sakit Umum UMM menjelaskan bahwa karbon monoksida juga perlu diwaspadai karena dapat mengurangi kemampuan darah membawa oksigen. Sementara itu, nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan ozon dapat mengiritasi saluran napas serta memperburuk penyempitan bronkus. Ketika terhirup, zat tersebut dapat memicu batuk, peningkatan lendir, suara serak, mengi, hingga sesak napas.
Keluhan tersebut dapat muncul dalam waktu relatif singkat setelah seseorang terpapar asap. Mata perih, hidung tersumbat, tenggorokan terasa kering, sakit kepala, pusing, mual, dan rasa berat di dada juga dapat menyertai. Bagi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap dapat memicu kekambuhan atau memperburuk kondisi yang sebelumnya stabil.
Paparan yang berlangsung selama berhari-hari atau berminggu-minggu juga tidak boleh disepelekan. Peradangan saluran napas yang terjadi berulang dapat meningkatkan sensitivitas saluran pernapasan dan berpengaruh terhadap fungsi paru. Anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita penyakit kronis, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.
“Orang yang sebelumnya sehat bukan berarti sepenuhnya kebal terhadap polusi udara. Risiko tetap ada, terutama ketika konsentrasi polutan tinggi dan paparan berlangsung berulang,” tegasnya.
Baca juga: Rekomendasi Drakor Monster Paling Menegangkan dan Bikin Deg-degan
Untuk mengurangi paparan, masyarakat dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap terlihat pekat atau kualitas udara memburuk. Olahraga berat di luar ruangan sebaiknya ditunda karena aktivitas fisik membuat frekuensi dan volume pernapasan meningkat. Di dalam rumah, pintu dan jendela dapat ditutup ketika asap masuk. Penggunaan air purifier dengan filter HEPA juga dapat membantu mengurangi partikel halus.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, penggunaan masker seperti N95, KN95, atau KF94 yang terpasang rapat dapat memberikan perlindungan lebih baik terhadap partikel asap. Namun, masker tidak dapat menyaring karbon monoksida dan seluruh gas beracun. Karena itu, mengurangi paparan tetap menjadi langkah utama.
“Jika muncul sesak napas berat, nyeri atau tekanan di dada, kebingungan, penurunan kesadaran, bibir kebiruan, atau keluhan yang semakin memburuk, jangan menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pertolongan medis,”pesannya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko































