Jombang, Tugumalang.id – Ikatan Kecendekiawanan NU bersama Asosiasi Dosen NU (ASDANU) meluncurkan buku Imaji NU Masa Depan di tengah pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang.
Peluncuran berlangsung di Pondok Pesantren An-Najiyah Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (29/8/2026). Buku tersebut menjadi refleksi kritis atas arah perjalanan khidmah NU, khususnya dinamika relasi organisasi keagamaan tersebut dengan kekuasaan dan kebijakan negara.
Dosen Universitas Islam Malang (UNISMA) sekaligus salah satu penulis buku, Khoiron As-Saidany, mengatakan gagasan utama buku tersebut mendorong NU memiliki posisi tawar yang kuat di hadapan penguasa sekaligus menjalankan fungsi pengayoman masyarakat.
Ia menekankan pentingnya gagasan khidmah konvergensi. Konsep tersebut menempatkan NU tidak harus selalu konfrontatif dengan pemerintah, tetapi juga tidak tunduk atau menggantungkan diri pada kekuasaan.
“NU boleh bermitra dengan negara sepanjang itu baik untuk kepentingan masyarakat. Namun, NU juga harus bersikap kritis terhadap kebijakan negara yang merugikan masyarakat banyak, utamanya warga Nahdliyin,” ujar Khoiron.
Baca juga: Muktamar Ke-35 NU Pilih Mekanisme Baru Pemilihan Ketum PBNU

Posisi tersebut dinilai penting di tengah semakin terbukanya ruang keterlibatan warga NU dalam pemerintahan dan pengambilan kebijakan. Menurut Khoiron, kedekatan secara kultural maupun politik dengan penguasa tidak boleh menghapus fungsi kontrol organisasi masyarakat sipil.
Khoiron menuturkan, gagasan tersebut diilhami pesan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 1999 di Lirboyo. Mantan Presiden RI keempat itu menegaskan NU wajib menjaga jarak kritis dengan kekuasaan, bahkan ketika presiden dijabat kader NU sendiri.
Ia juga membantah anggapan peluncuran buku tersebut berkaitan dengan kontestasi politik dalam muktamar. Menurutnya, karya tersebut murni hasil kajian akademis warga Nahdliyin terhadap berbagai kebijakan negara.
“Ini murni pemikiran kita bersama. Teman-teman penulis mengkaji ulang berbagai macam kebijakan negara. Di saat yang sama kami adalah warga Nahdliyin yang mencintai dan mengikuti hati ulama,” jelasnya.
Gagasan dalam buku tersebut mendapat perhatian akademisi. Wakil Rektor Universitas KH A. Wahab Hasbullah (UNWAHA), Dr. Muhammad Wafiul Ahdi, mengapresiasi terbitnya Imaji NU Masa Depan yang dinilainya mampu merekam dinamika pemikiran dan harapan warga Nahdliyin.
Baca juga: Gus Kautsar Ungkap Makna Historis Muktamar NU di Tambakberas
Wafi menilai kemitraan antara NU dan pemerintah harus dikelola secara proporsional agar NU tidak menjadi subordinat kekuasaan. NU, kata dia, harus tetap memiliki kemandirian dalam menentukan sikap.
“Harus imbang. Ada elemen yang berada di dalam sistem untuk membantu mengeksekusi program-program pemerintah yang berpihak pada rakyat, dan ada juga yang berada di luar sebagai kekuatan penyeimbang (check and balances),” ungkap Wafi.
Ia berharap poin-poin refleksi dalam buku tersebut dapat dibaca dan diserap para pengurus NU di semua tingkatan. Mulai pengurus ranting hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), guna menjaga identitas NU sebagai bagian dari kekuatan masyarakat sipil (civil society) yang mandiri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko






























