Malang, Tugumalang.id – Warga Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, mulai didampingi memilah sampah dari rumah. Tim dosen Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) membagikan bak sampah individual untuk sampah basah dan kering.
Langkah itu dilakukan melalui program pengabdian kepada masyarakat (abdimas). Tujuannya menekan volume sampah yang diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Ketua Tim Abdimas ITN Malang Dr. Hardianto, ST., MT., mengatakan, pengelolaan sampah efektif dimulai dari rumah tangga. Selama ini, sampah basah dan kering masih kerap dicampur dalam satu wadah.
Sisa dapur, dedaunan, plastik, dan kemasan bahan disatukan. Kondisi tersebut menimbulkan bau, mengundang bibit penyakit, serta mempercepat penumpukan sampah harian.
Tumpukan sampah yang tidak terpilah juga menyulitkan proses daur ulang. Minimnya tempat sampah terpisah di rumah menjadi salah satu kendala warga menerapkan kebiasaan memilah sampah.
“Kalau sampah sudah terpilah antara yang basah dan kering dari rumah, proses pengolahan selanjutnya jadi lebih mudah dan bernilai ekonomi. Jangan sampai semua dibuang begitu saja ke TPA hingga menumpuk,” ujar dosen Teknik Lingkungan S-1 ITN Malang itu saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang, Jumat (28/08/2026).
Hardianto didampingi tim dosen multidisiplin dan melibatkan Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL). Kolaborasi tersebut mencakup edukasi pemilahan, kajian karakteristik sampah, hingga pemilihan spesifikasi tempat sampah yang awet dan praktis.
Di lapangan, tim membagikan bak sampah dengan dua kategori, yakni sampah basah dan kering. Bak sampah dibagikan ke rumah-rumah warga di 15 RW.
Warga juga diajak berdiskusi mengenai dampak lingkungan serta potensi pemanfaatan sampah basah dan kering.
“Pemilahan sampah ini juga berpotensi memberikan nilai ekonomi baru bagi warga. Sampah kering yang masih bisa diolah atau dijual seperti plastik, kertas, dan logam dapat disalurkan ke bank sampah. Sementara sampah basah bisa diolah menjadi pupuk kompos untuk tanaman pekarangan,” lanjutnya.
Baca juga: Riset Nanokurkumin Antarkan Dosen ITN Malang Raih Doktor dari ITS
Hasil pemantauan awal menunjukkan respons positif warga. Meski pemahaman masyarakat tergolong baik setelah edukasi, tim menyadari perubahan kebiasaan membutuhkan proses dan konsistensi.
“Masyarakat sebenarnya sudah paham pentingnya menjaga kebersihan. Hanya saja, kebiasaan memilah sampah basah dan kering secara konsisten memang butuh waktu dan pendampingan yang berkelanjutan,” tambah Hardianto.
Program tersebut mendapat sambutan dari pihak kelurahan dan tokoh masyarakat Candirenggo. ITN Malang berencana melanjutkan evaluasi secara berkala untuk memastikan keberlanjutan sistem bak sampah dan membangun kebiasaan memilah sampah dalam keseharian warga.
Baca juga: Dosen ITN Malang Raih Hibah Hilirisasi, Kembangkan Pintu Irigasi Pintar Berbasis IoT untuk Sawah di Sulawesi
Lurah Candirenggo Melani Astuti menyampaikan terima kasih kepada tim pengabdian masyarakat ITN Malang.
“Program ini sangat bermanfaat dan diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Semoga program ini memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi Kelurahan Candirenggo dan menjadi langkah awal dalam mewujudkan lingkungan bersih, sehat, dan berkelanjutan,” ungkapnya dalam rekaman video dokumentasi tim Abdimas ITN Malang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: RIlis ITN Malang
editor: jatmiko































