Tugumalang.id – Di tengah derasnya arus kehidupan yang menuntut perempuan menjalankan begitu banyak peran sekaligus—sebagai istri, ibu, pendidik, hingga penggerak masyarakat—Dharma Wanita Persatuan (DWP) UIN Malang kembali menghadirkan ruang belajar yang menyejukkan jiwa. Kegiatan itu dalah program “Ngaji Bersama Guru Besar Perempuan: Kajian Kitab Tematik DWP UIN Maliki.”
Acara ini diselenggarakan secara daring melalui Google Meet pada Jumat (17/7/2026). Kajian kali ini menghadirkan Prof. Dr. Hj. Tutik Hamidah, M.Ag., Guru Besar UIN Malang. Dia mengupas tema “Kewajiban Salat bagi Wanita (Kajian Kitab Ahkamun Nisa’)” dengan pendekatan ilmiah, spiritual, sekaligus psikologis yang menyentuh kehidupan perempuan masa kini.
Baca Juga: Penelitian Dosen UIN Malang Ungkap Dua Kategori Kufur dalam Al-Qur’an
Dalam paparannya, Prof Tutik mengajak peserta memandang salat bukan hanya sebagai kewajiban ritual, tetapi sebagai “power station” yang mengisi ulang energi ruhani perempuan di tengah kompleksitas kehidupan modern.

Menurutnya, perempuan memiliki kepekaan emosional yang luar biasa, namun pada saat yang sama juga rentan memikul beban psikologis keluarga tanpa disadari.
“Salat adalah jembatan yang menghubungkan keterbatasan manusia dengan kekuatan Allah. Dari sanalah lahir ketenangan, harapan, dan kekuatan untuk kembali bangkit menghadapi setiap ujian kehidupan,” kata dia.
Mengacu pada QS Al-Baqarah ayat 45, dia menjelaskan bahwa sabar dan salat merupakan dua sumber kekuatan yang saling melengkapi. Jika sabar adalah daya tahan dari dalam diri, maka salat merupakan ikhtiar aktif untuk memohon pertolongan Allah sehingga hati memperoleh ketenangan dan jiwa mendapatkan energi baru.

Kajian juga mengulas bagaimana Al-Quran memersiapkan ketangguhan spiritual perempuan melalui kisah Maryam binti Imran. Kisahnya menegaskan bahwa perempuan yang menjaga salat sesungguhnya sedang membangun fondasi keluarga dan peradaban.
Baca Juga: Biro AAKK Lakukan Monitoring Seleksi Jalur Mandiri Program Profesi Apoteker UIN Malang
“Seorang ibu yang menjaga kualitas salat akan menghadirkan keteladanan yang diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Prof Tutik.
Tidak kalah menarik, Prof Tutik turut meluruskan pemahaman mengenai perempuan yang sedang haid. Dia menegaskan, larangan salat pada masa tersebut bukanlah bentuk pengurangan derajat spiritual, melainkan wujud kasih sayang Allah melalui rukhsah (keringanan).
Hubungan seorang perempuan dengan Allah tetap dapat dipelihara melalui zikir, doa, mendengarkan Al-Quran, serta amal-amal kebajikan lainnya.
Ketua Dharma Wanita Persatuan UIN Malang, Nyai Layyinah Basri, menyampaikan bahwa program Ngaji Bersama Guru Besar Perempuan merupakan komitmen DWP untuk menghadirkan kajian keislaman yang berbasis ilmu pengetahuan sekaligus relevan dengan tantangan kehidupan perempuan masa kini.
“Melalui forum ini, DWP UIN Maalang berharap semakin banyak perempuan yang tidak hanya memahami hukum-hukum fikih secara benar, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilai salat dalam kehidupan sehari-hari sebagai sumber ketenangan, ketangguhan, dan inspirasi bagi keluarga maupun masyarakat,” kata dia.
Kajian yang berlangsung interaktif tersebut mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Berbagai pertanyaan terkait praktik ibadah perempuan dalam kehidupan sehari-hari menjadi bukti besarnya semangat belajar dan keinginan untuk terus memperdalam pemahaman agama secara komprehensif.
“Program Ngaji Bersama Guru Besar Perempuan diharapkan terus menjadi ruang silaturahmi intelektual dan spiritual yang mempertemukan keilmuan para guru besar dengan kebutuhan nyata perempuan Indonesia,” imbuhnya.
Diharapkan lahir pribadi-pribadi muslimah yang berilmu, berakhlak, tangguh, dan mampu menebarkan kebermanfaatan bagi keluarga, kampus, bangsa, dan umat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis UIN Malang
Editor: Herlianto. A
























