Jumat, Juli 17, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Budaya

Tradisi Adu Sapi Musim Kemarau di Masalembu Sumenep

Redaksi by Redaksi
Oktober 16, 2021 2:15 pm
in Budaya, Catatan
Tradisi adu sapi oleh petani Masalembu, Sumenep, di musim kemarau

Tradisi adu sapi oleh petani Masalembu, Sumenep, di musim kemarau. (Foto: Dokumen)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Musim kemarau, petani pulau Masalembu Sumenep, menggelar tradisi adu sapi yang disebut tok-tok. Tradisi mengadu dua sapi jantan ini sebagai jeda tanam sebelum memasuki musim penghujan.

Tok-tok berbeda dengan Karapan Sapi yang ada di Madura. Jika Karapan Sapi mengadu kecepatan sepasang sapi, sementara tok-tok mengadu sapi saling dorong dengan tanduknya masing-masing.

READ ALSO

Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a

Sapi yang kalah kuat biasanya langsung lari begitu saja. Tetapi, ada juga jenis sapi yang tidak mau mengalah. Mereka bertarung habis-habisan sampai para pemilik sapi memutuskan untuk melerainya. Sapi demikian biasanya disebut petthel.

Tradisi ini biasanya digelar pada musim kemarau, mulai bulan Juni hingga November setiap tahunnya. Musim kemarau dipilih, karena pada musim tersebut sapi tidak digunakan untuk membajak ladang. Selain itu, lahan yang digunakan untuk arena tok-tok juga tidak ditanami tumbuhan seperti jagung atau singkong. Masyarakat Masalembu bertani hanya pada musim hujan, dengan mengandalkan air hujan.

Jadi tradisi tok-tok adalah jeda bertani yang diisi dengan adu sapi. Pada mulanya tradisi ini, sama seperti Karapan Sapi yaitu agar para petani bersemangat merawat sapi. Biasanya, sapi yang akan diadu dirawat dengan baik. Diberikan makanan terbaik dan juga jamu, agar sapi bertenaga saat bertarung. Jamu yang digunakan bermacam-macam, mulai dari telur, soda, hingga ramuan-ramuan tradisional.

Perawatan yang ekstra tersebut membuat kondisi fisik sapi sehat dan gemuk. Tentu saja, kondisi sapi yang prima juga bagus digunakan untuk membajak ladang. Walaupun pada perkembangannya, ada pergeseran dari niatan awal. Kini tok-tok juga bernilai prestis dan ekonomis. Sapi yang bisa bertarung dengan lihai harganya cenderung mahal dan sang pemilik sapi seperti memiliki nilai lebih di masyarakat.

Bila musim kemarau tiba, pengumuan tok-tok segera menyebar. Lokasinya yang sangat terkenal adalah Jureg yaitu lahan sekitar seluas lapangan bola dengan permukaan cekung, sehingga memudahkan penonton melihat tok-tok dari posisi yang lebih tinggi. Lokasi ini berada di desa Masalima Dusun Tengah, Masalembu.

Proses tok-tok dikoordinir oleh seorang Bhuto yang memasangkan sapi-sapi yang cocok. Yang besar dilawankan dengan besar dan kecil dilawankan dengan kecil. Dia akan mengatur jalannya tok-tok agar sapi dapat bertarung dengan baik. Bhuto yang sangat terkenal bernama Atip.

Saat tok-tok mau dimulai, Atip biasanya menuju tengah arena lalu memberikan informasi, bahwa acara akan dimulai serta memilih sapi yang akan diadu perdana.

Ketenaran Atip dalam dunia tok-tok di Masalembu, tidak hanya kepiawaiannya dalam memasangkan sapi yang akan bertarung. Tetapi, dia juga punya kemampuan menaklukkan sapi yang ngamuk atau lepas.

Jika ada sapi lepas biasanya, Atip akan mengejar sapi itu lalu memegang tanduk kedua sapi dengan kencang sembari ditarik ke samping seperti memutar ster mobil. Anehnya, sapi seperti tak berdaya saat dipegang Atip. Orang Masalembu menyebutnya ekeppek Atip, saat itulah dengan mudah pemilik sapi mengikat hidung sapi dengan tali yang disebut tongar.

Dalam arena tok-tok, masyarakat Masalembu sekaligus membangun silaturahmi antar petani. Bisa jadi mereka bertukar pengetahuan tentang bagaimana merawat sapi yang baik. Sapi yang sangat gemuk dan besar akan dikagumi. Dan, biasanya diadu di sesi akhir sebagai penutup acara tersebut.

Jenis sapi yang diadu ada tiga macam, jenis lokal, jenis sapi Jawa dan sapi limusin. Sapi-sapi ini juga sebetulnya sebagai komoditas perdagangan bagi masyarakat Masalembu. Sapi-sapi yang sudah besar akan dijual ke luar daerah. Salah tujuan utamanya ke Kalimantan.

Dengan demikian, sapi bagi masyarakat Masalembu tidak hanya sekedar hewan peliharaan tetapi juga tradisi, prestis sosial, sumber ekonomi, dan aset masa depan.

Penulis : Herlianto. A

Editor : Herlianto. A

Tags: Kabupaten SumenepPulau MasalembuTradisi Adu Sapi

Related Posts

Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan
Budaya

Candi Singosari Jadi Magnet Wisatawan Mancanegara di Musim Liburan

Rabu, 15 Jul 2026
Kiai Bad dan Visualisasi Do’a
Catatan

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a

Senin, 13 Jul 2026
Buku Pelanggaran
Catatan

Buku Pelanggaran

Minggu, 12 Jul 2026
Cologne,  Katedral, dan Masjid 
Catatan

Cologne, Katedral dan Masjid 

Kamis, 9 Jul 2026
Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik
Catatan

Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik

Kamis, 9 Jul 2026
Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan
Catatan

Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan

Rabu, 8 Jul 2026
Next Post
Ilustrasi gigi anak yang rentan berlubang

Gigi Anak Takut Berlubang, Lakukan 5 Tips Ini

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.