Tugumalang.id – Setengah abad perjalanan cinta Surya Burhanuddin dan Sjenny Djamain dirayakan dalam suasana hangat, gayeng dan penuh rasa syukur di Resto Warung Kapau Kito, Kota Malang, Sabtu (20/6/2026).
Sekitar 30 warga asal Minang yang tinggal di Malang, yang tergabung dalam organisasi Ikatan Keluarga Minang (IKM) Sehati Malang hadir merayakan syukuran sederhana namun penuh makna tersebut.
Baca Juga: Penuh Kesan dan Menginspirasi, Tasyakuran Pernikahan 50 Tahun Surya Burhanuddin dan Sjenny Jamain
Acara berlangsung sekitar dua jam. Penuh kesan dan pelajaran dari seorang Surya Burhanuddin, yang sudah menjadikan tiga anaknya menjadi insan global dan sekitar 700 pemuda lain yang berkat pelantara Surya bisa kuliah di luar negeri dan menjadi Insan Global karena bekerja di luar negeri. Acara ditutup dengan makan-makan, foto bersama, dan bernyanyi lagu khas Minang.

Acara tasyakuran ini merupakan acara kedua. Sebelumnya, pada 3 Mei 2026, tasyakuran digelar di Hotel Grand Kemang, Jakarta yang menghadirkan sekitar 250 undangan.
Di acara tadi, Surya menyerahkan dua buku kepada tamu undangan. Pertama, diserahkan kepada senior dari organisasi Ikatan Keluarga Minang (IKM) Sehati Malang Dr dr Achdiat Agoes, Sp.S.
Baca Juga: Sharing Session Tugu Media Group, Surya Burhanuddin Tekankan Kekuatan Mimpi
Kedua, diserahkan kepada dr Safaruddin Refa, Sp.M, KVR, yang juga pemilik Warung Kepau Kito. Buku yang diberikan itu berjudul “50 Tahun Perjalanan Kasih Surya dan Sjenny (1976-2026)” yang sebelumnya sudah dilaunching di Jakarta.

Surya sengaja mengundang komunitasnya yakni IKM Sehati Malang, karena Surya merupakan orang asli Minang, yang sudah melanglang buana di 5 benua selama kariernya sepanjang 30 tahun di Pupuk Sriwidjaja Palembang.
“Kita gelar di warung yang dimiliki orang Minang juga, agar suasananya cair dan juga bisa saling support,” kata Surya.
Surya menjelaskan, bukunya yang tadi dikasihkan itu tidak hanya menceritakan perjalanan rumah tangganya selama lima dekade, tetapi juga merekam perjalanan kariernya selama 32 tahun di PT Pupuk Sriwidjaja.

Kemudian juga pengalamannya mendampingi generasi muda Indonesia menempuh pendidikan di luar negeri selama tiga dekade terakhir.
“Karena itu saya menyebutnya sebagai trilogi. Ada kisah 50 tahun perjalanan kasih, 32 tahun berkarya di PT Pupuk Sriwidjaja dan 30 tahun menuntun ratusan generasi muda menggapai dunia,” kata Surya.
Menurut pria berusia 76 tahun itu, generasi muda Indonesia perlu mendapatkan pengalaman dan wawasan global.
Surya yang juga merupakam motivator, inspirator dan fasilitator pendidikan global itu menekankan bahwa wawasan yang luas mampu mendorong generasi tangguh dan berdaya saing di era globalisasi yang semakin kompetitif ini.

“Kalau dunia sudah berada dalam nuansa persaingan global, maka kita harus memiliki kapasitas global. Kalau tidak, kita hanya akan menjadi penonton,” ucapnya.
Selama 30 tahun terakhir, Surya mengaku telah membantu lebih dari 700 anak Indonesia melanjutkan pendidikan ke berbagai negara di Asia, Australia, Eropa hingga Amerika.
Mereka berasal dari beragam latar belakang, termasuk anak tukang becak, anak yatim, hingga keluarga sederhana dari berbagai daerah di Indonesia.

Baginya, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Ia meyakini setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan terbaik selama ada kemauan dan usaha yang kuat.
Selain berbagi pengalaman pendidikan, Surya juga membagikan resep menjaga keharmonisan rumah tangga yang telah dijalaninya bersama sang istri selama setengah abad.
“Kuncinya sederhana, cita-citakan yang terbaik dan lakukan yang terbaik. Kalau harapannya baik dan usahanya juga baik, insyaallah hasilnya akan baik,” tuturnya.

Perayaan 50 tahun pernikahan tersebut pun menjadi momen penuh syukur, sekaligus ajang berbagi inspirasi tentang pentingnya pendidikan, kerja keras dan komitmen dalam membangun keluarga yang harmonis.
Sementara itu, senior dari Ikatan Keluarga Minang (IKM) Sehati Malang Dr dr Achdiat Agoes, Sp.S berharap kiprah Surya bisa menjadi teladan anggota IKM Sehati Malang yang lain.
Apalagi, di acara tadi juga dihadiri mahasiswa dari Minang. Sehingga, kiprah keduanya bisa menjadi role model (Seseorang yang perilakunya, sikapnya, atau prestasinya dapat ditiru dan dijadikan teladan) anak muda di Indonesia.

“Saya juga sependapat kalau kita ini kekurangan orang yang mempunyai kapasitas global, kalau kita punya banyak maka Indonesia akan maju,” kata pria yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Malang.
Sementara itu, tokoh senior IKM Sehati Malang dr Safaruddin Refa, Sp.M, KVR, yang juga tuan rumah acara mengaku bahwa Surya adalah sosok yang kreatif dan juga aktif. ”Beliau di Malang baru sekitar enam tahu, tapi sudah mengalahkan kita yang lebih lama, beliau kenal banyak orang di Malang,” katanya.
“Bahkan, tukang parkir warung ini tahu nama beliau, tapi tidak tahu nama saya, karena kata tukang parkir, setiap pekan Pak Surya makan di sini,” katanya.
Acara ditutup dengan foto bersama. Lalu, makan bersama. Sebagai pelayanan kepada tamu, Surya tampak sempat menghidangkan nasi ke piring kepada sejumlah tamu undangan yang hadir.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


















