Selasa, November 3, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Tombol ON yang Menyalakan Takdir

Redaksi by Redaksi
Juni 18, 2026 9:51 am
in Ruang Cendekia
Takdir

Ilustrasi KH Qosim Bukhori, Pendiri PP RU 2 dan santrinya Muhammad Yasin Arif.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

(Mengenang KH. Qosim Bukhori, Pendiri PP Raudlatul Ulum 2 dalam Haul ke-16)

Dua puluh satu tahun yang lalu, di sebuah lab komputer sederhana milik pesantren, takdir saya diam-diam mulai ditulis.

READ ALSO

Setelah Reuni, Lalu Apa?

Pendidikan untuk Menjadi Khalifah: Mengembangkan Tujuh Dimensi Manusia

Bukan dari ruang kelas, bukan pula saat mengkaji kitab-kitab tebal, melainkan dari sebuah tombol kecil bertuliskan ON pada komputer Pentium 2 yang sudah tua.

Tahun 2005.

Malam itu saya baru saja selesai mengaji kitab setelah Isya. Sebagai santri biasa, hidup saya tak jauh dari kitab kuning, hafalan, dan kegiatan pesantren. Tidak pernah terlintas sedikit pun bahwa teknologi akan menjadi jalan hidup saya.

Penulis Muhammad Yasin Arif,
Penulis Muhammad Yasin Arif, Founder Sabda Academy.

Tiba-tiba seorang santri datang.

“Kyai memanggil.”

Saya bergegas menuju ndalem dengan perasaan campur aduk. Berbagai pertanyaan berputar di kepala. Apakah saya melakukan kesalahan? Apakah ada tugas yang harus saya kerjakan?

Saat bertemu, beliau menatap saya lalu mengajukan pertanyaan yang sangat asing.

“Apakah kamu bisa komputer?”

Saya gugup.

“Belum pernah komputeran, Kyai.”

Beliau tersenyum tipis.

“Suatu saat semua orang akan memakai komputer. Kamu harus mempelajarinya. Kelak pasti akan berguna.”

Saya hanya mengangguk.

Dalam hati saya bertanya-tanya.

Mengapa komputer?

Mengapa saya?

Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma

Di saat santri lain berlomba mendalami Nahwu, Fikih, dan berbagai ilmu yang sedang menjadi kebanggaan saat itu, mengapa justru saya diarahkan ke sesuatu yang bahkan belum dianggap penting oleh kebanyakan orang?

Dua hari kemudian, pertanyaan itu belum terjawab. Namun malam berikutnya, Kyai kembali memanggil saya.

Kali ini beliau tidak hanya memberi nasihat, Beliau mengajak saya langsung menuju laboratorium komputer pesantren.

Ruangan itu terasa berbeda dari ruang-ruang lain di pesantren. Bau khas perangkat elektronik bercampur debu memenuhi udara. Di atas meja berjajar komputer-komputer yang saat itu terlihat sangat canggih di mata saya.

Kyai menunjuk sebuah tombol.

“Tekan itu.”

Saya menatap tombol tersebut beberapa detik.

Lalu perlahan jari saya menekannya.

Klik.

Sederhana sekali.

Tetapi saya tidak tahu bahwa suara kecil itu adalah suara pintu takdir yang sedang terbuka.

Kami menunggu layar menyala.

Lumayan lama.

Maklum, komputer saat itu bukan komputer zaman sekarang.

Di samping saya berdiri Kyai dan seorang guru komputer bernama Ustadz Hasim.

Ketika layar akhirnya menyala sempurna, Ustadz Hasim mulai mengajari saya membuka Microsoft Word.

Dua jam saya duduk di depan layar dengan kepala penuh kebingungan.

Keringat mengalir dari dahi, jari-jari saya terasa kaku.

Saya berkali-kali bertanya dalam hati:

“Ilmu apa ini?”

Namun Kyai tidak beranjak, beliau tetap menemani. Menunggu, mengawasi, mendorong. Meyakinkan saya bahwa sesuatu yang belum saya pahami sedang tumbuh malam itu.

Baca juga: Tembok Berlin Tidak Sepenuhnya Runtuh

Seolah-olah pelajaran komputer seorang santri lebih penting daripada waktu istirahat beliau sendiri.

Menjelang pukul sepuluh malam, saya berhasil mengetik beberapa huruf, lalu Kyai memberi perintah.

“Tulis nama pesantren.”

Saya mengetik perlahan

Raudlatul Ulum 2

Beliau tersenyum.

“Kasih warna biru.”

Saya mengikuti.

Beliau kembali berkata:

“Besok belajar lagi.”

Sederhana.

Tetapi ternyata itulah awal dari perjalanan yang mengubah seluruh hidup saya.

Sejak malam itu, laboratorium komputer menjadi rumah kedua saya.

Saya belajar mengetik, belajar Word, belajar Excel. Belajar memahami bahasa baru yang belum dipahami banyak orang.

Tahun 2006 saya lulus Madrasah Aliyah.

Saat teman-teman mulai memikirkan kuliah di kota atau kerja, Kyai justru meminta saya tetap di pesantren dan menjadi staf administrasi sekolah.

Saat itu saya belum memahami hikmahnya.

Namun ilmu komputer yang saya pelajari selama setahun lebih tiba-tiba menjadi sangat berguna.

Saya mengolah data siswa, merapikan administrasi, membuat surat, menyusun laporan. Menjalankan tugas-tugas yang tidak bisa dilakukan banyak orang pada masa itu.

Sesekali Kyai datang melihat pekerjaan saya.

Beliau tidak banyak bicara, tetapi setiap tatapan beliau seperti sedang memastikan bahwa benih yang ditanamnya tumbuh dengan baik.

Kemudian beliau membelikan saya dua kemeja dan dua celana jeans.

Memberi saya uang 200.000 rupiah dan menyuruh saya daftar kuliah di STAI Al-Qolam (saat ini Universitas Al-Qolam)

Namun jauh di dalam hati, saya mulai jatuh cinta pada dunia teknologi, sementara jurusan yang sedang saya jalani adalah Pendidikan.

Saya ingin belajar komputer lebih dalam. Saya ingin memahami dunia yang semakin hari semakin membuat saya penasaran.

Tahun 2008 menjadi titik balik.

Kyai terserang stroke.

Sosok yang selama ini menjadi kompas hidup saya mendadak tidak lagi bisa mendampingi seperti sebelumnya.

Saya bingung, untuk pertama kalinya saya mengambil keputusan besar sendiri. Saya masuk jurusan Teknik Informatika UIN Malang.

Di sanalah saya menemukan orang-orang yang memiliki antusias yang sama pada teknologi, saya merasa menemukan rumah baru.

Tahun demi tahun berlalu, dunia berubah semakin cepat, internet berkembang, smartphone lahir, media sosial mengubah cara manusia berkomunikasi.

Dan perlahan saya teringat sebuah kalimat yang pernah diucapkan Kyai bertahun-tahun sebelumnya.

“Suatu saat semua orang akan memakai komputer.”

Saat itu saya baru benar-benar memahami maksud beliau, ternyata beliau tidak sedang melihat zaman itu, Beliau sedang melihat masa depan.

Hari ini hampir setiap manusia membawa komputer di tangannya, namanya bukan lagi PC, tapi smartphone.

Dari diskusi-diskusi seputar teknologi yang saya ikuti, menyimpulkan satu benang merah bahwa masa depan adalah milik para pembuat konten di media sosial.

Tahun 2016 saya mulai melangkah menjadi konten kreator. Tahun 2018 direkrut menjadi staff ahli media oleh BNPT. Tahun 2019 mulai melatih berbagai instansi dalam pengelolaan media sosial. Tahun 2022 hingga 2024 mengajar di lembaga pelatihan konten kreator yang terafiliasi BNSP.

Dan pada tahun 2025 saya mendirikan Sabda Academy.

Dalam satu tahun, ribuan orang bergabung. 4.000 lebih member belajar dan bertumbuh bersama.

Komunitas besar lahir. Karier, kesempatan dan masa depan juga lahir.

Namun setiap kali orang bertanya dari mana semua ini bermula, jawaban saya selalu sama.

Semua ini bermula dari seorang Kyai yang mampu melihat masa depan jauh sebelum orang lain melihatnya.

Dan menyuruh seorang santri pada suatu malam untuk menekan sebuah tombol ON di komputer Pentium 2.

Sebuah tombol kecil.

Yang ternyata sedang menyalakan seluruh jalan hidupnya.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Penulis : Muhammad Yasin Arif (Founder Sabda Academy)

editor: jatmiko

Tags: Haul KH Qosim BukhoriKH Qosim BukhoriKisah inspiratifMuhammad Yasin ArifPP Raudlatul Ulum 2Sabda Academysantri dan teknologiteknologi pesantren

Related Posts

Setelah Reuni, Lalu Apa?
Ruang Cendekia

Setelah Reuni, Lalu Apa?

Selasa, 3 Nov 2026
Pendidikan untuk Menjadi Khalifah: Mengembangkan Tujuh Dimensi Manusia
Ruang Cendekia

Pendidikan untuk Menjadi Khalifah: Mengembangkan Tujuh Dimensi Manusia

Senin, 2 Nov 2026
Mendidik Mahasiswa untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Lulusan
Ruang Cendekia

Mendidik Mahasiswa untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Lulusan

Sabtu, 31 Okt 2026
Hujan Kita Rindukan, Banjir Tak Kita Harapkan
Ruang Cendekia

Hujan Kita Rindukan, Banjir Tak Kita Harapkan

Rabu, 28 Okt 2026
Dari Kampus Sederhana ke Panggung Dunia: Ujian Sesungguhnya UIN Maliki Malang di Usia 65 Tahun
Ruang Cendekia

Dari Kampus Sederhana ke Panggung Dunia: Ujian Sesungguhnya UIN Maliki Malang di Usia 65 Tahun

Selasa, 27 Okt 2026
65 Tahun UIN Malang: Kampus Besar Harus Terasa Dekat
Ruang Cendekia

65 Tahun UIN Malang: Kampus Besar Harus Terasa Dekat

Senin, 26 Okt 2026
Next Post
FIP Unikama

FIP Unikama Cetak Calon Guru Pembina Pramuka Profesional

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10222026 3
Iklantm 10222026 2
Iklantm 10212026 1
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10192026 1
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10162026 11
Iklantm 10162026 5
Iklantm 10162026 6
Iklantm 10162026 7
Iklantm 10162026 8
Iklantm 10162026 9
Iklantm 10162026 10
Iklantm 10162026 12
Iklantm 10162026 13
Iklantm 10172026 1
Iklantm 10172026 2
Iklantm 10202026 1
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.