(Mengenang KH. Qosim Bukhori, Pendiri PP Raudlatul Ulum 2 dalam Haul ke-16)
Dua puluh satu tahun yang lalu, di sebuah lab komputer sederhana milik pesantren, takdir saya diam-diam mulai ditulis.
Bukan dari ruang kelas, bukan pula saat mengkaji kitab-kitab tebal, melainkan dari sebuah tombol kecil bertuliskan ON pada komputer Pentium 2 yang sudah tua.
Tahun 2005.
Malam itu saya baru saja selesai mengaji kitab setelah Isya. Sebagai santri biasa, hidup saya tak jauh dari kitab kuning, hafalan, dan kegiatan pesantren. Tidak pernah terlintas sedikit pun bahwa teknologi akan menjadi jalan hidup saya.

Tiba-tiba seorang santri datang.
“Kyai memanggil.”
Saya bergegas menuju ndalem dengan perasaan campur aduk. Berbagai pertanyaan berputar di kepala. Apakah saya melakukan kesalahan? Apakah ada tugas yang harus saya kerjakan?
Saat bertemu, beliau menatap saya lalu mengajukan pertanyaan yang sangat asing.
“Apakah kamu bisa komputer?”
Saya gugup.
“Belum pernah komputeran, Kyai.”
Beliau tersenyum tipis.
“Suatu saat semua orang akan memakai komputer. Kamu harus mempelajarinya. Kelak pasti akan berguna.”
Saya hanya mengangguk.
Dalam hati saya bertanya-tanya.
Mengapa komputer?
Mengapa saya?
Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional, Refleksi Ketua PP ISNU, Zainal Habib: Saatnya Bebas dari Algoritma
Di saat santri lain berlomba mendalami Nahwu, Fikih, dan berbagai ilmu yang sedang menjadi kebanggaan saat itu, mengapa justru saya diarahkan ke sesuatu yang bahkan belum dianggap penting oleh kebanyakan orang?
Dua hari kemudian, pertanyaan itu belum terjawab. Namun malam berikutnya, Kyai kembali memanggil saya.
Kali ini beliau tidak hanya memberi nasihat, Beliau mengajak saya langsung menuju laboratorium komputer pesantren.
Ruangan itu terasa berbeda dari ruang-ruang lain di pesantren. Bau khas perangkat elektronik bercampur debu memenuhi udara. Di atas meja berjajar komputer-komputer yang saat itu terlihat sangat canggih di mata saya.
Kyai menunjuk sebuah tombol.
“Tekan itu.”
Saya menatap tombol tersebut beberapa detik.
Lalu perlahan jari saya menekannya.
Klik.
Sederhana sekali.
Tetapi saya tidak tahu bahwa suara kecil itu adalah suara pintu takdir yang sedang terbuka.
Kami menunggu layar menyala.
Lumayan lama.
Maklum, komputer saat itu bukan komputer zaman sekarang.
Di samping saya berdiri Kyai dan seorang guru komputer bernama Ustadz Hasim.
Ketika layar akhirnya menyala sempurna, Ustadz Hasim mulai mengajari saya membuka Microsoft Word.
Dua jam saya duduk di depan layar dengan kepala penuh kebingungan.
Keringat mengalir dari dahi, jari-jari saya terasa kaku.
Saya berkali-kali bertanya dalam hati:
“Ilmu apa ini?”
Namun Kyai tidak beranjak, beliau tetap menemani. Menunggu, mengawasi, mendorong. Meyakinkan saya bahwa sesuatu yang belum saya pahami sedang tumbuh malam itu.
Baca juga: Tembok Berlin Tidak Sepenuhnya Runtuh
Seolah-olah pelajaran komputer seorang santri lebih penting daripada waktu istirahat beliau sendiri.
Menjelang pukul sepuluh malam, saya berhasil mengetik beberapa huruf, lalu Kyai memberi perintah.
“Tulis nama pesantren.”
Saya mengetik perlahan
Raudlatul Ulum 2
Beliau tersenyum.
“Kasih warna biru.”
Saya mengikuti.
Beliau kembali berkata:
“Besok belajar lagi.”
Sederhana.
Tetapi ternyata itulah awal dari perjalanan yang mengubah seluruh hidup saya.
Sejak malam itu, laboratorium komputer menjadi rumah kedua saya.
Saya belajar mengetik, belajar Word, belajar Excel. Belajar memahami bahasa baru yang belum dipahami banyak orang.
Tahun 2006 saya lulus Madrasah Aliyah.
Saat teman-teman mulai memikirkan kuliah di kota atau kerja, Kyai justru meminta saya tetap di pesantren dan menjadi staf administrasi sekolah.
Saat itu saya belum memahami hikmahnya.
Namun ilmu komputer yang saya pelajari selama setahun lebih tiba-tiba menjadi sangat berguna.
Saya mengolah data siswa, merapikan administrasi, membuat surat, menyusun laporan. Menjalankan tugas-tugas yang tidak bisa dilakukan banyak orang pada masa itu.
Sesekali Kyai datang melihat pekerjaan saya.
Beliau tidak banyak bicara, tetapi setiap tatapan beliau seperti sedang memastikan bahwa benih yang ditanamnya tumbuh dengan baik.
Kemudian beliau membelikan saya dua kemeja dan dua celana jeans.
Memberi saya uang 200.000 rupiah dan menyuruh saya daftar kuliah di STAI Al-Qolam (saat ini Universitas Al-Qolam)
Namun jauh di dalam hati, saya mulai jatuh cinta pada dunia teknologi, sementara jurusan yang sedang saya jalani adalah Pendidikan.
Saya ingin belajar komputer lebih dalam. Saya ingin memahami dunia yang semakin hari semakin membuat saya penasaran.
Tahun 2008 menjadi titik balik.
Kyai terserang stroke.
Sosok yang selama ini menjadi kompas hidup saya mendadak tidak lagi bisa mendampingi seperti sebelumnya.
Saya bingung, untuk pertama kalinya saya mengambil keputusan besar sendiri. Saya masuk jurusan Teknik Informatika UIN Malang.
Di sanalah saya menemukan orang-orang yang memiliki antusias yang sama pada teknologi, saya merasa menemukan rumah baru.
Tahun demi tahun berlalu, dunia berubah semakin cepat, internet berkembang, smartphone lahir, media sosial mengubah cara manusia berkomunikasi.
Dan perlahan saya teringat sebuah kalimat yang pernah diucapkan Kyai bertahun-tahun sebelumnya.
“Suatu saat semua orang akan memakai komputer.”
Saat itu saya baru benar-benar memahami maksud beliau, ternyata beliau tidak sedang melihat zaman itu, Beliau sedang melihat masa depan.
Hari ini hampir setiap manusia membawa komputer di tangannya, namanya bukan lagi PC, tapi smartphone.
Dari diskusi-diskusi seputar teknologi yang saya ikuti, menyimpulkan satu benang merah bahwa masa depan adalah milik para pembuat konten di media sosial.
Tahun 2016 saya mulai melangkah menjadi konten kreator. Tahun 2018 direkrut menjadi staff ahli media oleh BNPT. Tahun 2019 mulai melatih berbagai instansi dalam pengelolaan media sosial. Tahun 2022 hingga 2024 mengajar di lembaga pelatihan konten kreator yang terafiliasi BNSP.
Dan pada tahun 2025 saya mendirikan Sabda Academy.
Dalam satu tahun, ribuan orang bergabung. 4.000 lebih member belajar dan bertumbuh bersama.
Komunitas besar lahir. Karier, kesempatan dan masa depan juga lahir.
Namun setiap kali orang bertanya dari mana semua ini bermula, jawaban saya selalu sama.
Semua ini bermula dari seorang Kyai yang mampu melihat masa depan jauh sebelum orang lain melihatnya.
Dan menyuruh seorang santri pada suatu malam untuk menekan sebuah tombol ON di komputer Pentium 2.
Sebuah tombol kecil.
Yang ternyata sedang menyalakan seluruh jalan hidupnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis : Muhammad Yasin Arif (Founder Sabda Academy)
editor: jatmiko


















