Jumat, September 18, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Mengapa Umat Islam Tertinggal? Tentang Dualisme Jasmani dan Ruhani

Redaksi by Redaksi
Juni 16, 2026 3:54 pm
in Ruang Cendekia
Dr Aries Munandar (kiri) dan Prof Dr H Imam Suprayogo (kanan). Foto/dok

Dr Aries Munandar (kiri) dan Prof Dr H Imam Suprayogo (kanan). Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Dr Aries Munandar & Prof Dr H Imam Suprayogo*

Tugumalang.id – Mengapa dunia Barat dan bangsa non-Muslim begitu perkasa menguasai sains, teknologi, dan kemakmuran material, sementara dunia Islam kerap tertinggal dalam urusan duniawi? Pertanyaan ini sering dijawab dengan apologetika usang yang mencampuradukkan sains dan agama secara serampangan.

READ ALSO

Bertahan, Bukan Menyerah!

Surat Imajiner Buat Gus Kikin

Padahal, Islam sejak awal telah menggariskan pemisahan domain yang jelas: dualisme fungsional antara urusan jasmani dan ruhani. Pondasi ini ditegaskan kembali oleh guru saya, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Beliau memberi analogi sederhana yang menusuk: jasmani punya rumah, ruhani juga punya rumah.

Pelurusan Makna Insan

Langkah awal memahami dualisme ini adalah meluruskan istilah _insan_. Prof. Imam Suprayogo menekankan bahwa penyebutan kata _insan_ lebih tertuju pada aspek fisik, jasmani, atau dzahirnya.

Baca Juga: Tegaskan Kualitas Pendidikan, Unmer Malang Kukuhkan 3 Profesor Baru

Jika ditelusuri anatomi teks Al-Qur’an, kata _al-insan_ memang dilekatkan pada konotasi negatif. Manusia digambarkan ingkar, kikir, tergesa-gesa, zalim, lagi bodoh. Itu adalah deskripsi tentang sisi jasmani dan dzahir manusia yang rapuh.

Maka ketika kita bicara _insan kamil_, kita harus jujur: yang dimaksud “manusia sempurna” bukanlah kesempurnaan fisik, melainkan transformasi dari aspek jasmani menuju ruhani. Pelurusan ini penting agar kita tidak membangun sistem pendidikan di atas asumsi yang keliru tentang manusia.

Jasmani dan Ruhani Masing-Masing Punya Rumah

Prof. Imam menjelaskan, jasmani punya rumah seperti rumah tempat kita tinggal. Semua orang mesti punya rumah. Kalau tidak punya, ia disebut gelandangan dan liar. Rumah jasmani ini diurus dengan ilmu dunia, sains, teknologi, ekonomi, dan manajemen. Di sinilah berlaku hukum _“Antum a’lamu bi umuri dunyakum”_.

Sementara rumah ruhani adalah Baitullah. Ruhani butuh tempat kembali agar tidak liar dan gelandangan secara spiritual. Rumah inilah yang diakses manusia ketika shalat. Prof. Imam mengingatkan, ketika shalat seolah kita berada di Maqom Ibrahim, di Baitullah.

Maka muslim yang sedang shalat harus paham dulu kapan dan di mana ia berada. Kesadaran ini yang membuat shalat tidak jadi ritual kosong.

Shalat: Transformasi dari Insan ke Mukmin

Di sinilah titik lurusnya. Shalat bukan kegiatan mengubah dari muslim ke mukmin, melainkan perubahan dari _insan_ ke mukmin.

Sisi _insan_ yang jasmani, dzahir, dan rapuh itulah yang dididik dan ditransformasi melalui shalat. Jika dipahami esensinya dan dijalankan benar, shalat adalah kurikulum pendidikan ruhani utama untuk menaikkan kelas manusia. Dari makhluk jasmani yang rapuh menjadi mukmin yang imannya menghujam di hati dan mewujud dalam integritas tindakan.

Al-Qur’an menegaskan, shalat yang benar mencegah perbuatan keji dan munkar. Output sosialnya adalah lahirnya pribadi berakhlak mulia di ranah jasmani. Karena saat shalat, sisi _insan_ kita sedang pulang ke rumah ruhaninya, ke Baitullah.

Ruhani sebagai Rem Spiritual

Pemisahan domain ini menjelaskan mengapa bangsa Barat mampu memimpin peradaban modern. Mereka maju secara jasmani karena serius menggarap hukum-hukum kausalitas duniawi.

Tapi kemajuan jasmani tanpa rem spiritual melahirkan kerusakan. Ketika pendidikan ruhani berjalan lurus, ruhani itu menjelma menjadi kompas moral dan rem spiritual. Manusia yang bergelut dengan dunia keras penuh godaan akan terjaga.

Ruhani yang hidup melahirkan sifat wara’: mawas diri dan kehati-hatian. Dengan _wara’_, kemajuan materi tidak bertransformasi menjadi alat perusak bumi atau penindas sesama.

Penutup

Dualisme jasmani dan ruhani mengajarkan kita bersikap jujur dan proporsional. Urusan jasmani dikejar dengan hukum duniawi secara profesional. Urusan ruhani dijaga dengan jangkar Al-Qur’an dan Hadis.

Jika dualisme ini dipahami jernih, umat Islam bisa kembali unggul secara lahir dan batin. Punya rumah jasmani yang maju, dan punya rumah ruhani yang terjaga. Bukan jadi gelandangan di dunia, dan bukan jadi gelandangan di akhirat.

 

Penulis:

*Dr. Aries Musnandar_ Pemerhati Pendidikan Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA Malang)
*Prof. Dr. H. Imam Suprayogo_Mantan Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Editor: Herlianto. A

Tags: Baratdualismeumat Islam

Related Posts

Bertahan, Bukan Menyerah!
Ruang Cendekia

Bertahan, Bukan Menyerah!

Rabu, 16 Sep 2026
Surat Imajiner Buat Gus Kikin
Ruang Cendekia

Surat Imajiner Buat Gus Kikin

Selasa, 15 Sep 2026
Sinergi Kurikulum: Mengakhiri Warisan Dualisme Pendidikan Kolonial
Ruang Cendekia

Sinergi Kurikulum: Mengakhiri Warisan Dualisme Pendidikan Kolonial

Senin, 14 Sep 2026
Membaca Pesantren dari Akar Jawa: Mengurai Dikotomi Kelembagaan Tradisional
Ruang Cendekia

Membaca Pesantren dari Akar Jawa: Mengurai Dikotomi Kelembagaan Tradisional

Minggu, 13 Sep 2026
Marah dan Cara Mengelolanya dengan Bijak
Ruang Cendekia

Marah dan Cara Mengelolanya dengan Bijak

Sabtu, 12 Sep 2026
Nusantara Serumpun dan Poros Intelektual Islam yang Terlupakan
Ruang Cendekia

Nusantara Serumpun dan Poros Intelektual Islam yang Terlupakan

Jumat, 11 Sep 2026
Next Post
Yayasan Yasmine Indonesia

Launching Yayasan Yasmine Indonesia Maju: Siap Berkolaborasi dan Bersinergi untuk Pembangunan Berkelanjutan

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.