Tugumalang.id – Pelemahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membawa dampak ganda bagi sektor pariwisata di Kota Batu, Jawa Timur. Naiknya kunjungan wisata selama libur sekolah di 2026 ini tetap tak berpengaruh signifikan pada nilai pendapatan.
Hal ini diungkapkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi. Menurutnya, fenomena meningkatnya okupansi hotel selama periode Mei 2026 tak berbanding lurus dengan profitabilitas.
Baca Juga: 5 Wisata Alam di Pujon Kabupaten Malang Cocok untuk Melepas Penat
Sujud menjelaskan bahwa daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat wisatawan kini lebih sensitif terhadap harga. Dalam kondisi high season itu, memaksa pelaku usaha tidak bisa leluasa menaikkan tarif.
“Ini yang saya sebut dampak ganda. Pariwisata memang bertumbuh karena masyarakat memilih berwisata di dalam negeri, tetapi pendapatan belum tentu ikut bertumbuh. Kami tidak bisa menaikkan tarif secara signifikan karena daya beli masyarakat masih tertekan,” jelasnya.
Situasi saat ini dinilainya berbeda jauh dengan musim liburan beberapa tahun lalu. Dulu, pihak hotel memiliki ruang untuk menaikkan tarif kamar antara 50 persen hingga dua kali lipat saat long weekend.
Saat ini, pengusaha hotel memilih mempertahankan tarif normal agar tetap kompetitif dan menarik minat pasar.
Baca Juga: 5 Wisata Sumber Air Alami di Malang, Destinasi Short Getaway Akhir Pekan
Perubahan perilaku ini juga terlihat dari preferensi wisatawan yang lebih memilih paket liburan ekonomis, seperti paket hemat (bundling) di Jatim Park, atau mengunjungi destinasi dengan tiket masuk terjangkau seperti Selecta dan Mikutopia.
Tren serupa juga dilaporkan terjadi pada destinasi wisata alam lainnya di Malang Raya, seperti kawasan pantai di Malang Selatan yang dipadati pengunjung karena menawarkan harga yang murah meriah.
Fenomena ketimpangan antara jumlah kunjungan dan pendapatan ini juga dirasakan langsung oleh destinasi wisata legendaris seperti Selecta.
Sujud, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Taman Rekreasi Selecta, menyebut volume kunjungan sepanjang tahun 2026 sebetulnya melonjak hingga 30 persen dibanding tahun lalu.
Namun, pertumbuhan pendapatan tidak mampu menyamai angka kenaikan volume tersebut karena manajemen harus agresif memberikan stimulus berupa program promosi.
“Pendapatan tidak ikut naik 30 persen karena ada berbagai promo dan potongan harga yang masih kami berikan kepada pengunjung. Sedikit saja ada promo atau harga terjangkau, masyarakat tertarik datang. Sebaliknya jika terlalu tinggi, mereka akan berpikir ulang,” tambah Sujud.
Menyikapi tantangan ekonomi ini, PHRI Kota Batu mengimbau para pelaku usaha pariwisata untuk terus berinovasi. Di tengah situasi pasar yang sensitif, pelaku usaha dituntut kreatif dalam menyusun paket wisata, memperkuat kolaborasi antar-sektor.
”Termasuk juga menerapkan strategi promosi yang fleksibel agar pariwisata Kota Batu tetap berdaya saing tinggi tanpa mengorbankan keberlangsungan usaha,” imbaunya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























