MALANG, Tugumalang.id – Makna Idul Adha bagi Zainal Habib bukan sekadar meneladani sikap Nabi Ibrahim AS yang menunjukkan rasa cinta, keikhlasan, dan keimanan kepada Sang Pencipta, saat mendapatkan perintah untuk menyembelih putra tercinta, Nabi Ismail AS.
Namun jika dikaitkan dengan pola pikir manusia modern, kisah Nabi Ibrahim AS yang mengangkat pisau ke arah putranya, adalah bentuk dari cinta yang melampaui ego manusia.
Tetapi realitas yang terjadi di zaman modern yang begitu kompleks ini, Zainal merasa makna dari kurban tak lebih dari manusia yang saling “menyembelih” keikhlasan demi citra, konsumsi, dan pengakuan yang tak pernah ada habisnya.
Baca Juga: Berkah Hari Raya Idul Adha: Ini Keutamaan dan Manfaat Berkurban sebagai Bukti Cinta Kepada Allah
“Hari ini, kurban tidak lagi cukup dipahami sebagai ritual tahunan yang selesai di atas altar penyembelihan. Di tengah dunia yang dipenuhi kapitalisme digital, budaya pencitraan, dan kerakusan tanpa batas,” ujar akademisi Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Rabu (27/5/2026).
“Kurban justru menjadi pertanyaan filosofis besar, apakah manusia modern masih mampu berkorban dengan ikhlas, atau seluruh hidupnya telah berubah menjadi panggung simulasi?,” imbuhnya.
Makna Kurban di Tengah Krisis Era Modern
Bagi pria yang saat ini menjabat sebagai Plt. Wakil Rektor II UIN Malang tersebut, kurban dalam tradisi Islam yang dapat dipelajari dari kisah Nabi Ibrahim bukan sekadar narasi religius. Bagaimana kepatuhan seorang hamba terhadap Sang Pencipta-Nya dengan rasa cinta yang begitu besar dan melepaskan keterikatan duniawi.
Kisah Nabi Ibrahim justru menjadi simbol dari pergulatan terdalam manusia antara cinta kepada Allah dan keterikatan manusia terhadap dunia. Jika dilihat dalam perspektif pisau Ibrahim yang sesungguhnya, tidak diarah ke tubuh Nabi Ismail, melainkan kepada ego yang ada di diri manusia itu sendiri.
Tentang bagaimana manusia selalu memiliki rasa ingin memiliki, menguasai, dan mempertahankan segala sesuatu untuk dirinya sendiri.
“Karena itu, kurban pada dasarnya adalah tindakan spiritual untuk memotong keterikatan duniawi. Namun ironi besar zaman modern adalah manusia tetap melakukan ritual qurban setiap tahun, tetapi semakin sulit memahami makna keikhlasan di baliknya,” ungkapnya.
Ia memberi contoh bagaimana masyarakat modern saat ini, memaknai kurban hanya sebatas pada hewan disembelih, foto diunggah ke media sosial. Di sinilah menurut Zainal, ego manusia justru tumbuh semakin besar, karena hanya mementingkan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya sendiri dan untuk mendapatkan validasi dari orang lain.
Mengutip pendapat dari Mohammed Arkoun seorang filsuf muslim asal Aljazair yang mengingatkan bahwa qurban harus dibaca secara hermeneutik. Di mana makna harfiah penyembelihan perlu di rekontekstualisasi tetap relevan dengan tantangan zaman modern.
Baca Juga: Melayani dengan Hati, Atria Hotel Malang Berbagi di Momen Idul Adha
“Inti qurban bukan sekadar darah hewan, tetapi pengorbanan terhadap narasi kekuasaan, kekerasan, dan konsumerisme yang menguasai manusia modern,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) ini.
Bagi Zainal, pandangan Arkoun menjadi sangat penting hari ini, ketika agama seringkali terjebak hanya pada simbol namun kehilangan esensi substansi moralnya.
Kini banyak orang rela mengeluarkan biaya besar untuk keperluan ritual keagamaan, tetapi di sisi lain mereka juga menindas sesama dalam kehidupan sosial dan ekonomi. kurban pun kehilangan maknanya dan hanya sekadar seremoni identitas, bukan jalan transformasi spiritual.
“Kurban kehilangan dimensi batinnya. Ritual tetap berlangsung tetapi ruh pengorbanan perlahan menghilang. Pisau Ibrahim yang dahulu diarahkan untuk menghancurkan ego, kini justru dipakai manusia modern untuk mempertajam citra dirinya sendiri,” tegas Zainal.
Melampaui Logika Kapitalisme
Kurban sejatinya merupakan tindakan yang melampaui logika manusia tentang untung rugi. Melalui kurban, manusia belajar tentang makna dari konsep pengorbanan dan berbagi tanpa hitung-hitungan keuntungan maupun rugi.
Namun saat ini, di tengah kehidupan manusia modern yang begitu pesat dengan kemajuan teknologi. Kurban seolah kehilangan esensi dalam melampaui logika untung rugi atau kapitalisme. Tetapi yang terjadi saat ini, segala sesuatu kehidupan modern dibangun atas logika kapitalisme, semua diukur berdasarkan nilai ekonomi.
Mengutip pendapat filsuf Prancis, Alain Badiou, Zainal menilai qurban sebagai sebuah event atau peristiwa eksistensial yang memutus logika kapital. Di tengah budaya konsumsi dan materialisme, kurban menjadi simbol bahwa masih ada nilai yang tidak dapat diukur oleh pasar, yakni tentang cinta, solidaritas, keikhlasan, dan kebersamaan.
“Pandangan Badiou sangat relevan dalam masyarakat modern yang semakin terobsesi pada produktivitas dan keuntungan. Hari ini, manusia hidup dalam budaya di mana hampir semua relasi berubah menjadi transaksi,” bebernya.
“Persahabatan dibangun atas kepentingan, pekerjaan diukur hanya dengan profit, bahkan hubungan keluarga sering kali tunduk pada kalkulasi ekonomi,” tambah Zainal.
Dalam sistem yang demikian, Zainal menilai keikhlasan menjadi hal yang begitu langka bagi kehidupan manusia modern. Sebab, manusia kini sulit memberi tanpa berharap imbalan, sulit membantu tanpa ingin diakui, dan sulit mencintai tanpa syarat.
Media sosial, semakin memperparah situasi tersebut. Manusia saling berlomba menunjukkan kehidupan versi terbaik mereka yang dampaknya kebaikan berubah menjadi bagian dari performa sosial.
Orang-orang disibukkan dengan urusan tentang citra diri sebagai sosok yang peduli, religius, dan dermawan agar mereka tetap diterima dalam ruang sosial digital. Sesuatu yang bertolak belakang dengan makna dari keikhlasan yang lahir dari kesunyian batin.
Di dalam tradisi spiritual Islam, keikhlasan adalah tindakan yang bebas dari riya dan hasrat pengakuan. Namun, dunia modern dengan era digital yang begitu masif membuat manusia hampir mustahil hidup tanpa sorotan dari manusia yang lain.
Inilah yang bagi Zainal, qurban menjadi kritik akan kapitalisme modern, bukan sekadar menjadi tradisi spiritual Islam.
“Di sinilah kurban menjadi kritik besar terhadap kapitalisme modern. Qurban mengajarkan bahwa memberi tidak selalu harus menghasilkan keuntungan. Ada tindakan yang bernilai justru dilakukan tanpa pamrih,” jelasnya.
Kurban: Pemotongan Ego, Ketamakan, dan Kesenjangan Sosial
Lebih lanjut, Zainal merefleksikan makna qurban dari pandangan pemikir Muslim asal Pakistan, Fazlur Rahman bahwa semangat berkurban harus ditarik dari ritual menuju ke etika sosial.
Artinya makna atau hakikat dari kurban bukanlah sekadar menyembelih hewan ternak, melainkan justru bagaimana manusia bisa memotong ego, ketamakan, dan kesenjangan sosial.
Menurut Zainal, pandangan Fazlur Rahman sangat relevan di tengah kehidupan masyarakat modern yang hari ini mengalami ketimpangan secara ekonomi. Di mana sebagian kecil manusia menguasai kekayaan dunia dalam jumlah yang begitu besar, tetapi di sisi lain ada jutaan orang hidup dalam rantai kemiskinan.
Melihat realita inilah, bagi Zainal makna dari kurban seharusnya menjadi sebuah kritik moral terhadap kerakusan manusia modern.
“Kurban mengandung pesan distribusi keadilan. Daging dibagikan kepada mereka yang membutuhkan sebagai simbol bahwa kekayaan tidak boleh berputar hanya di kalangan elite. Karena itu, semangat Kurban sebenarnya bertentangan dengan budaya akumulasi kapital tanpa batas,” terang Zainal.
Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, kini masyarakat yang hidup di era modern bergerak ke arah yang berlawanan. Sistem ekonomi global sering memuliakan keserakahan sebagai tanda keberhasilan.
Dalam pandangannya, Zainal menilai manusia modern saat ini ingin dihargai bukan karena kebijaksanaan atau moralitasnya, melainkan justru mereka ingin menambah pundi-pundi kekayaan dan juga pengaruh yang mereka miliki.
Akibatnya, manusia modern terjebak dalam kapitalisme dan kehilangan sensitivitas sosial. Seolah mereka telah terjebak di tengah kehidupan yang penuh dengan kemewahan tetapi abai dengan kondisi penderitaan orang lain.
Dalam konteks ini, Kurban bukanlah sebuah ritual spiritualitas keagamaan, namun juga merupakan panggilan etis untuk membangun solidaritas sosial.
“Kurban seharusnya menjadi upaya mengembalikan manusia kepada kesadaran manusianya. Dalam kurban, manusia belajar bahwa hidup bukan tentang memiliki sebanyak mungkin, tetapi tentang berbagi dan melepaskan,” tegas Zainal.
Menuju Aktualisasi Spiritual yang Lebih Tinggi
Memahami qurban dalam tradisi filsafat Islam yang dikemukakan Mulla Sadra melalui kerangka Al Hikmah Al Muta’aliyah. Kurban membantu jiwa manusia untuk bergerak secara substansial dan bergerak dari potensi menuju aktualisasi spiritual yang lebih tinggi.
Zainal menerjemahkannya bahwa qurban adalah momen ketika seorang manusia melepaskan keterikatan mereka dengan segala sesuatu yang bersifat materi, lalu menuju derajat eksistensi yang lebih luhur.
Manusia harus memahami bahwa pengorbanan bukan kehilangan, namun sebagai bentuk transformasi jiwa.
“Pandangan Mulla Sadra menunjukkan bahwa qurban sesungguhnya adalah perjalanan eksistensial manusia menuju kebebasan spiritual. Manusia tidak akan mencapai kedalaman hidup selama dirinya masih diperbudak oleh materi, ego, dan hasrat duniawi,” tuturnya.
Melalui kurban, manusia dapat belajar tentang makna dari memberi tanpa mengharapkan sebuah imbalan. Konsep inilah yang menjadi esensi dari keikhlasan yang kini semakin tenggelam di era dunia modern.
Zainal menilai manusia hari ini terlalu terbiasa menghitung manfaat, sehingga sulit bagi mereka untuk memahami nilai tindakan yang dilakukan semata-mata karena cinta dan juga rasa kemanusiaan.
Padahal keikhlasan adalah fondasi utama dari spiritualitas. Rasa ikhlas membebaskan manusia dari kebutuhan akan pengakuan diri dan juga menjalani hidup, bukan untuk penonton melainkan untuk makna.
Kisah Nabi Ibrahim bukan sekedar cerita masa lalu, melainkan cermin dari kehidupan manusia modern yang kehilangan arah spiritualnya. Melihat pisau Ibrahim, sejatinya bukan sebagai simbol kekerasan justru sebagai bentuk dari keberanian untuk memotong keterikatan terhadap duniawi dan menjauhkan manusia dari kemanusiannya itu sendiri.
“Kurban seharusnya mengingatkan bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa tulus manusia mampu melepaskan,” ucap Zainal.
“Sebab pada akhirnya, dunia tidak kehilangan teknologi, tidak kehilangan kemajuan, dan tidak kehilangan kecerdasan. Dunia hanya perlahan kehilangan manusia-manusia yang ikhlas,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A
























