Tugumalang.id – Art Toys berjudul ‘The Whisperer’ karya Rino Adi Mardika yang dipamerkan dalam sesi pameran Pop Angker sukses mencuri perhatian publik. Karya yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘Sosok’ Pembisik itu terinsipirasi dari cerita horor tentang sosok makhluk astral penunggu Jembatan Cangar.
Kehadiran art toys itu kemudian menjadi relevan dan aktual mengingat belakangan ini terjadi serentetan fenomena memilukan bunuh diri yang sedang viral di Jembatan Cangar, perbatasan Kota Batu – Pacet, Mojokerto. Aksi bunuh diri ini dipercaya juga punya kelindan dengan sosok makhluk astral yang menjadi penunggu kawasan di sana.
Baca Juga: Cerita Horor di Pabrik Jamur Kota Batu dan Kondisinya Kini
Diketahui, Jembatan Cangar memang sudah dikenal menjadi kawasan paling angker sejak lama. Berbagai macam cerita horor berkembang secara turun-temurun hingga kini. Salah satu cerita paling populer memang adalah sosok makhluk astral yang kerap menyesatkan pengendara yang lewat.
Konon, di waktu-waktu tertentu, sosok ini dikatakan kerap mengganggu pengendara entah dengan cara mengetuk kendaraan hingga membisikkan sesuatu. Ada juga yang menyaru sosok manusia penunjuk jalan.
Alih-alih membantu petunjuk arah, hantu ini menunjukkan ilusi optik bagi pengendara mengarah ke tebing atau jurang.
Cerita-cerita horor legendaris inilah yang kemudian menginspirasi Rino Adi, seorang seniman sekaligus penggerak komunitas Lidos Toys di Malang untuk menginterpretasikannya ke dalam medium mainan. Meski menceritakan sosok hantu, medium mainan membuatnya tampak lucu.
Baca Juga: 5 Film Horor Indonesia Angkat Cerita Desa Mulai dari Bunuh Diri Hingga Kesurupan
Rino menjelaskan konsep desain “The Whisperer” lahir dari hasil risetnya melalui berbagai platform digital dan cerita para warga lokal (warlok). Hingga akhirnya ia menemukan benang merah mengenai sosok makhluk astral yang diyakini menghuni hutan dan jembatan Cangar.
“Banyak konten kreator dan cerita warga yang mengulik soal sosok ini. Katanya ada makhluk yang suka menjerumuskan pengendara, membuat jalan terlihat seolah bercabang dua, sosok nenek tua hingga mitos tentang Gerbang Kuntilanak,” kisah Rino pada tugumalang.id.

Beragam kisah tersebut kemudian ia terjemahkan lewat berbagai elemen visual dalam detail art toys berupa sosok wanita berambut panjang yang memiliki banyak mulut. Tak hanya itu, ia juga menambahkan unsur hantu lokal yakni paku yang menancap di kepala.
“Agar terasa lokalitasnya, saya ambil konsep paku di kepala. Selain itu, ada karakter mawar hitam. Elemen ini juga saya ambil merujuk pada temuan mawar hitam di lokasi kejadian viral bunuh diri kemarin. Mawar hitam ini kan dikenal sebagai simbol kematian,” ujarnya.
Jangan Bunuh Diri, Bikin Mainan Aja
Rino menambahkan jika konsep tersebut memang berangkat dari keresahan dan refleksi atas pilihan sikap bunuh diri yang marak belakangan ini. Di balik bentuknya yang artistik dan horor, Rino menekankan bahwa karyanya bukan sekadar visualisasi mahluk halus, melainkan sebuah pengingat akan pentingnya kesehatan mental.

“Kejadian bunuh diri itu sangat menyedihkan. Melalui karya ini, saya ingin berpesan agar kita lebih open-minded. Jika ada masalah, jangan dipendam sendiri. Cari teman mengobrol atau salurkan energi negatif ke hal positif, salah satunya dengan bikin mainan aja, komunitas kami juga terbuka kok,” ujarnya.
Ia pun mengajak anak muda lainnya untuk kembali merenungi kembali keputusan sikap saat dilanda masalah. Dari pada bersedih diri, kata dia, lebih baik belajar membuat mainan atau berbagai macam kegiatan positif lainnya.
Ia sendiri bersama komunitasnya juga terbuka jika ada anak muda lain yang ingin belajar membuat mainan.
Rino sendiri telah menekuni hobi pembuatan mainan sejak 2015 dan mulai fokus melalui Lidos Toys pada tahun 2020. Meski “The Whisperer” adalah karya horor pertamanya dalam bentuk mainan fisik, ia mengaku tertarik untuk terus mengeksplorasi tema-tema horor serupa di masa depan.
Karya “The Whisperer” kini menjadi bukti bagaimana sebuah keresahan sosial dan mitos lokal dapat diramu menjadi karya seni yang tidak hanya bernilai estetis, tetapi juga memiliki kedalaman pesan moral bagi masyarakat luas.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























