Tugumalang.id – Dalam dua bulan terakhir, Gang Mirej Jalan Jalan Ki Ageng Gribig Gang Mirej, Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang tercatat sudah 6 kali terjadi banjir. Kini, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mulai merumuskan solusi penanganan banjir di kawasan tersebut.
Wahyu Hidayat saat melakukan tinjauan langsung di lokasi menyampaikan bahwa aliran air dari wilayah hulu seluruhnya masuk ke Sungai Amprong. Kondisi sungai yang menyempit membuat debit air tidak tertampung optimal hingga meluap di permukiman warga.
“Aliran dari atas masuk ke Sungai Amprong. Di sana ada penyempitan dan sedimentasi tinggi, sehingga terjadi hambatan,” ujarnya.
Baca Juga: Wali Kota Malang Pesankan Asosiasi SPAM Jaga Keberlanjutan Air Bersih Masa Depan

Wahyu memastikan akan segera mengambil kebijakan sebagai solusi penanganan banjir di kawasan tersebut. Mulai dari penanganan jangka pendek hingga jengka panjang.
“Kami akan segera berkoordinasi lintas sektor. Sungai Amprong ini di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, maka diperlukan sinergi dan duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh. Kami akan cari solusi darurat hingga jangka panjang,” tuturnya.
Untuk jangka pendek, pihaknya akan dilakukan pengerukan sungai untuk mengurangi sedimentasi agar aliran air lebih lancar. Sementata solusi jangka panjang, Wahyu akan membangun embung yang berfungsi sebagai tampungan air sekaligus pengendali debit saat terjadi hujan deras di wilayah hulu.
Baca Juga: Wali Kota Malang Pesankan Asosiasi SPAM Jaga Keberlanjutan Air Bersih Masa Depan
“Embung ini nantinya akan menjadi solusi strategis. Saat debit air tinggi, aliran bisa dialihkan dan ditampung sementara, kemudian dilepas kembali setelah kondisi normal,” jelasnya.
Kepala DPUPR-PKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto menambahkan bahwa pihaknya akan melakukan kajian pembangunan embung di wilayah Cemorokandang. Embung tersebut diharapkan mampu menahan aliran air dari kawasan hulu sebelum masuk ke Sungai Amprong. Sehingga risiko banjir di wilayah hilir dapat ditekan.
“Kami akan mengkaji pembangunan embung di wilayah Cemorokandang. Karena posisinya lebih tinggi, harapannya air dari atas bisa tertahan dulu sebelum mengalir ke bawah,” urainya.
Menurutnya, persoalan banjir yang terus berulang ini tidak lepas dari banyaknya pelanggaran di area sempadan sungai. Menurutnya, kawasan yang seharusnya steril dari bangunan justru telah dipadati hunian warga.
“Keberadaan bangunan bangunan ini juga menghambat dalam proses pemeliharaan. Karena untuk pengerukan sungai itu diperlukan alat berat, kalau aksesnya tidak bisa masuk ya tidak mungkin dilakukan,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu warga terdampak banjir di Gang Mirej, Syahrul mengatakan bahwa ketinggian air rata rata mencapai selutut orang dewasa saat banjir melanda. Bahkan, pada Desember 2024 lalu, banjir sempat mencapai sekitar dua meter.
“Akhir akhir ini ya selutut gitu rata rata. Cuma kalau terus terusan, ya bikin kami gerah,” kata dia.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A


















