Jumat, Oktober 16, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Wabah Covid-19 Tak Kunjung Usai, Warga Madiun Gelar Kesenian Dongkrek

Redaksi by Redaksi
September 1, 2021 1:22 pm
in News, Sastra & Budaya
Pertunjukan Dongkrek di dusun Kepel, desa Banjarsari, Kabupaten Madiun pada Selasa malam (31/9/2021)/tugu malang

Pertunjukan Dongkrek di dusun Kepel, desa Banjarsari, Kabupaten Madiun pada Selasa malam (31/9/2021). (Foto: Dokumen/Roni Versal)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Kesenian lama, Dongkrek, dihidupkan kembali oleh warga desa Banjarsari, Kabupaten Madiun. Hal ini sebagai salah satu upaya tradisional untuk mengatasi wabah Covid-19.

Wabah Covid-19 yang belum sepenuhnya hilang membuat warga desa Banjarsari, Kecamatan Madiun menggelar kesenian Dongkrek pada Selasa malam (31/8/2021). Kesenian berupa tarian diiringi musik tersebut diyakini dapat menangkal pagebluk yang tidak kunjung selesai.

READ ALSO

Polres Batu Dipimpin AKBP Panji Gedhe Prabawa Eks Satgas Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah

BAKN RI dan OJK Dorong Pantai CMC Tiga Warna Jadi Pionir Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas

Menurut Agus Suwarni, salah satu warga dusun Kepel, desa Banjarsari, Dongkrek merupakan tradisi nenek moyang orang Madiun terutama di daerah Caruban. Yang mana, kesenian ini dipertunjukkan ketika wabah menyerang warga dan tidak kunjung selesai.

“Mbah-mbahku dulu menggunakan donkrek untuk mengusir roh jahat yang membuat orang sakit,” terang Agus saat menyaksikan pertunjukan Dongkrek di prempatan pasar Kepel.

Pertunjukan Dongkrek tersebut dilakukan oleh beberapa orang. Ada yang berperan sebagai penari dan penabuh alat musik. Dari sisi penari di antaranya memerankan buto kolo, yaitu simbol roh jahat yang menggunakan topeng dengan taring gigi panjang dan rambut gimbal. Peran ini ada sebanyak empat orang.

Berikutnya, dua perempuan tua yang disimbolkan sebagai warga yang lemah, keduanya juga menggunakan topeng perempuan tua dan rambut warna putih. Dan, satu lagi orang tua sakti memegang tongkat. Sosok inilah yang akan mengusir buto kolo.

Sementara dari sisik musik, menggunakan bedug atau kendang yang dapat mengeluarkan bunyi “dung”. Lalu alat musik korek yang terbuat dari kayu berbentuk bujur sangkar, di ujungnya ada tangkai kayu bergerigi yang kalau digesek berbunyi “krek.” Dari bunyi alat musik “dung” dan “krek” inilah nama Dongkrek diambil.

Adapun bentuk pertunjukannya dimulai dari ketika musik dimainkan, buto kolo memasuki arena sambil menari dengan gaya agak sedikit sempoyongan. Disusul oleh perempuan tua yang kemudian dikerumuni oleh buto kolo. Ini berarti menandakan bahwa wabah atau roh jahat sedang menyerang warga.

Pada saat itu, orang tua sakti masuk dengan menari dan memegang tongkat, lalu seketika tongkat diangkat ke atas disertai bunyu “krek” yang bertub-tubu dan sangat keras. Bersamaan dengan bunyi tersebut para buto kolo jatuh tergeletak. Ini berarti bahwa roh jahat telah berhasil dikalahkan.

Pertunjukan kesenian yang sebetulnya hampir punah ini, tidak hanya berhenti di suatu tempat tetapi berkeliling di jalan batas-batas desa yang diawali dari perempatan jalan. Kesenian ini juga dilakukan pada malam hari.

“Dulu kalau Dongkrek mainnya sambil bawa obor, karena kan malam. Kalau sekarang di jalan sudah banyak mapunya tak perlu obor,” papar Agus.

Sementara itu, sejarah Dongkrek sendiri sebagaimana dilansir Wikepedia, lahir pada tahun 1867 di Mejayan, Kawedanan Caruban, Kabupaten Madiun.

Pada awalnya Dongkrek merupakan kesenian untuk mengisahkan perjuangan Raden Ngabei Lo Prawirodipuro dalam mengatasi pageblug mayangkoro. Raden Ngabei Lo adalah Palang, yaitu jabatan setingkat kepala desa.

Pada sekitar tahun 1867-1902 Dongkrek mengalami masa kejayaannya. Namun setelah ini pamor Dongkrek kian menurun, bahkan pada zaman Belanda menguasasi Indonesia sempat dilarang untuk dipertontonkan untuk rakyat.

Reporter : Roni Versal

Editor : Herlianto. A

Tags: DongkrekDongkrek Usir WabahKesenian Dongkrek

Related Posts

AKBP Panji Gedhe Prawaba pimpinan baru Polres Batu saat disambut tradisi pedang pora. Foto: Dok.
News

Polres Batu Dipimpin AKBP Panji Gedhe Prabawa Eks Satgas Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah

Jumat, 16 Okt 2026
Ketua BAKN RI Andreas Eddy Susetyo (kiri) dan Kepala Eksekutif OJK Hasan Fawzi saat meninjau potensi karbon mangrove di Pantai CMC Tiga Warna. Foto: Azmy
News

BAKN RI dan OJK Dorong Pantai CMC Tiga Warna Jadi Pionir Perdagangan Karbon Berbasis Komunitas

Kamis, 15 Okt 2026
Tingkat Pengangguran Terbuka di Kota Batu Melonjak, Didominasi Lulusan SMA
News

Tingkat Pengangguran Terbuka di Kota Batu Melonjak, Didominasi Lulusan SMA

Kamis, 15 Okt 2026
DPRD Kota Malang Dorong Regulasi Penataan Kabel Semrawut
News

DPRD Kota Malang Dorong Regulasi Penataan Kabel Semrawut

Senin, 12 Okt 2026
DPRD Kabupaten Malang Temukan Masalah Penyerahan PSU Perumahan di Pakis
News

DPRD Kabupaten Malang Temukan Masalah Penyerahan PSU Perumahan di Pakis

Senin, 12 Okt 2026
KH Marzuqi Mustamar Mengaku Batal Umrah karena Tak Diizinkan Masuk Arab Saudi
News

KH Marzuqi Mustamar Mengaku Batal Umrah karena Tak Diizinkan Masuk Arab Saudi

Minggu, 11 Okt 2026
Next Post
CEO Paragon, menyampaikan materi di sesi akhir Fellowship Jurnalisme Pendidikan

Salman Subakat: Fellowship Jurnalisme Pendidikan seperti Laboratorium Hidup Kembangkan Dunia Edukasi di Indonesia

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.